Trisha terbaring menatap lurus pada langit-langit kamar, di sana justru bak layar lebar yang memutar jelas wajah Ervan dengan tatapan lekatnya. Mereka memang sudah putus, tetapi setiap kali Ervan menatapnya lekat seperti itu, selalu saja bisa membuat jantungnya berdesir.
"Ervan, kenapa kamu bukan Ervan lain? Kenapa kamu harus adiknya Kinan? Kenapa kita harus bertemu? Kenapa kita harus berakhir kayak gini?" gumamnya, lagi-lagi ia terisak. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tampak frustrasi.
"Tris ...," sapa Claudya dari balik pintu kamarnya. "Bisa bukakan pintunya sebentar, Sayang?"
Trisha menurunkan kedua telapak tangan dari wajah. Tatapannya mengarah ke pintu.
"Mama boleh masuk?"
Sesaat masih hening.
Claudya mencoba mengetuk lagi. "Trisha ...." Dengan suara lembut seperti biasa. "Buka pintunya, Sayang."
Trisha menghapus sisa air mata terlebih dahulu sebelum bangkit.
"Trisha, apa kamu baik-baik saja?" sapa Claudya saat pintu dibuka. Meski Claudya tahu, putrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Mama ...." Trisha berhambur ke pelukan Claudya.
Claudya bisa merasakan kesedihan Trisha. Ia sudah tahu semuanya dari Tristan. Trisha tergugu di pelukannya. Claudya mengelus rambut panjang Trisha yang terurai. Setahunya, Ervan adalah pria pertama yang berhasil meluluhkan hatinya, sekaligus berhasil menoreh luka.
Tangis Trisha sudah reda saat secangkir teh hangat buatan Rahayu sudah berada dalam genggamannya. Rahayu pamit dari hadapan majikannya tidak lupa kembali menutup pintu.
Claudya merapikan rambut Trisha. Wanita paruh baya itu tersenyum. "Enggak apa-apa, Tris. Nggak baik-baik aja itu nggak apa-apa."
Trisha menatap mamanya tanpa suara.
"Terkadang kita hanya harus melaluinya, apa pun itu. Terkadang kita juga harus merasakan kecewa, terluka, supaya kita semakin bijak." Claudya menjeda, kembali merapikan rambut Trisha. "Sepanjang hidup, mustahil kita akan selalu baik-baik saja. Ada kalanya kita juga harus merasakan sedih, itu manusiawi."
Trisha mengangguk.
"Mama, papa dan kakakmu akan selalu ada buat kamu. Apa pun keadaanya. Semua akan membaik. Luka akan pulih. Yang harus pergi dari hidupmu, akan terganti dengan yang lebih baik."
Kedua mata Trisha kembali berkaca-kaca.
"Ingat kata-kata Mama. Kamu hanya harus melaluinya, itu saja," ucap Claudya sambil menangkup wajah Trisha dengan kedua telapak tangannya. Air mata gadis itu jatuh. Claudya memeluk gadis kecilnya yang sudah dewasa, yang sudah menangis karena seorang pria. Bukan lagi gadis kecilnya yang menangis karena merengek minta dibelikan mainan.
Sebagai seorang ibu, Claudya merasa waktu begitu cepat berlalu. Sebentar lagi, anak sulungnya juga akan segera menikah. Trisha pun kelak akan demikian. Hari ini mungkin sebagai ibu, Claudya masih memeluk Trisha, menemaninya melalui hari-hari patah hati. Esok atau lusa, mungkin gadis itu akan kembali menemukan seseorang yang tepat untuk kembali memulai hubungan atau bahkan membangun rumah tangga. Selagi Tuhan masih memberinya umur panjang, Claudya selalu akan ada untuk anak-anaknya. Menemani mereka melewati pengalaman baik dan buruk.
***
Malam ini, tepat malam di mana dua keluarga inti antara Tristan dan Meysha bertemu untuk membahas rencana pernikahan keduanya.
Pihak Meysha sudah siap menjamu keluarga Tristan di sebuah restoran hotel bintang lima.
Tampak meja memanjang dan kursi berjajar rapi dengan vot bunga berisi mawar merah segar menghias. Piring dan gelas kaca ikut bertengger di sana. Lampu kristal menggantung di langit-langit--tampak elegan. Para pegawai hotel tengah sibuk dalam persiapan terkahir sebelm klien dan tamunya datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jagat Raya Trisha (Completed)
RomanceAwalnya Ervan berniat untuk mempermainkan gadis bernama Trisha Putri Admaja, menghancurkan masa depannya, lalu ia tinggalkan begitu saja. Persis seperti perlakuan yang didapat kakak perempuannya dulu. Dendam serta kebencian mengalir deras di dalam d...
