01

3.6K 371 63
                                        

Please enjoy yorobuuummm~























Tidak pernah terbayang sama sekali oleh Seulgi kalau dua temannya yang semasa sekolah tidak memiliki chemistry apapun itu, justru saat ini malah berdiri di depan Altar untuk mengucapkan janji suci sehidup semati di hadapan Tuhan dan saksi lainnya.

Setibanya di Jakarta tentu saja hal pertama yang dia lakukan adalah ke rumah Wendy dan bertanya, “Kok bisa?!” pada sahabatnya itu.

Dengan senyum malu-malu babinya, Wendy pun menceritakan bagaimana hubungan kontroversialnya dengan Yeri bermula.

“Lo tau kan gimana nggak akurnya kita pas SMA? tapi kita malah masuk di Universitas dan juga Fakultas yang sama walaupun beda Prodi. Awalnya gue mikir, yaudah lah ya dia kan anaknya sosial banget pasti nggak bakal lah ngerecokin gue yang ansos ini, eh ternyata gue salah besar karena hidup gue malah dibuat nggak tenang sama dia. Setiap hari minta bareng, curhat ini itu, bawel banget, berisiknya 24 jam sampe gue pusing sendiri.” keluhan Wendy membuat Seulgi tertawa kecil. Masih belum percaya jika dua orang berbeda watak itu akan menikah.

“Tapi pas dia punya pacar, gue tiba-tiba ngerasa sepi. Gue kangen direpotin dia, kangen suara cemprengnya kalau lagi nyanyi-nyanyi di mobil, kangen kerandoman dia yang tiba-tiba ngide ke Puncak, ke Bandung, malah pernah nih kita ke Jogja cuma gara-gara dia pengen nyobain gudeg yang katanya enak itu.” Wendy bercerita dengan kehebohan khasnya. Jika diingat kembali, kelakuan calon istrinya itu memang luar biasa membuatnya pusing.

“Pas dia pacaran gue bener-bener ngerasa kosong aja gitu, Gi. Di situ lah gue sadar kalau gue suka sama dia. Apalagi dia juga selalu ada di saat gue down, capek, sakit. Dia seperhatian itu. Jadi mustahil kalau gue nggak nyaman sama dia.”

“Terus lu confess?” Seulgi bertanya. Lima tusuk telur gulung sudah habis dia makan sambil mendengarkan cerita sang sahabat.

Wendy mengangguk “Iya, beberapa minggu setelah dia putus sama pacarnya.”

“Langsung diterima?”

“Nggak. Soalnya dia pikir gue cuma jadiin dia pengalihan perasaan gue atas Joy. Padahal nggak gitu.”

Seulgi menganggukan kepala, paham dengan alasan yang Yeri berikan. Wendy sudah menyukai Joy sejak lama dan tidak pernah ada lampu hijau yang gadis itu berikan. Dan saat Joy memiliki kekasih, dirinya lah yang menjadi saksi hancurnya sang sahabat karena Wendy sampai harus pergi ke tempatnya yang berjarak ratusan kilometer hanya untuk ‘lari’.

“Patah hati dong lu?”

“Banget! Kita sempat lost contact, ada kali 2 bulanan. Sampai tiba-tiba dia nge-chat duluan karena ngerasa kehilangan gue dan dia bilang rasanya lebih sakit dari pas putus sama mantannya.”

“Terus lo bales apa?” Ia bertanya dan dengan refleks memukul tangan Wendy yang ingin mengambil telur gulung miliknya.

“Pelit, anjing.” Omel Wendy sambil mengusap tangannya yang memerah.

“Bodo. Di Surabaya nggak ada telur gulung seenak di depan SD kita.” Balas Seulgi sambil menjauhkan plastik jajanannya dari jangkauan sang sahabat.

“Iya ya.. paling juara sih telur gulung si Abah.”

“Lanjut cerita Wen. Kok jadi bahas telur gulung sih, bego.”

“Ohiyaa. Yaa pokoknya abis dia bilang gitu, gue suruh lah dia untuk nggak kemana-mana di hari Minggu, soalnya gue mau ngelamar dia.”

“Anak gila!! Seriusan?” mata sipit itu melebar.

“Respon lo sama banget kayak dia.” komentar Wendy terhadap reaksi berlebihan sahabatnya itu.

SR - MANTAN ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang