Prologue

361 19 7
                                        

Busan yang terlelap. 11 April. Waktunya seperti berhenti berdetak.

Terkadang, Jian merasa bahwa Tuhan—atau dewa—atau apa saja yang mengatur semesta serta segala macam isinya, tengah mencoba menggelindingkan sebuah bola batu raksasa di atas permukaan dunia. Tidak, bukan untuk mencapai tujuan agung nan mulia atau semacamnya, tetapi sekadar ingin tahu saja bagaimana manusia mampu bertahan setelah digerus dan digilas. Kau tahu, menyerupai acara TV membosankan di akhir pekan; kamu melihatnya semata-mata karena ingin tahu siapa yang bisa bertahan hidup. Kemudian pada malam-malam seperti ini tatkala ia terjaga, telapak tangan terasa sedingin serpihan salju, Jian mampu merasakan betapa hebatnya getaran bola batu tersebut.

Gambar wajah-wajah lama, momen-momen yang terukir dalam waktu, dan gema tawa bercampur dengan udara malam yang sejuk. Kehangatan musim panas yang telah berlalu, rasa sakit musim dingin yang hilang, lalu sengatan tajam kata-kata yang tak terucapkan terjalin menjadi satu. Malam tak pernah menghakimi kenangan yang digalinya; namun guncangan serta gaduhnya isi kepala sudah cukup untuk mengoyak kepala-kepala yang merana.

"Kenapa belum terlelap?" Jungkook berbisik. Suaranya serak, pipinya hangat, ditempelkan pada ceruk leher sang lawan sebelum bibirnya—secara kurang ajar dan tak sopan—mengecup setiap sudut yang bisa ditemukan. "Padahal tak perlu rindu, suamimu 'kan ada di sini."

Percaya dirinya juga sungguh luar biasa.

Jian mendengkus samar. Perempuan tersebut masih memunggungi si pria, pipinya merekah merah muda saat mendesis, "Apa, sih? Jangan cium-cium."

"Lalu maunya apa? Sayang-sayang?" Ia terkekeh-kekeh jahil. "Sama saja dong. Kalau cium saja, kamu masih mengenakan pakaian. Tapi kalau sudah sayang-sayang, nanti bajunya tahu-tahu hilang."

Membalikkan badan, menatap pria yang memandang balik dengan ekspresi puas tersemat di wajahnya—Jungkook terlihat bak ia baru saja memenangkan medali emas—Jian menggelengkan kepala setengah merasa geli. "Kamu benar-benar tak tahu malu. Bukannya kamu seharusnya bersikap seperti ... entahlah, pria keren?"

"Kamu tidak berpikir aku keren?"

"Aku 'kan tidak bilang begitu."

Jungkook cekatan menyelipkan jemarinya di bawah permukaan pakaian sang wanita, sepasang netra rusa tersebut berkilat-kilat ingin menggoda. "Memang tidak. Tapi kamu mengimplikasikan begitu. Jangan berpura-pura tak tahu, dong," ia menjeda, jemarinya merangkak naik, mengusap perut, lalu kembali mendaratkan bibir—satu per satu ciuman menghiasi leher dan Jian mengembuskan napas pendek. "Nyonya Asosiasi 'kan bukan gadis polos yang baru dilahirkan tempo hari."

Memang bukan, pikirnya. Jian tahu itu.

Selama beberapa saat, perempuan tersebut membiarkan ketenangan mengisi ruangan. Semuanya masih baik-baik saja, ia meyakinkan diri sendiri. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Ranjang masih hangat, Jungkook masih berada di sini. Takkan ada siapa pun yang bisa melukainya di sini. Kendati demikian, kulit tangan, bahu, serta lengannya tetap terasa membeku.

Acapkali Jian membayangkan skenario yang tak akan pernah terjadi. Bagaimana jika Mama tak pernah memintanya untuk menikahi Jeon Jungkook? Bagaimana jika saat itu, alih-alih melawan, ia memilih untuk melarikan diri saja? Namun yang sedemikian rupa merupakan resep ampuh untuk membuat hati sendiri merana sebab mendambakan ketidakmungkinan adalah yang paling sia-sia.

Seolah ia tengah menyentuh sebuah boneka yang bisa saja terpecah menjadi beberapa bagian, Jungkook berbisik lirih, mengeratkan dekapan, "Jian? Kamu baik-baik saja?"

Ia memandang pria tersebut dengan sepasang mata sayu karena letih. Entah karena degup jantung yang tak kunjung berubah normal, atau karena ia merindukan tidur lelap dimana kegelisahan tak datang bersua. "Aku bermimpi aneh," Jian memulai. "Hutannya pekat, serigalanya berburu dalam kelompok. Mungkin jumlahnya ada empat, lima, aku tak yakin. Beberapa dari mereka setinggi pohon pinus, bergerak cepat sekali, lalu aku merangkak, melarikan diri karena hatiku terlalu takut untuk menghadapi mereka semua."

Sepasang mata sang lawan memandangnya hangat—kelewat hangat sampai-sampai rasanya sesak. "Takut mereka akan memangsamu?"

"Takut aku akan mati," ia menyahut.

"Kamu tidak akan mati, Ji."

"Aku memang tidak ingin mati."

Untuk ukuran seseorang yang kerap berbicara bahwa ia tak mencintai kehidupan, terkadang Jian justru merasa ia terlalu bergantung setengah mati pada kehidupan itu sendiri.

Kali ini si gadis perlahan menggerakkan lengannya melingkari pinggang Jungkook. Wajah disembunyikan pada dada bidang tersebut, menghirup aroma si pria bak ia tengah mencari-cari kehangatan, kenyamanan, rasa aman yang melingkupi kulit dingin. "Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah aku mati. Kurasa tidak ada seorang pun di dunia ini ingin menyentuh ajal jika mereka memiliki pilihan untuk tetap bertahan hidup."

"Memang benar."

"Kepalaku bising sekali, Jeon."

Jungkook mengembuskan napas pendek. Ia mengecup puncak kepala perempuannya, dahinya, pipinya, tangan pria yang satu itu sibuk mengusap-usap punggung. Selama beberapa sekon, Jungkook juga tak mengatakan apa-apa. Jungkook tahu Jian tak membutuhkan solusi, ia hanya ingin didengar. Sebab pada saat-saat seperti sekarang, cenderungnya, aksi lebih mudah diterima daripada sekadar deret kalimat.

"Zaman sudah banyak berubah, tapi kenapa peneliti belum menemukan alat untuk memindahkan beban kepala satu manusia ke dalam kepala manusia yang lain, ya?" ujarnya ingin tahu. Saat Jian mendengkus menahan tawa, Jungkook tersenyum tipis. "Kalau bisa, aku ingin mengambil semua hal yang membuat kamu cemas, kupindahkan ke dalam kepalaku. Jadi kamu hanya perlu tertidur dengan lelap, bangun pagi-pagi dengan cengiran lucu, lalu meminta dibuatkan bubur ayam sambil bersungut-sungut."

Jian tertawa pelan. "Aku tidak pernah meminta bubur sambil bersungut-sungut, tahu."

"Pernah, tapi kamu terlalu sibuk merasa sebal, jadi kamu tak tahu." Jungkook menempelkan dagunya pada puncak kepala Jian, dekapan yang dibagi di balik selembar selimut hangat tersebut terasa seperti derak api di perapian tatkala musim dingin berlangsung. "Terkadang, Ji, kamu hanya perlu memusatkan perhatian pada apa yang terjadi saat ini. Bukan hari esok, bukan dua hari yang akan datang lagi."

Jian memejamkan mata, mendesah pendek. "Mudah berbicara begitu."

"Memang mudah, makanya aku asal berbicara saja," ia terkekeh pelan. Tetapi Jungkook tahu segera melanjutkan, "Tapi, serius. Memikirkan yang belum terjadi itu hanya akan membuatmu kelelahan."

Jian mengangguk, bibirnya melengkung membentuk satu hela napas pendek. Tentu saja, Jungkook tak keliru. Bahkan kalau boleh mengatakan sebuah kejujuran, sebetulnya belakangan pria jahil yang satu ini memang sering benar. Jian terkadang kesal karena kata-katanya dilesatkan keluar begitu saja seolah menyerah pada ketidakpastian hari esok semudah membalik telapak tangan.

Tidak ada gunanya mengkhawatirkan masa depan, iya, tentu. Yang bisa kamu lakukan hanyalah melakukan yang terbaik hari ini.

Mengulang-ulang kalimat tersebut seperti mantra dalam benak, membiarkan mereka meresap ke dalam celah-celah kepala, Jian mendongak memandang Jungkook. Ia ingin mempercayainya, sungguh. Namun, beban kemungkinan itu terus menghantuinya seperti gelombang pasang yang tak henti-hentinya. Bagaimana jika 'yang terbaik' hari ini tidak cukup? Bagaimana jika semua usahanya gagal mengubah arah masa depan? Bukankah kekhawatiranlah yang membuatnya tetap waspada, yang memaksanya untuk mengantisipasi liku-liku? Tanpa itu, bagaimana ia bisa melindungi bagian-bagian rapuh dari kehidupan yang telah mereka bangun?

Jian mengeratkan cekalan pada pakaian si pria. "Jeon?"

"Apa, Sayang?"

"Lepas bajumu."

Selama sepersekian detik, Jungkook membeku. Segaris rona merah mewarnai pipi, melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul dua pagi. Pura-pura mendesah berat seolah Jian baru saja meminta agar ia memindahkan sebuah danau, Jungkook mulai melepaskan satu per satu kancing pakaian. Ya ampun, Jian. Dalam waktu dekat ini, kamu sepertinya bakal membuatku terkena serangan jantung. []

SomersaultTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang