Butuh perjuangan panjang demi mendapatkan cokelat saat dini hari.
Namun, Haein dengan mudahnya melupakan perjuangan yang ia lalui ketika menyaksikan Jisoo menyantap makanan manis tersebut dengan wajah bahagia. Jisoo yang tengah melahap cokelat hingga bungkus terakhir merupakan kesenangan tersendiri bagi Haein, apalagi saat gadis itu sesekali mengelus perut untuk berinteraksi dengan calon bayi. Seakan sedang memastikan kalau bayinya juga menyukai cokelat itu.
Haein diam-diam terkekeh saat menyadari mood Jisoo yang berubah dari bahagia ketika membuka tiap bungkusan coklat hingga sedih karena coklat-coklat tadi habis dilahapnya.
"Cokelatnya habis."
Haein bergegas mengambil segelas air. Kemudian memberikannya kepada Jisoo sebelum memilih duduk di samping gadis itu.
Jisoo meneguk air yang diberikan Haein sembari menatap sedih bungkus cokelat yang sudah tak berisi. Dari gerak-gerik Jisoo, Haein sadar kalau gadis itu masih ingin merasakan manisnya cokelat yang masuk ke mulut.
"Apa masih ada lagi?"
Nah kan, tebakan yang tepat.
Haein menggeleng. "Hanya itu yang bisa kudapatkan."
"If you still want that chocolate, I can get you some more."
Tidak.. tidak..
Itu akan merepotkan.
Apa Haein kembali berencana keluar untuk membeli cokelat? Hanya karena satu pertanyaan Jisoo tadi?
"You don't have to.." Jisoo cepat-cepat menolak. Keinginan bayinya harus dibatasi. "Ini sudah malam. Kakak gak perlu repot-repot."
"Mengidam bukan suatu hal yang merepotkan. Lagipula itu keinginan bayi, mana mungkin aku mengabaikannya."
Kata 'mengidam' —yang barusan Haein ucapkan— terus terulang di dalam otak Jisoo.
Gadis itu baru tersadar kalau ini adalah momen mengidamnya yang pertama sejak mengandung bayi di dalam perut. Dan hal itu terjadi saat Jisoo bersama Haein.
Apa sang bayi sedang mencari perhatian papanya?
"Boleh permisi sebentar?"
Jisoo menoleh bingung. Terlihat Haein yang memegang beberapa lembar tissu bersih yang entah karena apa ditunjukkan pada Jisoo.
"Tanganmu penuh cokelat."
Haein meraih pergelangan tangan Jisoo dan dengan menggunakan tissu tadi--- dibersihkannya sisa cokelat di telapak tangan Jisoo.
Walau masih sering terkejut karena tindakan Haein yang tiba-tiba, kali ini Jisoo hanya diam membiarkan. Lagipula tak masalah kan.. bayi di dalam perutnya pun senang dengan perhatian sederhana ini.
"Sebelum ini, apa kau sering mengidam di tengah malam?"
Pertanyaan itu terlontar setelah Haein membuang tissu -yang tadi dipakai tuk membersihkan telapak tangan Jisoo- ke keranjang sampah.
"Belum pernah.."
"Ini pertama kalinya aku mengidam." Jelas Jisoo.
Bukankah bayinya sama persis seperti Haein sewaktu masih dalam kandungan?
Calon bayi yang ingin mendapat perhatian dari papanya.
Haein tak lagi dapat menyembunyikan senyum. Sama hal dengan batinnya yang berseru girang di dalam sana.
"Sepertinya karena perubahan hormon. Aku sudah lama tidak makan yang manis-manis, jadi mungkin bayiku merindukan rasanya."
Alasan apapun yang Jisoo berikan seolah tak masuk ke telinga Haein. Lelaki itu hanya terlalu senang karena dialah yang pertama kali menyaksikan momen mengidam Jisoo.
KAMU SEDANG MEMBACA
ACCIDENT
Romantiek18+ || HaeSoo There are no mistakes, only beautiful accidents.
