Haein menghentikan laju mobilnya saat sudah memasuki area toko bunga. Netranya langsung disuguhi visual berbagai tanaman hias di toko J Florist, toko bunga milik Jin dan Jennie, yang merupakan salah satu toko bunga terkenal di daerah Busan. Hal yang Haein ketahui karena perbincangannya dengan Suzy yang kerap kali membahas toko bunga ini sejak lelaki bermarga Jung itu datang kembali ke Busan.
Beralih dari ingatan akan cerita Suzy, kini Haein menaruh fokus pada Jisoo yang baru saja membuka pengait seat-belt. Haein memperhatikan gerak-gerik Jisoo dengan seksama hingga pandangan Jisoo berbalik mengarah padanya. Haein sendiri tak dapat menghentikan reflek pada tangannya yang tanpa permisi langsung merapikan tatanan rambut dan menghapus jejak airmata Jisoo.
"Ucapanku masih berlaku."
"Kau bisa datang kapan saja ke rumah mama, jika kau mau."
Kedua tangan Jisoo kemudian digenggamnya erat, tak lupa dengan ibu jarinya yang mengelus punggung tangan Jisoo.
"Akan lebih baik lagi jika kau mau tinggal disana."
"Kakak dan dokter Cho sudah banyak membantu. Aku tidak bisa menerima lebih dari ini." Suara Jisoo benar-benar halus terdengar. Haein berupaya menjaga kewarasan agar tak bertingkah aneh di depan gadis itu.
"Itu sudah tugasku, Soo. Kau tidak perlu merasa terbebani."
Jisoo sudah berusaha keras menjaga bayi di dalam perut selama ini. Haein tak ingin menutup mata dan lari dari tanggung jawab saat fakta bahwa 'dialah penyebab dari semua ini' terus berseru dalam kepalanya.
"I'll do everything for you----" Netra Haein beralih pada baby bump Jisoo.
"----and our baby."
Gadis itu tak memberi jawaban. Hanya pampangan wajah manis yang berhasil membuat Haein menjerit gila dalam keheningan.
"Kuharap kau mau mempertimbangkannya." Haein kembali menunjukkan senyum tipisnya. Jari-jemari lelaki itu kini bergerak lagi tuk mengelus pucuk kepala Jisoo dengan gemas. Perlakuan manis yang membuat Jisoo tersenyum malu-malu.
Ngomong-ngomong soal bayi mereka..
Ada satu hal yang ingin Haein lakukan, tapi hingga kini belum kesampaian.
Apa tidak masalah jika ia merealisasikannya sekarang? Ini momen yang tepat bukan?
"Boleh aku menyapanya?"
Pertanyaan Haein barusan ditangkap sebagai sinyal bingung oleh Jisoo. "Aku ingin menyapa bayi kita." Haein memperjelas.
"Bagaimana caranya?"
Ini terasa sulit untuk diungkap secara langsung, tapi tak ada salahnya mencoba.
"Seperti yang kau lakukan." Haein mengusap tengkuknya. "Maksudku, biasanya kau sering mengelus perutmu lalu berbicara pada bayi."
Batin Haein bersorak heboh di dalam sana. Apalagi jantungnya yang kini berdebar tak masuk akal.
"Apa aku boleh melakukan hal yang sama?"
Dan disaat Haein sudah salah tingkah, Jisoo malah berdehem pelan— mencoba bersikap biasa saja dalam menanggapi situasi ini.
"B-boleh.."
Tak lagi dapat menyembunyikan rasa senang, Haein tanpa membuang waktu seketika mengarahkan tangannya tuk menyentuh baby bump Jisoo. Pelan tapi pasti lelaki itu mengelus sekaligus merasakan kehadiran bayinya di dalam sana. Hingga terlontar ucapan dari mulutnya tanpa sadar.
"Hi baby boy."
Ini sangat menyenangkan. Rupanya europhia seperti ini yang selalu Jisoo alami, rasa yang tak ada duanya.
