Kini mereka sibuk dengan menelepon orang tua mereka masing-masing. Karena panik mereka lupa jika ada telepon untuk menghubungi keluarga. Harsa yang memang manja pada Bunda nya dia bertelepon dengan nada imut dan manja hingga membuat Kalen mendengar nya jengah.
"Aaa Bunda pokok nya gak usah khawatirkan Arsa, Aa aman kok sama temen-temen terus ada Karei juga. Aa bakal jagain Karei, Bunda tenang aja hehe."
Kalen menatap Elvan sahabat nya yang bertelepon juga dengan ayah nya. Kalen mengulum bibir, orang tua nya berada di luar negeri mungkin mereka tak tahu jika ada wabah di kota yang ditempati anak nya, atau sudah tahu tapi tidak peduli.
Karei hanya memandang luar jendela yang dimana menghadap lapangan, lapangan itu sudah di penuhi oleh zombie. Mata nya menyorot kesana tanpa teralihkan padahal Harsa sempat memanggil nya. Yumi pun tengah bersama Chelsea, dia meminjamkan ponsel nya untuk menelepon orang tua.
"Kak Eras baik kok, Ma. Syukur Mama udah di tempat karantina, kita bakal susul Mama kesana!"
Gala pun menelepon sang nenek sedari tadi tapi tidak diangkat oleh nya. Ia benar-benar khawatir akan keadaan sang nenek. Gala mengacak rambut nya frustasi. Entah apa yang ingin ia lakukan, dia benar-benar khawatir dengan nenek nya.
Sedangkan Ryi, dia menggunakan waktu nya untuk tidur. Tak mood untuk melakukan siaran langsung seperti yang dilakukan nya setiap saat. Tapi kali ini wabah itu membuat nya memiliki banyak beban. Bagaimana dengan perlombaan dance nya Minggu depan, itu lah yang ia fikirkan.
Brakk
"Gak ada yang kalian lakuin gitu?!" gertak Ryi berdiri dari kursi sambil menatap mereka sinis. Ayolah, dia bosan berada di ruangan ini terus.
"Emang lo mau ngelakuin apa? Manjat ke tembok terus keluar dari gedung sekolah?!" sinis Kalen.
Ryi menatap Kalen dengan tajam, "seenggak nya kita keluar dari sini. Gue bosen!! Kita juga harus ada kemajuan buat bisa keluar dari sini."
"Benar. Kita gak mungkin diam disini terus sampai polisi atau tentara itu datang." sahut Karei, menyetujui ucapan Ryi.
"Kita mau keluar?" tanya Chelsea menatap mereka penasaran. Yumi mengangguk membuat Chelsea terdiam.
"Kita pergi ke lapangan indoor." ujar Harsa.
"Kenapa?" tanya Kalen yang langsung dihadiahi toyoran dari Harsa, kebetulan mereka bersebelahan jadi Harsa langsung menoyor kepala Kalen.
"Anjing gue nanya baik-baik!"
"Disana ada banyak alat olahraga, kita bisa ambil terus gunain itu buat senjata." celetuk Gala, yang diangguki oleh Harsa. Itu maksud nya.
"Disana juga luas kita bisa semalaman disana, kan?" sahut Elvan.
"Kita buat sesuatu buat bisa keluar dari sini dan nyingkirin zombie didepan pintu sana." ucap Harsa.
Mereka mengangguk ketika Harsa memberi instruksi dengan sesuatu yang ia buat nya. Harsa mengambil papan tulis yang menjadi perhatian nya, kemudian dia meminta Gala, Elvan, dan Kalen untuk membantu nya melepaskan papan tulis dari tembok.
"Kita pakai papan tulis." Harsa melihat belakang papan tulis yang menempel pada tembok.
"Ayo kita lepas." sahut Gala.
Mereka saling bekerja sama untuk membuat benda agar bisa menyingkirkan zombie diluar sana. Melihat ada roda di laci loker membuat Harsa semakin semangat dalam membuat sesuatu itu.
....
"Ada zombie?" tanya Eraski. Mereka telah sampai di atas, tepat nya di lantai 4. Ale melihat suasan lorong lalu menggeleng, disana tidak ada zombie, begitu sepi keadaan nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harmoni
Mystery / ThrillerBagaimana jika disekolahmu diserang zombie? Sekelompok siswa yang bersama-sama untuk melawan para zombie dengan bekerja sama dan saling melindungi satu sama lain. Kehidupan yang awalnya diselimuti permusuhan kini menjadi pertemanan untuk melawan zo...
