"Woyy! Gue ada pengumuman penting buat kaliaan!" teriak Danil yang baru saja memasuki kelas setelah tadi ia disuruh untuk berkumpul di lapangan. Bukan hanya dia saja, tapi semua ketua kelas dari semua kelas juga mendapat pengumuman yang sama. Seketika seisi kelas diam dan pandangannya menatapnya penasaran.
"Apaan? Kalo Prikk awas lo!" ucap Joko. Pria bertubuh gempal yang sedang memakan cireng di pojok kelasnya.
"Gue mah ga pernah ngasih berita prik, Jok"
"Apaan. burung lo mati aja di beritain!" timpal Mega yang duduk di sebelah Ara.
"Yang mana? Kan gue punya burung banyak. Ada burung beo, hantu, burung jadi-jadian juga ada"
"Ngga tau lah, mau burung hantu, burung jin setan. Bodo amat!"
"Tapi, kalo yang kemarin baru mati itu burung perkutut" jelasnya terkekeh.
"Kudanill..buruaann ngomoong berita apaaa?! Gue geprek juga lo lama-lama!" teriak Mega kesal.
"Aishh..sabar dong neng, Mega" ucapnya "Pengumumaannya adalahhh..." dua menit kemudian...
Dug! Satu buah spidol yang Mega lempar persis mengenai dada Danil. Sontak membuatnya langsung meringis ngilu.
"KUDANIILLL BURUAAANNNN!!"
"Sakit, Meg. Iyaa iyaa. Galak banget kaya pacar lo" cetus Danil yang masih memegangi dadanya.
"Wahh gue bilangin Bagas lo ngatain dia galak. Mau?!" ancam Mega dengan jarinya yang menunjuk lurus ke arah Danil.
"Ehh ngga ngga. Sorri"
"Danil, bisa ngomong sekarang ngga?" pinta Ara lembut.
"Iyaaa, Ra. Jadii, jam pelajaran hari ini"
"KOSONGG!!"
Sontak pengumunan itu membuat berisik suasana sekelas. Selain pulang lebih awal, jam kosong juga masih menjadi momen yang sangat disyukuri oleh anak sekolah. Iya kan? Ngaku!
"Seriuss?" tanya salah satu perempuan yang duduk di paling pojok "Lipstik gue mana? Bedak bedak. Gue mau live woy!"
"Buat tutorial make-up ala Kekeyi aja, Din. Bisa ngga lo?"
"YESSS! Woyy mabarr mabarr sinii"
"Gue make miya, lo make jilong, ngab!"
"Ayoo lanjutin ghibah nya yang tadi. Yang anak pak Santo jadi janda lima kali"
"Woyy link manaa linkk. Bagiii cepetaann!"
Begitulah suasana yang mendadak berubah dalam sekejap, ada yang mengisi jam kosong dengan berghibah ria, ada yang bermain game, ada yang membuat video makeup ala-ala youtuber, ada juga yang nobar film.
Mega menatap Ara yang sedang membaca novel disampingnya "Ra, ko lo tadi bisa makan bareng sama, Juna? Gimana ceritanya?"
Ara menoleh menatap teman bangkunya itu "Gue ngrasa ngga enak sama dia, gara-gara gue, dia jadi ngga makan dikantin. Makannya gue bawain dia makanan"
Mega mengangguk paham "Ohh gitu. Santai aja kali, Ra. Lagian dia cowo pasti kuat, ngga bakal lemes kaya cacing kepanasan" ucapnya dengan tertawa kecil.
"Yaa iya juga sih. Gue cuman niat buat bales budi aja, Ga"
"Hmm, gitu. Eh Ra, kayanya si Gio mulai tertarik deh sama lo. Gue ingetin ya, pokonya lo ngga boleh ngrespon dia kalau nanti dia nyoba deketin lo! Gue ngga terima kalo sahabat gue ini berhubungan sama cowo kaya dia. Paham?" jelas Mega dengan wajah yang serius.
"Iyaa, Mega. Gue tau ko, tenang aja"
"Okee, cipp. Gue tinggal ya, Ra"
Ara hanya tersenyum mengangguk. Mega kemudian berjalan pergi untuk menemui Bagas di kelasnya. Kini, pandangan Ara melihat sekitarnya, ia merasa tak nyaman berada di dalam kebisingan yang teman-temannya ciptakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABHIZARA (ON GOING)
Fiksi Remaja⚠️Mengandung banyak Masalah, Baper, Kekerasan, Teka-teki, Penyelidikan, Teror dan Kasus yang harus di pecahkan. Rumit ya gess ***** "Selama nafas gue masih ada. Gue akan cari tau semuanya!" "Dan kalau sampe gue tau, lo yang udah bunuh Mama gue. Seri...
