°°°
Hai semua!!! Jangan lupa pencet bintangnya 🌟 ya!!!
Udah follow belum?!
°°°
••• HAPPY READING ••••
"Papah akan kabulkan permintaan kamu kemari, tapi kasih papah alasan yang jelas untuk ini," ucap Candra tegas.
"Pokonya aku mau pindah pah," kata Friska menatap datar.
"Iya tapi alasan kamu apa, Friska!"
Friska hanya terdiam, ia terlihat benar-benar tidak bisa mengeluarkan semua kebenaran yang menyakitkan itu.
"Bicara Friska, kasih papah alasan!" Candra memaksa.
"Pokonya aku mau pindah, Pah!" kata Friska sama kerasnya.
"Kamu tidak mengerti apa yang papah katakan, hah?!" Candra semakin keras, dan Friska hanya terdiam.
Sudah cukup lama percakapan ini di mulai, tetapi Lagi-lagi Friska tidak bisa memberikan alasan.
"Papah cape maksa kamu lagi." Muka Candra memerah, terlihat begitu kesal dengan Friska yang ada di depannya.
Tidak lama ia pergi begitu saja dari kamar Friska, mungkin menenangkan dirinya.
Friska hanya terdiam, terduduk di atas kasurnya sambil memeluk lututnya cukup keras, mencoba menahan rasa sakit hatinya, dengan air mata yang terus mengalir, tidak bisa di bendung lagi.
Tidak lama, Anila datang menghampiri Friska. "Tenang in diri kamu, sekang mamah mau nanya, ada apa sebenarnya?"
Friska terdiam, mulutnya tertutup dengan rapat, ia masih belum bisa bicara apa yang sebenarnya terjadi.
"Ayo ngomong sama mamah, ada apa?" Paksa Anila yang tetap saja percuma, Friska hanya membalas dengan gelengan kepalanya.
Anila menghelai napasnya panjang, lalu membuangnya dengan kasar, "kamu beneran gak mau cerita sama mamah?" tanya Anila kembali yang tidak dapat jawaban dari Friska.
" Oke, kalau itu pilihan kamu, mamah gak bisa bantu apa-apa." Anila pun pergi meninggalkan Friska.
Saat itupun air mata Friska semakin mengalir deras, ia menangis sejadi jadinya sambil memegang rambutnya terlihat frustasi.
Maaf semuanya, aku tidak bisa membicarakannya, karena merasakannya saja sangat menyakitkan, apalagi mengungkapkannya... ucap Friska dalam hatinya, yang membuat Isakan tangisnya semakin terdengar keras.
...
Candra mendatangi SMA Garuda bangsa di saat jam istirahat, ia berjalan melewati para siswa-siswi yang baru saja keluar dari dalam kelas.
Candra terus berjalan hingga masuk ke dalam ruangan yang bertulisan ruang kepala sekolah.
" Maaf pak menganggu waktunya," kata Candra menjabat tangan kepala sekolah.
" Tidak apa, silahkan duduk."
Menjabat kembali tangan Candra, lalu keduanya pun terduduk.
"ngomong-ngomong ada apa ya pak sampai bapak datang ke sini."
" Jadi gini pak...."
...
"WOY LAH WOYYYYYYYY." teriak Fitri sambil berlari menuju kelas.
Brak!
Sampai kelas bukannya Fitri terduduk, ia malah memukul meja guru dengan keras, membuat semuanya menatap dirinya sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Luka Yang Membekas
Jugendliteratur{ BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA} Friska Mega Baswara seorang gadis cantik juga lucu, yang selalu mengikat rambutnya ini selalu di senangi oleh banyak orang karena kepintaran dan juga kebaikannya. pada suatu ketika tiba-tiba ia mendapatkan satu...
