Bab 18: Pengajian

11 6 0
                                    

Seperti biasanya Zahra terbangun untuk melaksanakan shalat tahajud.
Ia pun beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke untuk mengambil wudhu.

Setelah selesai mengambil wudhu Zahra pun langsung melaksanakan shalat tahajud dan istikharah meminta petunjuk untuk kelancaran pernikahannya esok dengan zaki. Setelah melaksanakan shalat Zahra seperti biasanya tak lupa untuk mengaji dan melaksanakan hafalannya. Meskipun pernikahannya esok namun Zahra terlihat biasa saja seperti tidak ada rasa gugup dan gelisah sedikit pun dihati atau pikirannya. Karena Zahra yakin dengan adanya niat baik ini Allah akan lancarkan semuanya.

Tepat pukul 06.00 AM, Zahra pun keluar dari kamarnya untuk membantu Uminya memasak didapur. Zahra pun menuruni anak tangga dan langsung menghampiri Uminya yang sedang ada di dapur.

"Assalamu'alaikum, Shobahul Khoir Umi?"ucap Zahra sembari mencium pipi Uminya.

"Wa'alaikumussalam sayang, shobahulnur anak umi yang paling cantik ini," jawab Umi sembari membalas ciuman di kening anaknya.

"Zah bantu Umi masak yah,"ucap Zahra sembari mengambil celemek yang digantung di dekat lemari.

"Boleh sayang, ehemmm cieee  yang besok mau nikah cerah banget wajahnya,"ledek Umi

"Ihhh apa sih Mii, gak boleh gitu loh sama anaknya sendiri ngeledek gitu dosa tau Mi,"jawab Zahra sembari mencubit lengan Uminya.

"Umi serius sayang, wajah kamu kelihatan cerah dan ceria. cerah bersinar dari sebelumnya. Dan memang begitu sayang kalau orang yang menikah itu wajahnya pasti berbeda . lebih kelihatan aura nya. Tapi jujur sih Umi masih sedih dan belum rela jauh dari anak Umi yang cantik ini."

"Aaaaahhh Umi bikin Zah sedih nih. Tapi kan untuk sementara ini Zah bakal tinggal disini dulu ko. Lagian Zah juga udah sepakat sama Zaki untuk tinggal disini dulu sbelum Zah dan Zaki dapat rumah yang sesuai dengan keinginan Zah sama Zaki Mi, "ucap Zahra sembari memeluk Uminya dan pelukannya pun dibalas oleh Uminya.

"Kita masak yuk Mi, daripada mellow-mellowan gini kaya anak kecil minta jajan, hehehe," ucap Zahra sembari memotong-motong daging untuk sop daging

"Iyah sayangnya Umi yang bawel ini,"

"Oh iya Mi, Zah lagi pingin beli buku nih Mi. Umi bisa temenin Zah ke toko buku sekalian kita beli makanan buat pengajian nanti,"

"Boleh sayang, nanti Umi antar yah,"

"Oke Umiku sayang,"

Zahra dan Uminya pun kembali melanjutkan masak untuk sarapan. tak lama kemudian masakan mereka pun sudah matang dan siap disajikan diatas meja makan. Zahra pun langsung menata masakannya diatas meja, sedangkan Umi memanggil Abi dan Maryam untuk sarapan bersama.

***Ruang Makan***

"Oh iya Mi nanti pas pengajian kita undang anak-anak panti juga yah Mi," Ucap Abi Furqan.

"Tentu Bi, nanti Umi akan hubungi Ibu panti untuk datang bersama anak-anak panti kesini,"jawab Umi.

"Zahra?"Panggil Abi.

"Iyah Bi, ada apa?"jawab Zahra.

"Abi cuma mau titip pesan buat kamu, jika kamu sudah menjadi seorang istri, Abi mau kamu bisa menjaga hati kamu dan sumi kamu. kalau ada masalah selesaikan baik-baik jangan saling egois apalagi pkai amarah atau emosi. ingat. dan kamu harus bisa mendengarkan apa yang suami kamu katakan jika itu masih kearah positif, karena kamu harus bisa menjadi istri yang sholehah, berbakti kepada suami kamu. karena nanti surga kamu bukan lagi di Umi dan Abi tapi surga itu sudah pindah ke suami kamu. tapi ingat kamu juga harus bisa berbakti kepada orang tua juga jangan sampai lupakan orang tua. ingat yah pesan Abi,"jelas Abi.

Takdir From Allah (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang