"Ketika hatimu terlalu berharap pada seseorang, maka Allah timpakan ke atasmu betapa pedihnya pengharapan agar kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui orang yang berharap selain kepada-Nya, Allah menghalangi dari perkara tersebu semata agar ia kembali berharap kepada Allah subhanahu Wa Ta'ala" (Imam Syafií).
Mobil kak Sandipun berhenti tepat di depan gerbang rumahku, satpam yang mendengarkan klakson mobil kak Sandi pun membukakan gerbang rumah dan mobil kak Sandi pun masuk kehalaman depan rumahku.
Kak Sandi pun keluar terlebih dahulu kemudian ia berdiri di depan pintu mobil tempat aku duduk dan ia pun membukakan pintu mobil sembari tersenyum. Aku pun keluar dari mobilnya dan membalas senyumannya.
Kak Sandi berjalan beriringan deganku untuk masuk ke dalam rumah. Baru saja mau masuk ke rumah tiba-tiba pintu rumah pun terbuka dan ternyata itu Umi dan Maryam yang daritadi telah berdiri di depan pintu rumah.
Aku pun menyalami Umi,"Assalamuálaikum, Umi,"
"Wa'laikumussalam,"balas Umi.
"Assalmuálaikum Tante,"salam kak Sandi kepada Umi sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Wa'alaikumussalam. Syukron nak Sandi sudah mengantarkan Zahra pulang,"ucap Umi .
"Sama-sama tante, kalau begitu saya pamit dulu,"ucap kak Sandi.
"Gak akan mampir dulu kerumah?"ucap Umi.
"Maaf tante saya masih ada urusan diluar, lain waktu saya main kerumah, mari tante Assalamu'alaikum,"ucapnya lagi.
"Wa'alaikumussalam. Hati-hato dijalannya Sandi,"ucap Umi.
"In syaa Allah tante,"balasnya.
Setelah kepergian kak Sandi, aku pun masuk kedalam namun Umi mengajakku ke taman belakang rumah. Sementara Maryam dia langsung pergi ke kamarnya.
Ada pa yah kira-kira Umi nyuruh aku kesini.
"Zahra sayang... sini nak,"panggil Umi.
Aku pun menghampiri Umi dan duduk disamping Umi. Umi mengeluarkan 2 kotak hadiah entah apa isinya. Tapi sapa yang ulang tahun yah padahal aku gak ulang tahun sekarang.
"Ini apa Mi? Zah kan gak ulang tahun" ucapku.
"Buka ajah sayang, itu buat kamu,"balas Umi
Aku pun membuka kotak itu dan ternyata kotak itu berisikan gaun pernikahan dan juga cicin putih yang berhiaskan mutiara.
"Ini buat siapa Umi?" tanyaku
"buat kamu,"jawab Umi sambil tersenyum.
"Buat Zah?"ucapku tak percaya. Umi hanya membalas dengan anggukan kepala. Dari siapa Umi?"tanyaku lagi.
"Dari Sandi. Katanya dia ingin melihat kamu pakai gaun ini dhari pernikahan nanti dan memekai cincin itu sebagai tanda bahwa kamu sudah menjadi calon istri Sandi."jawab Umi.
"Tapi kan pernikahan Zah sama kak Fatih masih lama Umi,"ucapku.
"Umi lupa memberi tahu kamu, kalau pernikahan kamu di majukan menjadi minggu depan sayang, ini kemauan dari keluarga Fatih." Balas Umi. Aku pun terdiam, "Oh ya, mana tangan kamu sayang. Biar Umi yang pakaikan cincinnya,"ucap Umi.
Aku pun mengulurkan tangan kiriku. Kemudian Umi memasangkan cincin itu di jari manisku. "MasyaAllah... cinicnnya terlihat sangat cantik di jari manis kamu sayang,"puji Umi. Aku membalasnya dengan senyuman.
"Umi mengelus puncak kepalaku sembari memelukku,"Sayang, Umi tahu kamu belum mencintai Sandi sepenuhnya. Tapi percayalah Allah maha membolak-balikkan hati manusia. Berbahagialah jika kamu berjodoh dengan orang yang selalu menyebut namamu di dalam doaánya, itu tadanya dia memperjuangkanmu melalui Allah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir From Allah (Revisi)
Short Story《DIHARAPKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA 》⚠️Dilarang berkomentar menggunakan bahasa yang kasar ⚠️Awas Baper | ⚠️ Romance-Reality | Cerita ini menceritakan tentang seorang perempuan yang terlalu berharap kepada ciptaan Allah sehingga ia se...
