08 - 2nd Trimester

2.7K 296 12
                                        

Usia kandungan Jisoo hampir memasuki bulan ke-empat semenjak ia menginjakkan kaki di Busan dua bulan lalu.

"Hoeekkk.. Hoeekkk.."

Pagi ini, seperti biasanya, gadis itu kembali mengalami gejala morning sickness. Untung saja intensitasnya mulai berkurang dan gejalanya sudah tak separah masa awal kehamilan. Pusing tak lagi menyerang kepalanya, walau kram di perut masih sering terasa.

Tidak apa, Jisoo mulai terbiasa dengan kondisinya sekarang.

Bagaimana mungkin gadis itu bisa mengeluh saat menyadari kenyataan bahwa ada satu karunia yang tumbuh di dalam rahimnya. Calon buah hati yang semakin mengisi perut ratanya hingga sekarang terlihat buncit.

Setelah menyelesaikan urusan morning sickness, Jisoo beralih mengelus perutnya. Kegiatan yang setiap hari ia lakukan untuk menyapa calon buah hati di dalam sana.

"Good morning, anak mama."

Tawa cekikan Jisoo terlontar begitu saja. Membayangkan jika nanti dirinya akan menyandang status 'mama' dalam usia yang masih sangat muda, benar-benar tak disangka.

"Anak mama udah makin besar di dalam perut. Sehat-sehat terus ya baby."

Tak bosan Jisoo memandang rupanya melalui cermin di wastafel, lebih tepatnya memandang perutnya yang sudah memasuki masa awal trimester 2. Rasanya Jisoo semakin tak sabar menantikan kelahiran sang anak ke dunia.

"Ekheemm.."

Tersentak sang ibu hamil saat deheman seseorang tertangkap di indra pendengarannya. Dari pantulan cermin terlihat Jennie berdiri di belakang Jisoo, entah sejak kapan gadis itu masuk tanpa sepengetahuan Jisoo.

"Asik banget ngobrol dengan calon bayi.." Goda Jennie. "Gue ikutan dong."

Jisoo terkekeh. "Apaan sih Jenn." Kemudian membersihkan sisa muntahan di mulutnya dengan air keran.

"Mual-mual lagi?"

Jisoo mengangguk.

"Sebaiknya lo gak usah kerja dulu hari ini. Just take a rest, okay."

Gelengan kepala menjadi pertanda bahwa Jisoo menolak usulan Jennie. "I'm okay Jenn. Mual-mual sewaktu hamil kan cuma hal biasa."

Jennie sudah berbaik hati memberinya tempat tinggal gratis. Jisoo tak enak hati jika hanya duduk manis di kamar sedangkan Jennie dan kakaknya bekerja untuk menambah kebutuhan hidup Jisoo dan calon bayi.

"Tapi lo gak boleh capek. Dokter sendiri loh yang bilang."

Itu memang benar.

Dokter menganjurkan bahwa Jisoo tak boleh terlalu memaksakan diri untuk bekerja. Jika kelelahan, risiko keguguran akan semakin besar.

"Cuma menata bunga doang, mana ada capeknya."

Jennie mengusap kepalanya, mencoba berpikir. "Kalo lo tetap mau kerja, lebih baik minta persetujuan sama kakak gue dulu."

"Ya udah ayo samperin sekarang." Jisoo merangkul lengan Jennie. "Semakin cepat, semakin bagus."

***

"Kalian benaran gak tau keberadaan Jisoo?"

Hong Aera, mama kandung Jisoo, memanggil Rosé dan Lisa ke kediaman keluarga Kim demi menanyakan keberadaan putri bungsunya.

Rosé dan Lisa —dengan penuh rasa bersalah— menggeleng sebagai jawaban. Sebelum ke Busan, Jisoo sudah memperingati mereka untuk tak membocorkan keberadaannya pada siapapun, termasuk kepada keluarga eendiri. Alhasil, mereka rela berbohong di depan Aera yang kini tengah meneteskan airmata.

ACCIDENTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang