2

120 16 0
                                    

Hari ini Petra menggunakan pakaian sipil alih-alih seragamnya. Dia menuruni anak tangga dengan langkah yang dihentak-hentakkan. Seluruh ruangan menjadi berisik karena langkah kaki Petra.

"Oi, Petra! Ada apa denganmu hari ini? Berisik sekali. Merusak pendengaranku.", keluh Oruo yang sedang mengelap sepatunya.

Namun Petra tak mempedulikan Oruo. Dia mengambil sepatu flatnya yang ada disamping Oruo. Dia terkejut melihat Petra yang tidak menggunakan seragam.

"Hei tunggu sebentar! Kau mau kemana?"

"Bukan urusanmu.", jawab Petra dengan nada dingin membuat Oruo terkejut sendiri.

Eld dan Gunther yang baru saja memasuki barak juga ikut terkejut dengan penampilan Petra.

"Jangan tanya padaku aku mau kemana!"

Belum sempat mereka bertanya, Petra sudah memberinya peringatan. Seolah-olah Petra tahu apa yang ditanyakan mereka berdua. Alhasil Eld dan Gunther diam saja melihat Petra yang mengambil perlengkapannya.

"Aku ada urusan. Katakan ini pada kapten nanti."

Namun saat dia akan mengambil kudanya, kapten Levi ada disana berdiri bersandar sambil menatapnya tajam.

Petra menyeringai kecil dan justru berjalan dengan percaya diri mengambil kudanya, berpura-pura seakan kapten Levi tak ada disana. Jadi dia berjalan melewatinya.

"Aku tahu kau punya mata yang normal untuk bisa melihatku."

"Oh, aku mendengar suara namun tak ada wujudnya. Maafkan aku heichou, kau pendek jadi aku tak bisa melihatmu."

Levi cukup terkejut atas balasan Petra. Biasanya gadis itu akan berbicara dengan tutur kata yang lembut, namun hari ini seolah berubah total.

"Mau kemana?"

"Kemana saja yang penting aku senang."

"Tch!"

Levi langsung menghalangi Petra beserta kudanya.

"Apa kau mulai berani padaku?"

"Oh jelas saja aku berani. Mengapa aku harus takut? Memang heichou siapa? Hanya bermodal kata-kata kasar dan main fisik lalu aku harus takut? Begitu?"

"Aku sudah cukup bersikap lembut padamu, namun kau yang memancingku!"

"Siapa juga yang menyuruh heichou untuk bersikap lembut padaku? Bukan aku."

"Kalau kau pergi untuk seleksi, aku tak akan menyetujuinya. Kembali kedalam dan bersiap latihan!"

"Tidak mau!"

"Kembali!"

"Tidak mau wlee.", Petra memeletkan lidahnya, bermaksud mengejek Levi habis-habisan.

Memang itu tujuannya. Dia harus membuat Levi benci padanya bagaimanapun caranya. Meski nanti Levi berakhir memukulnya atau bahkan memotong kaki tangannya.

"Petra!", Levi berteriak padanya.

"Apa?", balas Petra yang juga berteriak tak kalah kerasnya.

"Jangan membuatku marah padamu! Tak enak jika dilihat oleh teman-temanmu!"

"Biarkan saja. Mau heichou memukul atau membunuhku sekalipun, lakukan saja. Biarkan mereka menjadi saksi atas kekejaman heichou pada wanita!"

"Maka aku tak akan segan-segan membunuhmu!"

"Silahkan saja! Cari pisau atau tombak disini, ada banyak. Lalu bunuhlah aku! Maka ketika aku mati, arwahku tak akan berhenti untuk menghantuimu!"

Damn.

The Dream • RivetraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang