03. Intertwining, Knitting

871 122 3
                                        

"Monster itu tidak ada." — adalah kalimat yang pernah dikuapkan oleh sang ayah dulu sekali, hampir terlupakan, namun terdengar begitu yakin. "Tidak perlu takut, Nak."

Saat masih berusia enam tahun, Jian yakin sekali kalau ada monster berkepala beruang, bertubuh kuda, berekor kelinci, dan memiliki sebuah tanduk unicorn yang bersembunyi di dalam lemari bajunya. Monsternya bernama Grenim, berusia lima tahun, bersuara berat, tidak memiliki ibu dan ayah, serta kerap menyenandungkan lagu pengantar tidur tatkala Jian tak bisa terlelap

Sayangnya, ketika si gadis bertanya darimana Grenim berasal, ia tidak memberikan jawaban apa-apa. Barangkali tak ingin ada yang tahu, barangkali juga karena rumah mengingatkannya pada hal-hal buruk yang ingin dilupakan. Bahkan ketika si gadis cilik menyanggah dan mengatakan bahwa Grenim memang ada, ayahnya hanya mengembuskan napas pendek, menukas tegas, "Tidak, Jian. Kau sudah membuat kesalahan, Nak. Sama halnya seperti iblis, malaikat, atau Tuhan—monster itu tidak ada."

Menarik napas, membuka kedua matanya dengan perlahan, si gadis lantas dapat merasakan bahu serta pinggangnya terasa nyeri bukan kepalang. Realita berbisik lirih, meninggalkan kepingan mimpi untuk kembali melebur ke dalam alam bawah sadar. Pelipis setengah berkedut pening, namun tubuhnya jelas terasa sedikit lebih membaik daripada selama perjalanan di dalam kereta. Kesadaran bahkan seolah merangkak dengan lambat ketika ia menyadari bahwa langit-langit ruangan tak terlihat sebagaimana kamarnya di rumah. Ah, benar, ia mendesah. Ini Busan, bukan Seoul.

Namun mendadak mengingat Jungkook, apa dia sudah tidur, ya? Beberapa jam yang lalu setelah sukses menggasak habis semangkuk sup ayam dengan kue bola berisi ayam serta sayuran yang dikukus hangat, pria tersebut nyatanya sungguh sudah memesan dua kamar di hotel terdekat. Ia mengantarkan Jian dengan wajah sedikit memerah, entah karena cuaca dingin atau karena itu merupakan pertama kalinya ia bermalam dengan seorang gadis di sebuah kamar hotel kendati terpisah.

"Iya, Kak. Aku sudah bersama dengan Song Jian. Ibu juga tadi sempat menelepon."

Jungkook, ya? Menggeliat, separuh terkejut, Jian buru-buru memalingkan wajah. Kedua netranya terbuka dalam hitungan detik, jantungnya berdetak begitu cepat sementara cahaya balkon kamar hotel terlihat berpendar melewati jendela yang celahnya sedikit terbuka. Ya ampun, itu sungguhan Jungkook? Melirik jam dinding yang menunjuk nyalang pada angka dua pagi, Jian memiringkan kepala tak mengerti. Mengapa dia ada di sini? Berbicara dengan siapa? Kakak? Keluarga? Tapi bukannya tadi sudah kembali ke dalam kamar masing-masing?

Nyaris beranjak bangkit, berjalan menghampiri guna bertanya apakah semuanya baik-baik saja, Jian mendadak mematung saat suara sang pria kembali bergema samar ke dalam ruangan, "Jian itu seperti bayi," katanya. tersenyum tipis membayangkan seraut wajah dengan pipi memerah terjatuh dikalahkan penat, Jungkook kembali menukas yakin, "Setelah menggasak sup ayam, kue bola, kekenyangan, dan membersihkan diri serta sepenuhnya hangat, dia langsung jatuh tertidur."

Jian mematung sementara Jungkook lantas terdengar tertawa pelan, mendengarkan lawan bicaranya mengatakan sesuatu sebelum melanjutkan lagi, "Tidak, kok. Tidak terkena demam. Tadi pipinya dingin dan wajahnya pucat, tapi sekarang sudah baik-baik saja. Aku akan kembali ke kamarku sebentar lagi."

Ah, harusnya ia tetap terlelap saja. Harusnya ia tidak menguping saja. Sebab kalau tahu Jungkook baru saja berkata bahwa calon istrinya seperti bayi, Jian mendadak ingin menggali lubang guna mengubur diri sendiri. Menggigit bibir menahan malu, gadis itu bisa merasakan wajahnya memanas, menahan jeritan internal yang meradang mati-matian. Bagus sekali! Memalukan! Harusnya ia tetap terjaga selama beberapa menit untuk berbicara. Bukannya langsung kolaps begitu saja.

Tetapi di balkon sana, sedetik kemudian Jian bisa mendengarkan calon suaminya kembali berbicara—kali ini gugup, terdengar malu dan canggung, "I-iya, sih. Tapi kan memang belum menikah, Kak. Belum resmi. Belum boleh." Ia menjeda, sedikit menggerutu. "Aku juga sebenarnya ingin tidur satu ranjang. Hangat, tidak sendirian pula. Tetapi nanti kalau kelepasan, bagaimana?"

SomersaultTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang