10 - He's My Son

3.3K 347 18
                                        

Pagi ini, Jisoo merasakan perubahan kecil pada dirinya yang tidak bisa tenang sama sekali di dalam rumah. Mulai dari menyibukkan diri dengan melakukan berbagai pekerjaan rumah, mengurus toko bunga, hingga nekat pergi belanja bulanan seorang diri —tentu saja semua dilakukannya tanpa sepengetahuan Jennie dan Seokjin.

Tiba-tiba saja rasa bosan melanda diri Jisoo saat ia tak melakukan apapun, sebaliknya ia merasa sangat bersemangat saat sibuk beraktivitas.

Apa karena keinginannya sendiri atau karena bawaan bayi?

Jisoo pun tak tau alasan pastinya.

Siang telah tiba, kini gadis itu berada di supermarket saat sinar matahari berada tepat di atas kepala. Mengingat persediaan pangan bulanan hampir habis, Jisoo berinisiatif untuk pergi berbelanja alih-alih menunggu Jennie dan Seokjin yang melakukannya. Sedikit informasi, Kakak beradik itu sedang tak berada di rumah karena harus menghadiri acara keluarga. Jisoo tak mungkin menunggu hingga mereka pulang agar dapat berbelanja. Lagipula ada sepeda yang bisa Jisoo gunakan sebagai sarana kendaraan.

Ya, Jisoo datang ke supermarket dengan mengayuh sepeda.

Seorang diri.

Tak ada masalah sama sekali. Kondisi Jisoo dan calon bayinya cukup sehat kalau hanya sekadar mengayuh sepeda sejauh satu kilometer. Masalah tak akan datang hanya karena hal yang sepele kan?

"Jisoo.." Suara seseorang yang memanggil namanya membuat Jisoo berbalik.

"Kok sendirian? Jennie dan Seokjin gak ikut?"

Jisoo tak menyangka akan bertemu dengan dokter kandungannya, Cho Sung-shim, di tempat seperti ini. Gadis itu memberi sapaan sebelum menjelaskan alasan ia bisa pergi berbelanja seorang diri.

"Dokter Cho juga datang kesini sendirian?" Jisoo balas bertanya.

Sang dokter menggeleng. "Sama anak sulung saya. Dia di seberang sana lagi telponan dengan atasannya." Dokter Cho menunjuk Haein yang berdiri jauh disana, membelakangi Jisoo dan mamanya.

Tak dapat melihat rupa orang yang dokter Cho tunjuk, Jisoo hanya memberi anggukan paham.

"Kebiasaan pekerja kantoran. Sibuk setiap saat." Ada helaan napas keluar dari mulut sang dokter sembari memperhatikan punggung Haein dari kejauhan. "Padahal harusnya ini waktu liburan dia dengan mamanya."

Dokter Cho kembali menaruh atensi pada Jisoo.

"Loh Jisoo, kamu kok pucat?"

Jisoo sontak memegang wajahnya. Ia tak merasa lelah sama sekali, mana mungkin bisa pucat.

"Masa sih dok?"

"Beneran." Dokter Cho terlihat khawatir. "Kamu ada keluhan belakangan ini?"

Gadis itu menggeleng. "Mungkin saya cuma kelelahan."

"Kayaknya saya harus pulang deh dok. Saya butuh istirahat."

Dokter Cho memberi anggukan setuju. "Kamu mau saya antar?"

"Gak usah dok. Saya bawa sepeda."

"Kamu datang kesini naik sepeda di siang bolong?" Sang dokter tak habis pikir. Bisa-bisanya dalam kondisi hamil, Jisoo nekat pergi seorang diri ke supermarket dengan mengayuh sepeda.

"Jarak dari sini ke rumah dekat kok. Dokter gak perlu khawatir."

Jisoo pamit sebelum akhirnya melangkah keluar dari supermarket. Bersama barang belanja yang sudah ia taruh di keranjang sepeda, gadis itu mulai mengayuh sepedanya hendak keluar parkiran.

Namun, insiden yang tak disangka terjadi.

Mobil dari arah berlawanan tiba-tiba masuk ke dalam parkiran. Jisoo yang terkejut sontak tak dapat menekan rem tangan sepeda sehingga kendaraan roda dua itu menghantam lurus mobil di hadapannya. Semua barang belanja terjatuh, begitupun dengan Jisoo yang kini terbaring pingsan ketika kepala dan perutnya menghantam aspal parkiran.

ACCIDENTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang