07. Lousy Prognostic

695 99 5
                                        

Mengingat keluarga calon suaminya merupakan pemilik perkebunan terluas di desa serta memegang peran krusial sebagai penopang perekonomian setempat, Jian harusnya sudah mempersiapkan diri bahwa rumah yang hendak ia kunjungi akan terlihat luar biasa memesona. Jungkook barangkali memang bersikap biasa-biasa saja.

Pria itu jelas tak terlihat gemar menghambur-hamburkan uang, caranya berbicara malah mengindikasikan bahwa bisnis yang keluarganya tekuni tidak sebesar apa yang Jian pikirkan. Namun melihatnya dengan kedua mata sendiri, rumah besar yang tergabung menjadi satu kesatuan tersebut tetap membuat Jian mendadak jadi meneguk saliva kaku. Lalu hanya dengan hal tersebut, tanpa bisa dicegah, keraguan sontak menghantam dengan satu gelitik pahit: Jian merasa ia tidak seharusnya berada di sini.

Rasanya seperti menghadiri puncak acara festival kampus. Semua orang menanti, beberapa diisi kuriositas, wajah-wajah asing mengisi pandangan, lalu Jian bisa merasakan lututnya bergetar. Mengulum senyum tipis menahan canggung, gadis itu yakin dia ingin melarikan diri dan pergi. Tetapi di sisinya, menepuk punggung seolah menguatkan, Jian bisa mendengar Jungkook berbisik, "Tidak apa-apa," katanya. Tersenyum jahil saat sang calon istri memandangnya setengah sebal, Jungkook malah menambahkan lucu, "Semua orang di sini baik. Tidak akan menggigit. Yang menggigit kamu pun mungkin cuma aku."

Ah, dasar pria ini.

Namun nyatanya, perkenalan serta keramahan yang ditawarkan padanya memang tidak sekikuk atau semenakutkan seperti yang Jian duga. Kedua orangtua Jungkook masih terlihat sama seperti yang si gadis ingat tatkala bertemu terakhir kali di Seoul. Nyonya Suji yang terlihat hangat selayaknya nyala damar terakhir di penghujung musim dingin, serta Tuan Minsu yang masih terlihat ... well, sebagaimana adanya sosok Jeon Minsu. Bagaimana caranya mendeskripsikan pria itu? Jian menahan napas. Beliau sungguh terlihat seperti sebongkah batu yang bahkan takkan pernah bisa dikikis air.

Namun seolah belum habis keterkejutan si gadis karena interior rumah, Jian sudah merasakan beban lain dijatuhkan di atas kepala ketika menemukan deret makanan yang terhidang di atas meja panjang di bangunan pertama. Aroma yang memenuhi ruangan sungguh menggelitik hidung. Kehangatan rumah seolah merengkuhnya rapat dengan erat. Jian berulang kali mengucapkan "terima kasih" saat Suji mempersilakannya untuk duduk, terlihat bersemangat, lalu bertanya bagaimana perjalannnya, apakah ia masih merasa tak enak badan, sampai apakah Jungkook memperlakukannya dengan baik.

Menyenggol lengan Jungkook diam-diam saat Suji tak memperhatikan, Jian berbisik panik, "Kenapa tidak bilang kalau semua orang akan mempersiapkan sesuatu semacam ini? Aku bahkan tidak membawa apa-apa, Jung."

Untuk sekilas di sana, Jungkook juga terlihat tak nyaman. Akan tetapi dengan cepat menghapus ekspresinya, si pemuda menyahut gesit, "Ibu menyukai kejutan." Jungkook tersenyum manis. "Jangan terlalu dipikirkan. Anggap saja sebagai sebuah pesta penyambutan."

"Untukku?"

"Iya, dong. Kamu yang akan menjadi istriku, bukan?"

Ah, tidak terasa benar sama sekali. Kenapa, ya? Kendati semua orang memandangnya seraya tersenyum, percakapan dilontarkan ringan, mengapa dadanya bergemuruh tak nyaman? Ini semua untuknya. Dibuat demi menyambut dirinya. Sekelumit perasaan gelisah sontak merangsek selayaknya insting liar: apa ini memang sudah biasa terjadi di Keluarga Jeon atau sengaja terjadi karena sudah direncanakan? Kalau direncanakan, mengapa sampai sedemikian rupa? Padahal Jian yakin dirinya juga tidak berasal dari keluarga kaya-raya yang harus diperlakukan sedemikian rupa.

Jadi ... apa alasan yang sebenarnya?

"Jadi Kak Jungoo akan menikahi gadis ini?"

Dari seberang meja makan, Kanna sontak memalingkan wajah mendengar apa yang Haru katakan. Ekspresi bocah perempuan itu ditekuk masam. Ikatan rambutnya seolah jatuh lunglai melengkapi ekspresi yang sudah kelewat muram. Daging asap di atas piring seakan-akan berubah hambar. Melirik bocah perempuan itu tak habis pikir, Kanna balas bergumam, "Jaga cara bicaramu, Haru. Kalau ibumu dengar, bisa dilumat sampai habis kau ini."

SomersaultTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang