Jisoo kini berada di sebelah Haein setelah pesta pertunangan usai. Sang gadis sengaja mengalihkan pandangan dengan sibuk berbincang bersama Suzy, hal yang terlihat jelas dalam sudut pandang Haein. Bahkan, saat Haein mencoba masuk dalam obrolan dua gadis di hadapannya, tak ada ucapan balasan dari Jisoo.
Apa gadis itu sengaja mengabaikannya karena kejadian kemarin?
Jisoo sama sekali tidak meliriknya, hanya deru napas yang berbeda dari biasanya yang terlihat aneh bagi Haein. Sang gadis------ nampak gugup dan gelisah.
"Jin dan Jennie menginap di hotel setelah aku menawari dua kamar gratis untuk malam ini." Ungkap Suzy ditengah perbincangannya dengan Jisoo.
Suzy dan tunangannya memang sengaja menyewa banyak kamar hotel untuk tempat istirahat para keluarga dan teman dekat. Pesta pertunangan menguras banyak tenaga, adalah pilihan tepat agar para keluarga dan teman dekat menginap di hotel alih-alih harus pulang ke rumah masing-masing dalam keadaan lelah total.
"Masih ada kamar kosong jika kau ingin beristirahat seorang diri. Tapi jika kau mau sekamar dengan Jennie, I'll take you there."
"Sorry Suzy but I can't. I have to go home." Tawaran Suzy malah mendapat penolakan dari Jisoo.
"Why?"
"I have something to do." Sambil mengelus tengkuk, Jisoo menyahut. "Aku benar-benar minta maaf."
"No problem, darl. Chill out."
Suzy meraih tangan Jisoo dengan lembut, wajahnya menampakkan rasa terima kasih atas bantuan yang Jisoo berikan di pesta pertunangannya. "Setelah ini beristirahatlah. Jaga kesehatanmu dan bayi di perutmu."
Tak ada pembahasan berat setelahnya. Perbincangan berakhir saat Jisoo pamit pulang pada Suzy dan tunangannya, tak ada sahutan apapun saat sang ibu hamil beranjak keluar dari gedung hotel. Ia terus berjalan tanpa ada niat untuk berbicara sedikit pun pada Haein.
Haein tentu saja tidak tinggal diam, ia mengejar Jisoo yang semakin bergerak menjauh. Rasa kesal mulai muncul saat Jisoo bahkan tak berbicara sepatah kata pun saat mereka berjalan bersebelahan. Gadis itu marah, tapi dengan tindakan yang tak masuk akal. Haein bahkan bingung bagaimana menanggapi seseorang yang diam dalam kemarahan. Lelaki itu malah lebih berharap kalau Jisoo mengomel panjang lebar padanya alih-alih mendiaminya.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Kepala Jisoo sedikit menoleh kemudian mengangguk kecil.
Haein merasa frustasi karena jawaban singkat dan padat itu. Namun, ia tidak mau percakapan berakhir dengan singkat. "Akan berbahaya kalau sendirian di toko, bagaimana jika ada penjahat yang tiba-tiba masuk?"
"Aku tidak----- wait what? I don't get it. "Jisoo malah balik memasang raut wajah heran.
"Bagaimana kalau malam ini kau menginap di tempatku? Setidaknya kau dan baby akan aman jika ada yang menemani."
Jisoo membuang pandangan dari Haein. Jarinya tergerak meremas gaun yang ia kenakan, membuat Haein berkesimpulan bahwa sang gadis masih marah padanya.
"Kalaupun masih marah padaku, kumohon pikirkan juga keselamatan kalian. Tidak masalah kalau kau tidak mau melihatku, yang penting aku bisa memastikan kalau kalian selamat."
"Apa maksud kakak? Memang siapa yang marah?" Cicit Jisoo.
"Kupikir-----" Haein menjeda. Jadi kalau bukan marah, apa-apaan sikap aneh tadi. "-----soalnya daritadi kau terus mengabaikanku."
"Itu bukan karena marah. A-aku hanya mencoba bersikap tenang."
"For what?" Haein makin heran, tapi ada sedikit rasa lega saat tau kalau Jisoo tidak sedang marah padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ACCIDENT
Storie d'amore18+ || HaeSoo There are no mistakes, only beautiful accidents.
