Bab 11: Jawaban dari Sebuah Keputusan

38 6 1
                                        

Tepat sudah seminggu Zahra masih di Amerika ia belum kunjung pulang ke Indonesia. Dan malam ini dijakarta hujan sangat deras. Sesuai janjinya, Zaki datang ke rumah Kyai Ali Firdaus seorang diri tanpa ditemani Umi dan Abinya. Zaki akan menjawab keputusannya malma ini kepada pak Kyai.

Sesampainya dirumah Kyai seperti biasanya Zaki disambut ramah oleh keluarga Kyai Ali. Zaki langsung duduk diruang tamu bersama Kyai berserta istrinya, sementara Fatimah pergi kebelakang untuk mengambil mnuman dan cemilan untuk Zaki.

"Tabarakallahu nak Zaki atas kelulusannya, maaf telat mengucapkan dan saya tidak bisa hadir diacara wisuda nak Zaki karena ada keperluan mendadak."ucap Kyai Ali.

"Syukron Kyai. Tidak apa-apa."jawab Zaki.

"Ö hiya, nak Zaki bagaimana dengan Fatimah dan apa jawaban antum untuk perihal lamaran itu.?"tanya pak Kyai.

"Zahra wanita baik dan In syaa Allah shalihah..." Astagirullah Zaki kamu salah sebut nama Ya Allah.

"Zahra siapa nak Zaki?" tanya pak Kya.

"Maaf Kyai maksud saya Fatimah wanita yang baik dan in syaa Allah shalihah.."Kemudian Fatimah datang membawa minuman dan cemilan. Fatimah yang mendengar ucapan Zaki pun tersenyum dan duduk disamping Uminya.

"Dan saya rasa, saya tidak pantas untuk mendampingi Fatimah. Fatimah berhak mendapatkan laki-laki yang lebih baik daripada saya."lanju Zai yang membuat senyuman Fatimah tiba-tiba memudar.

"Maksud nak Zaki apa?"tanya pak Kyai tidak mengerti.

"Mohon maaf sebelumya pak Kyai, saya bukan bermaksud menyakiti hati Fatimah, namun saya tidak bisa menerima lamaran pak Kyai untuk menjadi suami Fatimah. Karena saya telah mencintai gadis lain dan saya sudah menganggap Fatimah iitu seperti adik kandung saya sendiri." Jelas Zaki.

Raut wajah kecewa dari Kyai Ali pun mulai terlihat, beliau sangat kecewa sekali dengan jawaban Zaki namun beliau berusaha menerima jawaban itu karena beliau tidak bisa memaksakan kehendak seseorang. Kemudian beliau pun menghela napas beratnya," Baiklah nak Zaki jika itu sudah menjadi keputusan nak Zaki. Saya terima dan saya tidak akan memaksa."ucap Kyai.

"Sekali lagi saya minta maaf pak Kyai. Kalau begitu saya pamit permisi, Assalamuálaikum."pamit Zaki.

"Waálaikumussalam," jawab mereka semua bersamaan.

Hujan diluar sangat deras. Zaki tetap memaksakan dirinya untuk pulang. Bagaimana pun dia tidak enak jika berlama-lama di sini.

Fatimah belari menghampiri Zaki sembari membawa jas hujan untuknya.

"Kak Zaki!, diluar masih hujan deras kak." Teriak Fatimah.

"Tidak apa-apa Fatimah. Lagipula saya tidak mau merepotkan Kyai."balas Zaki.

Fatimah pun menyodorkan jas hujan kepada Zaki,"Pakai jas hujannya kak, biar kakak ga basah kuyup."

Zaki pun menerima jas hujan dari Fatimah. Zaki yang melihat mata gadis itu berkaca-kaca dan dia merasa bersalah kepadanya.

Zaki pun mengela nafas sejenak,Maafkan saya Fatimah. Saya yakin kamu wanita baik, In Syaa Allah kamu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik daripada saya."ücap Zaki

Air mata Fatimah menetes seketika, kemudia dia langsung mengahapus air matanya dengan punggung tangannya.

"Tidak apa-apa kak, lagipula kakak berhak menentukan pilihan kakak sendiri. Semoga kakak berjodoh dengan gadis pilihan kakak. Aamiin."ucap Fatima.

"Aamiin... oh ya, Fatimah kamu sudah saya anggap sebagai adik kandung saya sendiri. Jadi kalau kamu butuh bantuan saya jangan sungkan untuk meminta bantuan saya." Kata Zaki.

Takdir From Allah (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang