JUNA 5 | Rahasia

40 25 11
                                        

Ara memasuki gerbang rumahnya lalu melepas sepatu putihnya yang kemudian ia letakkan di rak sepatu. Gadis itu kemudian mengambil kunci yang di letakkan di bawah keset di depan pintu. Sudah pasti kakanya yang menaruhnya disitu.

Pandangannya mengelilingi setiap sudut rumah itu, sepi tak ada orang lain selain dirinya. Ia kemudian melangkah menuju soffa diruangan tengah dan menyandarkan punggungnya. Ia menarik nafas dalam-dalam, matanya terpejam mencoba merehatkan badannya sejenak.

"Ka Arkan pulang sore. Gue sendiri lagi" gumam Ara.

Gadis itu memang sudah lama akrab dengan yang namanya sepi, sampai-sampai kesepian sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dia tak menyukai keramaian, ia hanya butuh kesunyian untuk sebuah ketenangan.

Ara hanya tinggal berdua saja dengan kakanya "Arka Geran Mahendra" biasa ia panggil Ka Arka. Kakanya itu tidak bisa menemani dirinya sepanjang hari, itu karena ia harus mengurus bisnis kuliner peninggalan kedua orang tua mereka. Tak hanya satu, melainkan tiga tempat yang harus Arka kelola.

Ara tidak pernah menuntut apapun pada kakanya, ia memahami bahwa tanggung jawab Arka berat sebab harus menggantikan kedua orang tuanya untuk merawat dan menjaga Ara. Terkadang, ia merasa kasihan saat kakanya pulang dengan wajah yang lelah karena bekerja setiap hari. Baginya, Arka bukan hanya sosok kaka melainkan ayah sekaligus bodyguard yang siap untuk selalu menjaga dirinya kapan pun.

"Non, Ara. Kalau mau makan, makanannya ada di meja ya. Bibi mau pulang dulu" suara itu mengejutkan Ara, membuatnya terbangun dan menatap ke arah Bi Eti. Ya, dirumah Ara memang ada satu pembantu untuk memasak dan membersihkan rumahnya. Jika pekerjaannya sudah selesai, maka Bi Eti akan pulang kerumahnya yang tidak jauh dari rumah Ara.

"Iyaa bi. Makasih" jawabnya tersenyum.

Gadis itu kemudian naik ke lantai menuju kamarnya, setelah sampai di pintu bertuliskan "AREA ARA". Ia lalu membuka pintu, kamar dengan warna putih dan ranjang king size nya selalu menjadi tempat paling nyaman bagi dirinya.

Ara meletakkan tasnya di meja belajar miliknya lalu mengambil pakaian dari dalam lemarinya untuk berganti. Setelah berganti pakaian Ara kemudian memutuskan untuk beristirahat di atas ranjangnya, merehatkan penatnya. Matanya menatap lekat langit-langit kamarnya sebelum netra gadis itu terpejam di bawah sadarnya.

••°°○○°°••

Juna memasuki rumahnya setelah ia memarkirkan motornya di dalam garasi, suasana rumahnya sepi, ia hanya tinggal bersama Papahnya, Rendy Bagaskara Kepala Sekolah SMA Galaksi.

Kadang ia merasa ingin tinggal disekolah saja jika bisa, bersama dengan teman dan juga kehangatan yang bisa ia dapat. Tidak seperti saat ia pulang, kesepian itu akan kembali menyerang.

Langkahnya langsung menuju ke kamar yang ada dilantai dua, rasanya ia ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya disana. Kamar dengan dominasi hitam, dan banyak foto-foto absurd tak jelas serba hitam juga. Mungkin supaya kamarnya terlihat ramai dan tidak terlalu sepi.

Juna melemparkan tas di punggungnya ke tengah ranjang berwarna hitam motif garis itu dan langsung merebahkan seluruh tubuhnya, seragamnya bahkan masih rapi terpakai. Ia menarik nafas dalam-dalam membiarkan banyak oksigen masuk ke tubuhnya, mata cowo itu terpejam sesaat.

Tak lama, terdengar suara mobil Papah nya yang memasuki garasi, di ikuti suara tertawa perempuan. Juna membuka matanya, seutas senyum tipis terukir di wajahnya. Itu bukan lah senyum kesenangan seperti halnya senyum seorang anak saat mengetahui Ayahnya pulang.

ABHIZARA (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang