"Memandangi, mengamati, dan mencintaimu dalam diam adalah ilusi paling asli dalam kisahku."
Ananta Isvara Brechtje, seorang gadis remaja blasteran Belanda yang mencintai Arjuna secara diam-diam. Arjuna Khandra Widyanata adalah seorang remaja laki-la...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_
"Mungkin sekarang bagimu memilikinya adalah ketidakmungkinan, tapi bukankah tuhan bisa dengan mudah bermain dengan perasaan?"
"Arjunaaa!"
Kompak Arjuna dan Ananta menoleh. Dari arah pintu, seorang gadis berjalan sembari tersenyum. Senyum dan matanya tertuju pada Arjuna.
Seketika senyum Ananta yang sedikit lebar sirna. Entah kenapa saat melihat tatapan gadis itu pada Arjuna, ia langsung tau untuk apa gadis itu ke sini. Ananta mengerti.
Arjuna tersenyum tipis, kemudian membalas, "Yooo, kenapa, Saf?"
"Gak apa-apa. Udah selesai belum?" tanya Safira saat sudah di dekat Arjuna.
Arjuna melihat kertas-kertas di depannya. "Dikit lagi, nih," jawabnya.
"Boleh pulang bareng?" Safira menatap Arjuna penuh harap.
"Kalo mau nunggu, boleh. Bentar lagi kok," jawab Arjuna dengan senyum tipisnya.
"Yaudah, gua tunggu," kata Safira. Lalu gadis itu duduk pada kursi kosong di hadapan Arjuna.
"Hai, Ananta," sapa Safira, akhirnya menganggap ada orang lain.
Ananta balas mengangguk sekali dengan senyuman. Kemudian Arjuna dan Ananta kembali fokus pada kertas di hadapnnya.
Tak sampai 30 menit, mereka sudah menyelesaikan semua soal. Kini, Ananta sedang membereskan alat tulisnya, begitu juga Arjuna yang dibantu oleh Safira.
"Pulang naik apa, Nan?" Arjuna bertanya.
"Gua bawa mobil," jawab Ananta.
"Sendirian?" Kali ini Safira bertanya.
"Iya." Ananta meneguk air dari tumbler ungunya sebelum ia memakai tas ranselnya.
"Kalo gitu, kertas jawaban Arjuna lo aja yang ngumpulin, ya. Biar sekalian," kata Safira.
Seketika Ananta menatap Safira.
"Eh, gak usah. Kan ini jawaban gua, biar gua aja," cegah Arjuna merasa tak enak pada Ananta.
"Gak apa-apa, Ar, Ananta aja. Kan sekalian," ucap Safira.