JUNA 13 | Hilang

9 2 0
                                        

Malam itu, Juna tengah merebahkan tubuhnya di ranjang miliknya. Ia baru saja selesai mandi dan berganti pakaian.

Drrrtt..drrrtt

Suara ponsel Juna bergetar, membuat cowo itu bangun dan mengambil ponsel yang ada disampingnya. Tertera nama seseorang yang menelpon "Papah?" ucapnya saat melihat nama yang tertera disana. Tak lama, Juna lalu menekan tombol hijau di layar, ia lalu mendekatkan ponsel ke telinganya.

"Halo, Juna" ucap pria diseberang sana

"Kenapa, Papa nelfon?"

"Kamu dimana hah? Pulang Juna! Jangan buat malu, Papah!" bentak Rendy disana.

"Malu? Ngga kebalik? Harusnya aku yang malu!"

"Kurangajar kamu! Dimana kamu sekarang, Juna!"

"Ngga penting buat anda tau saya dimana. Lagian ngapain sibuk nyariin saya? Urusin aja perempuan murahan selingkuhan, Papah itu!"

"JUNA, KURANGAJAR KAMU!"

"DASAR ANAK NGGA TAU DI UNTUNG!"

"NGGA TAU DIRI!"

"NGGA TAU SOPAN SANTUN SAMA ORANG TUA!"

"PAPAH NGGA MAU PUNYA ANAK DURHAKA KAYA KAMU!"

"DI MATA PAPAH, KAMU UDAH MAT--"

Juna mematikan secara sepihak sambungannya, ia melempar dengan kencang ke bawah sana, membuat ponselnya terjatuh tak tahu kemana. Ucapan Ayahnya berhasil membuat dirinya mengerang emosi, tak seharusnya ia mendengarnya. Juna memukul ranjangnya dengan kuat, melemparkan semua bantal dan guling disampingnya.

"AAAKKKHHHH! GUE JUGA GAMAU PUNYA AYAH KAYA LO!" teriak Juna dengan lantang. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Tak lama, butiran bening berhasil turun membasahi pipinya, cowo itu menangis dan terisak. Terdengar sangat memilukan.

"Mah.."

"Aku butuh Mamah..." ucapnya lirih. Ia berusaha tak menangis, dan mengusap air matanya. Tiba-tiba ucapan Ara kembali muncul di pikirannya.

"Kalo Tuhan ngasih kita takdir yang kejam, berarti Tuhan percaya kalo pundak kita itu kuat" kalimat itu masih terngiang jelas di pikiran Juna.

"Tapi, gue ngga kuat, Ra"

"Pahlawan yang kaya gini yang harus gue jaga maksud lo, Ra?"

"Bukan, dia bukan pahlawan. Melainkan monster yang menakutkan"


••°°○○°°••

Pagi ini, setelah di antar oleh Kakanya, Ara berjalan ke dalam melewati koridor sekolahnya. Kali ini ia memutuskan untuk menemui seseorang terlebih dahulu sebelum masuk ke kelasnya. Langkahnya berhenti sesaat setelah gadis itu sampai di pintu kelas tujuannya.

"Gi, gue ngga keliatan. Bukunya geseran dikit ngapa sih!" ucap Gio dengan kesal lalu menggeser buku catatan ke depan tubuhnya.

"Apaan sih, lo gesernya ngga kira-kira. Gue yang ngga jelas liatnya" celetuk Bagas dengan menggeser buku itu ke arahnya.

"Apaan sih, masa di lo semua. Geseran!" Gio lalu menggesernya kembali.

Melihat keributan yang terjadi, Bobby lantas menghampiri temannya itu "Ah, ribet banget sih lo pada! Udah disini di tengah-tengah. Jangan di geser terus, nanti bukunya sobek gue sunat lagi lo pada!"

Mendengar itu, membuat Gio dan Bagas terdiam.

"Nih tulisannya apa si Bob? Ngga jelas banget!" tanya Gio sambil menunjuk ke sebuah tulisan di buku Bobby.

ABHIZARA (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang