LYM- delapan

306 152 290
                                        

                               °°°

Hai semua!!! Jangan lupa pencet bintangnya 🌟 ya!!!

Udah follow belum?!

                               °°°

              ••• HAPPY READING ••••

" Friska, buka pintunya!" ucap Akara, terus menggedor pintu kamar Friska.

Dari kemarin kejadian itu, Friska tidak mau keluar dari kamarnya.

Di dalam sana, Friska hanya menangis di pojok kamarnya sambil memeluk lututnya, hingga matanya sangat sembab, mukanya di penuhi air mata, mulutnya terlihat pucat, dan sepertinya tubuhnya sangat panas sekarang.

" Friska, sayang tolong buka pintunya ya cantik, mamah khawatir sama kamu."

Cukup lama keluarganya itu terus bersuara di depan kamarnya, tetapi tetap saja Friska tidak membukakan pintu sedikitpun untuk mereka.

Friska tidak tau harus apa, air matanya terus mengalir deras.

jika banyak orang tidak menyukaiku, untuk apa aku hidup? di dalam hatinya ia terus berucap begitu membuat Isakan tangisnya semakin terdengar keras.

Untuk apa adanya pertemanan jika akhirnya menjadi penghianatan? Tanyanya dalam hati terlihat begitu menyakitkan.

Hingga sekarang tubuhnya melemas, pandangannya membuyar dan seketika gelap.

" Minggir, papah coba dobrak, ini udah gak bener." Sang papa langsung mendobrak pintu itu yang di bantu Akara.

Brak!
pintu kamar itu akhirnya terbuka, mereka langsung menghampiri Friska yang sudah tak sadarkan diri di sana, dan langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.

...

" Friska tidak apa-apa dia hanya kecapean, kurang tidur dan terlihat banyak pikiran, kali ini di rawat dulu di sini saja biar bisa di pantau istirahatnya," ucap sang dokter yang memeriksa Friska.

" Baik dok terima kasih," kata Candra.

Setelah itu dokter pun pergi ke luar dari ruangan, di sana hanya ada Friska yang terbaring  masih tak sadarkan diri, dengan selang infus di tangannya, Anila yang terduduk di samping Friska, dan Candra yang berdiri di dekat pintu ruangan.

Cukup lama Friska tak sadar, hingga akhirnya tangannya bergerak, matanya pelan-pelan terbuka,  " eung ini di mana?"

" Akhirnya kamu bangun juga nak," ucap Anila sambil mengukir senyumnya, merasa lega.

Friska celingukan, ia tidak tahu ada di mana, seingatnya tadi ia masih berada di dalam kamarnya.

" Kamu ada di rumah sakit, tadi kamu pingsan."

" Pingsan?" Tanyanya kebingungan. " Oh ya, aku ingat." Friska terlihat sedih seperti ada sesuatu yang kembali pada hatinya juga pikirannya yang begitu menyakitkan.

" Are you oke?" tanya Anila khawatir atas perubahan mimik wajah Friska.

Friska megangguk berusaha menutupi rasa sakitnya.

...

" Heh tumben Friska gak masuk?" Tanya Della merasa aneh.

" Huuh tumben, biasanya pang rajinna." Balas Fitri yang juga merasa aneh.

" Hey si Friska mana?" tanya Della kepada Alika dan Diana.

" Kita gak tau," jawab Alika.

" Ko aneh, lu kan sahabatnya, kenapa lu bisa gak tau? Biasanya selalu tau," heran Della

Luka Yang MembekasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang