20 - Jung's Penthouse

2K 256 49
                                        

Jennie tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita Jisoo. Pengakuan cinta yang harusnya jadi momen mendebarkan seketika berubah akibat tangisan gadis itu.

"Epik parah sih, gue harusnya ada disana jadi penonton."

Jisoo memanyunkan bibirnya. Padahal si ibu hamil berniat mengadu kisah pada Jennie karena malu akan tindakannya tadi, malah Jennie semakin membuatnya malu karena tak berhenti tertawa.

"Sayang banget, padahal harusnya ada adegan cipok-cipokan. Suasananya mendukung, di dalam mobil pula."

Well, Jennie with her wild imagination are back in action.

Jisoo sontak menyentil dahi Jennie agar tak semakin berpikiran liar.

"Aneh banget ya kalau gue tiba-tiba nangis tanpa alasan jelas?"

"Nggak kok." Jennie menggeleng, dengan sedikit tawa di ujung ucapannya. "Yang kayak gitu biasanya karena hormon ibu hamil."

"Iya kan, yang tadi pasti karena bayi gue merasa terharu."

Jennie mengiyakan saja apa yang Jisoo katakan. Jisoo memang kerap kali menyangkal perasaannya sendiri.

"Hai baby boy kesayangan aunty Jennie." Jennie mengelus gemas baby bump Jisoo.

"Senang ya karena papa Haein akhirnya confess ke mama Jisoo? Saking senangnya sampai mau nangis ya baby sayang?"

Ini sebenarnya sindiran halus untuk Jisoo. Jennie hanya ingin memberitahu secara tidak langsung kalau apa yang Jisoo rasakan bukanlah karena bayi di dalam perutnya, melainkan murni karena perasaannya sendiri.

Namun, Jisoo tak menghiraukan Jennie. Si ibu hamil malah tenggelam dalam lamunan akan kejadian tadi —saat Haein menenangkan dirinya yang tiba-tiba menangis.

Haein menarik tubuh Jisoo ke dalam dekapannya, mengucapkan kalimat penenang agar Jisoo meredakan tangis, dan berakhir dengan mengelus punggung sang gadis hingga tangis itu reda.

"Jadi, apa balasan confess-nya?" Suara Jennie kembali menginterupsi, tak lupa gadis itu mengeluarkan tatapan jahil.

"Gue gak sempat ngomong."

Jennie menepuk jidat, menyayangkan hal seharusnya tidak perlu ditunda-tunda.

"Ya ampun, Soo. Itu namanya lo gantungin dia." Decih tak percaya keluar dari mulut Jennie.

Jisoo membela diri. "Gue udah malu banget, benar-benar gak sanggup bicara."

"Tapi lo sebenarnya punya perasaan yang sama atau gak sih?" Jennie menghela napas.

Kelopak mata Jisoo berkedip, disusul dengan anggukan malu. Jennie bingung, dari dua opsi yang ia tanyakan, pertanyaan mana yang dijawab Jisoo?

"You're also in love with him?" Tanya Jennie memastikan.

Sekali lagi, Jisoo mengangguk malu-malu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Jennie sontak memekik heboh. Sebagai tim hore Jung Haein, ia seolah tak percaya dengan pengakuan langsung Jisoo. Bayangkan saja, kurang lebih enam tahun lamanya Jennie membantu Haein tuk bisa mendapatkan Jisoo. Baru sekarang usaha mereka terbayarkan.

"Lo serius, Soo? Sejak kapan?" Goda Jennie.

"Gak tau aah." Jisoo menyembunyikan wajah di lututnya yang tertekuk. "Jangan ditanyain terus, gue malu."

"Cieeelaahhh yang malu-malu kucing."

Jennie tertawa geli. "Tapi lo gak berpikir kalau itu bawaan bayi kan?"

ACCIDENTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang