Doyoung hari ini masih belum begitu pulih, bahkan Renjun pun tidak menyetujui jika kakaknya bekerja hari ini.
Haechan bangun dari tidurnya dan melihat sekeliling.
'Oh iya kan nginep' batin Haechan.
Dia segera beranjak dari kasur Renjun dan membereskannya. Haechan masih punya malu, meskipun dirinya sering disebut pecicilan.
Sebelum membereskan kamar Renjun, Haechan juga sudah siap-siap untuk berangkat ke sekolah.
"Ren" panggil Haechan.
Setelah mendengar temannya memanggil Renjun segera keluar dari kamar sang kakak sambil membawa mangkuk dan gelas yang berada di atas nampan.
"Apa? Makannya nanti ya disekolah, soalnya kak Doy sakit ga masak" ujar Renjun.
"Oh iya, Ren cepet lu siap-siap lah, nanti kesiangan mampus" ucap Haechan, yang dijawab anggukan kecil oleh Renjun.
Memang ini sudah lumayan siang dan sepertinya mereka terlambat.
Meskipun terlambat mereka bersyukur masih bisa masuk kelas tanpa hukuman.
***
Kebetulan Hendery hari ini tidak ada kelas pagi. Sekitar pukul 14.00, Hendery pergi ke kampusnya dan melupakan barang yang sangat penting sekarang.
Hendery pun tidak ada pilihan lain selain meminta tolong pada Doyoung, sebab pada pukul ini Renjun belum pulang sekolah.
Hendery menghubungi Doyoung
Hendery: kak boleh minta tolong ga?
Doyoung: minta tolong apa?
Hendery: laptop aku ketinggalan kak lupa
Doyoung: iya kakak kesanain sekarang
Untuk kesekian kalinya Hendery lupa dengan laptopnya. Demi adiknya Doyoung beranjak pergi ke kampus dengan keadaan yang sedikit kacau, silau matahari disiang hari yang membuat pening dikepalanya, tetapi Doyoung tetap berusaha meskipun dengan keadaan yang seperti ini.
Pada saat menuju perjalanan pulang Doyoung benar-benar tidak kuat untuk menjalankan motornya. Oleh karena itu, dia istirahat sejenak ditempat teduh.
Meskipun teduh tetap saja panas dan rasa pening dikepalanya seiring waktu bertambah sakit.
"Eh ada kakaknya si Renjun tuh" ucap seorang anak laki-laki sambil memotret Doyoung.
+62: send a picture
+62: kakak lu lagi apa tuh, gua mau main bolehkan?
Renjun: woy jangan macem-macem sama kakak gua ya!
+62: telat lu
Setelah beberapa saat Renjun melihat tempatnya, dia kenal dan bergegas ke sana.
Sesampainya, benar saja ada motor milik Doyoung yang tergeletak tanpa adanya Doyoung. Tentu saja Renjun cemas, hingga dia berjalan mendekati gang yang lumayan sepi dan melihat Doyoung yang sedang disiksa habis-habisan oleh segerombol anak laki-laki.
Setelah melihat keberadaan Renjun segerombol anak laki-laki itu pergi berkeliaran dengan perintah dari salah satu murid sekelasnya.
Melihat sang kakak yang meringis kesakitan, Renjun benar-benar merasa bersalah.
"Kak mau ke rumah sakit ga?" tanya Renjun yang dijawab gelengan dari sang kakak.
Tanpa basa basi Renjun membawa Doyoung pulang ke rumah.
Tidak terasa mereka sudah sampai dirumah, hingga Renjun memulai menayakan sesuatu pada Doyoung sambil menhobati luka-lukanya.
"Kak kenapa keluar rumah? Padahalkan masih sakit, kata aku juga jangan dulu kerja. Kakak kerja?" tanya Renjun.
"Kakak ga kerja, tadi kakak mau beli roti sama obat tapi duduk dulu karena bosan" jawab Doyoung dengan bohong.
Renjun hanya mengangguk-angguk saja meskipun Renjun kurang percaya dengan Doyoung.
______
Oke bye~
Sampai jumpa di chap selanjutnya
Maaf jika ada typo
Makasih juga yang udah baca
Jangan lupa juga untuk voment >.~
KAMU SEDANG MEMBACA
MENINGGALKAN KEDUANYA
Fan-FictionRenjun seorang anak laki-laki yang hidup dengan kedua kakaknya Doyoung dan Hendery. Mereka hidup tanpa bimbingan dan kasih sayang orangtua.
