09 - Unexpected Presence

2.6K 323 32
                                        

Jisoo berbaring terlentang sambil memperhatikan monitor USG yang memperlihatkan perkembangan janin di dalam perutnya. Tak habis senyum Jisoo mengembang saat dokter, yang berdiri di sebelahnya, menjelaskan secara singkat bahwa beberapa organ janin mulai terbentuk dan mulai terasa denyut jantung.

Jennie dan Seokjin rupanya menemani gadis itu di dalam ruangan. Kakak beradik itu sama senangnya dengan Jisoo saat layar monitor sudah dapat memperlihatkan wajah janin walau masih samar-samar.

"Janin kamu sudah mulai bergerak pasif di dalam sana. Dalam waktu dekat pergerakannya bisa kamu rasakan."

Pemeriksaan berakhir dengan alat USG yang dijauhkan dari perut Jisoo. Jisoo pun beranjak dari ranjang secara perlahan, dibantu oleh Seokjin yang menopang tangan sang gadis yang hendak turun.

"Bagaimana kondisi kesehatan janinnya, dok?" Jennie bersama sang dokter lebih dulu duduk untuk memulai diskusi. Sedangkan Jisoo sendiri masih sibuk menyeimbangkan posisi berdirinya dengan Seokjin yang tetap setia membantu.

Dokter tersenyum lembut. "Bayinya sehat. Asupan nutrisi juga terjaga."

"Untuk kedepannya juga tetap harus jaga asupan makan. Trimester 2 ini fase yang penting untuk ibu hamil dan bayinya, jangan sampai lengah."

Atensi dokter teralih pada Jisoo dan Seokjin yang kini ikut duduk di sebelah Jennie.

"Jisoo, gimana kondisi kamu belakangan ini? Gak pernah ngidam atau semacamnya?"

Jisoo menggeleng. "Sejauh ini tidak pernah, dok."

"Kalau gejala mood swing?"

"Tidak juga."

Dokter mengangguk paham. "Adik bayinya sabar banget ya. Biasanya, kalau laki-laki memang gak rewel."

Laki-laki?

Apa frasa itu mengarah pada jenis kelamin bayi yang Jisoo kandung?

"Bayi saya laki-laki, dok?"

"Loh, kamu belum tau?" Dokter menepuk dahinya. "Maaf.. maaf.. harusnya saya langsung beritahu kamu waktu pemeriksaan tadi."

Jisoo baru ingat kalau jenis kelamin bayi sudah bisa terdeteksi saat usia kandungan sudah memasuki bulan ke-empat, masa trimester 2.

"Saya juga dulu hampir mirip kayak kamu waktu hamil putra sulung saya. Papanya si sulung jarang ada di rumah, tapi si sulung sabar dan gak rewel sama sekali.. enteng banget pokoknya---" Ujar dokter bernostalgia.

"---Tapi semua jadi beda kalau papanya datang. Si sulung mulai kelihatan rewelnya. Jadinya saya tiba-tiba suka ngidam lah, tiba-tiba nangis tanpa alasan lah, pengen disayang lah."

Cerita itu diselingi dengan tawa sang dokter saat mengingat kehamilannya dulu. "Pokoknya gak bisa jauh-jauh dari papanya."

Keasikan bercerita membuat sang dokter mengabaikan notifikasi handphone-nya yang baru saja berbunyi, yang ternyata adalah notifikasi pesan dari putra sulung yang tengah ia ceritakan kepada pasiennya.

Si Sulung

Ma, Haein sudah tiba di Busan.

Maaf ya ma, aku baru ngasih kabar.

Aku mau ke tempat praktik mama sekarang. Mama ada disana kan?

***

Direct massage yang Haein kirimkan ke mamanya menjadi hal terakhir yang lelaki itu lakukan sebelum melangkah keluar dari bandara internasional Gimhae di Busan.

Haein menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar, sesekali melirik pemandangan sekitar yang sangat menggambarkan suasanq kota Busan. Entahlah, keindahan yang Haein lihat sekarang berkebalikan dengan memori kelam di masa lalunya. Jika bukan karena desakan sang mama, mana mau Haein menginjakkan kaki di kota yang sudah seperti mimpi buruk bagi lelaki itu.

ACCIDENTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang