HARMONI| PART 12

616 95 3
                                        

Disebuah tempat aman, pos karantina. Semua orang yang selamat berkumpul disana, banyak tentara dan polisi yang menjaga ketat. Disana mereka mendapat tempat tinggal seadanya namun mereka bersyukur, setidaknya mereka kini telah selamat. Mereka juga mendapat donasi uang dan berupa pakaian layak.

Kini di sebuah gedung terdapat beberapa orang wartawan dan begitu banyak kamera yang akan memotret dan mengunggah berita terkini. Seorang presiden telah mengumumkan tentang jaringan seluler yang akan diputuskan di seluruh kota Jakarta.

"Tetap berada di tempat yang aman, tim penyelamat akan berusaha untuk menemukan kalian. Tolong, jangan berubah..."

Suara jepret kamera terdengar begitu mendominasi. Selesai menyiarkan berita, para dewan perwakilan rakyat dan presiden pergi dari tempat. Aparat kepolisian segera pergi untuk menjalankan tugas mereka.

Kini para detektif berpengaruh di kota tengah berkumpul dalam satu ruangan. Mereka telah mengumpulkan berkas-berkas berisi berita terkini, yang akan mereka cari tahu adalah penyebab. Hingga saat ini penyebab belum ditemukan, dalam kemungkinan ada dua gejala yang menyebarkan.

Menurut sumber terpercaya, awal mula berasal dari rumah sakit dan kedua sekolahan. Sampai akhirnya acara rapat dimulai, seorang ketua berdiri di tengah dan membuka acara rapat mereka.

Ketua detektif Asof mulai membaca artikel yang berita nya dicari tahu oleh para anggota nya itu. Berita yang mereka cari benar-benar menjadi  sumber terpercaya. Bahkan para ahli seperti profesor pembuat ramuan pun angkat bicara.

"Menurut Profesor Dlen Anggara, hingga saat ini seorang ilmuwan ahli dalam membuat ramuan belum pernah meracik ramuan yang akan membahayakan. Seorang gila lah yang telah berhasil mencetak ramuan virus hingga berani menyebarkan nya."

Lalu ketua Asof memulai membaca artikel yang menceritakan tentang kejadian.

"Seseorang mengalami kejang-kejang memasuki rumah sakit Melati di Jakarta Pusat. Diketahui jika seorang anak berumur sebelas tahun mengalami gejala aneh hingga membuat dokter yang menangani kewalahan. Setelah berhasil membuat nya tenang dengan obat bius, anak perempuan itu terbaring dengan lemas, walau tidak ada luka diketahui jika anak tersebut berkontak fisik dengan hewan...

...anak tersebut mulai kembali bereaksi, menggila di atas ranjang dan meraung tak jelas. Jam enam pagi seorang dokter datang ke kamar ruang inap nya dan dia melihat anak tersebut berdiri menghadap jendela. Setelah dokter itu memanggil nya anak itu berlari kearah nya dan langsung mengigit leher sang dokter yang menggila memakan nya. Penyebab kini diawali dari rumah sakit Jakarta Pusat."

"Bagaimana dengan orang yang menyebar virus? Apakah sudah dicari tau,"

"Sudah, ada di halaman 22, Pak."

"Hey, kamu yang membuat berita itu?" tanya seorang detektif bernama Yudha berbisik pada rekan kerja nya yang disebelah, detektif Helen.

Helen mengangguk, "aku tau dari ibuku."

Yudha membelalakkan matanya, "ba-bagaimana?"

"Itu adikku." jawab Helen datar. Yudha hanya tercengang mendengar penuturan Helen, dia tak menyangka jika yang menjadi penyebab nya adalah dari keluarga seorang detektif.

"Seorang remaja bernama Daren Abram umur 18 tahun, diduga dialah peracik ramuan virus zombie. Dia dari sekolah SMA Rajawali." Asof tercengang saat membaca, beberapa orang yang disana juga mulai membisikkan pernyataan tersebut.

"Seorang pelajar?" tanya Asof pada mereka semua. Lalu anggota nya berdiri, dia orang yang mencari tahu berita tersebut.

"Ya pak, dia yang telah membuat ramuan itu, dan yang pasti penyebaran virus kedua ada di sekolah Rajawali."

Harmoni Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang