⚠️ Contains Adult Scene! ⚠️
***
Begitu silau netraku memandang, akibat dari cahaya yang menembus tirai jendela kamar. Kucoba membiasakan pandangan mataku pada sekitar, masih terasa sedikit kabur akibat baru bangun dari tidur yang lelap.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali hingga pandanganku menjadi jelas dan mendapati suasana baru dari penampakan kamar tidur yang kutempati. Teringat kalau aku menginap di penthouse Jung, setelah semalam, aku dan Haein bercinta untuk kedua kalinya, atau bisa dikatakan— yang pertama kali dalam keadaan sadar sepenuhnya.
Aku tersenyum malu kala mengingat kejadian semalam. Sayang sekali, kami tidak dapat menuntaskannya karena aku merasakan sakit seperti percintaan kami yang pertama. Padahal kupikir aku sudah sangat siap, rupanya tubuhku belum terbiasa dengan penyatuan erotis kami.
"Sudah bangun?"
Sedikit tersentak saat suara berat Haein tertangkap di telingaku. Baru sadar kalau aku masih dalam posisi tidur membelakanginya. Jangan lupakan tangannya yang memeluk dan membelai baby bump-ku.
Aku berbalik sebagai jawaban atas pertanyaannya barusan, sekaligus karena tak sabar ingin melihat wajah Haein yang baru bangun dari tidur. Hanya beberapa detik sejak netra kami saling berpandangan, aku kembali mengingat kejadian semalam. Gugup perlahan melandaku. Cara satu-satunya untuk menutupi kegugupan ini adalah dengan membenamkan wajah di dadanya.
"Hari ini, tidak ke kantor?"
Tanyaku membuka percakapan. Kurasakan bibirnya mengecup pucuk kepalaku. Huft, dia malah memelukku dengan mesranya alih-alih memberikan jawaban.
"Udahan peluk-peluknya, ayo siap-siap berangkat kerja."
"Aku cuti hari ini." Dia akhirnya menjawab. "Sengaja agar kita bisa menghabiskan waktu bersama sebelum kau kembali ke J Florist."
Aku tersenyum tipis. Jujur saja aku juga masih ingin menghabiskan waktu bersamanya. Kemarin kami langsung tertidur karena terlalu kelelahan. Tak banyak percakapan yang kami lakukan setelah pulang dari pesta pertunangan Suzy dan setelah percintaan erotis kami.
"Jadi, apa yang pertama-tama harus kita lakukan? Do you have any idea, bumil cantik?"
Haein semakin menenggelamkanku dalam pelukannya. Sebelah tangannya mengelus-elus punggungku sembari menunggu jawaban.
Berbicara tentang pendapat, tentu ada banyak yang ingin kulakukan bersamanya. Aku bahkan bingung hal apa yang pertama-tama akan kita lakukan dari banyak opsi yang terpikirkan di otakku.
Beberapa saat bergumul dengan pikiran untuk menentukan ide, aku kemudian mendongak menatapnya. "Aku punya beberapa opsi, tapi kalau bertanya tentang apa yang pertama-tama akan kita lakukan. Kurasa jawaban yang tepat adalah sarapan."
Tak banyak pertimbangan, Haein segera mengangguk setuju.
"Bahan-bahannya ada kan?"
Haein menggeleng. "Penthouse ini sudah lama tidak ditempati. Mustahil ada bahan masakan di dalam kulkas."
Aku benar-benar lupa kalau penthouse ini sudah kosong jauh sebelum kedatanganku ke Busan. "Berarti harus beli bahan-bahan dulu. Kalau begitu kita harus ke supermarket."
