LYM-lima belas

146 48 24
                                        

                                   °°°
Hai semua!!! Jangan lupa pencet bintangnya 🌟 ya!!!

Udah follow belum?!

                                   °°°

              ••• HAPPY READING ••••

Sekarang, Friska sedang bersiap memakai seragam barunya dengan rambut panjang yang sengaja ia geraikan, tanpa ada aksesoris apapun di kepalanya.

Ia sangat terlihat cantik, tetapi itu sama sekali buka dirinya, dia yang biasanya ceria dan mengikat rambutnya, kali ini benar-benar jauh berbeda.

Bahkan tidak ada senyum untuk pagi ini saja, sepertinya mengangkat ujung bibirnya sangat lebar itu adalah sesuatu yang sulit baginya pagi ini.

Haha gue gak kenal ini siapa katanya dalam hati  saat melihat pantulan dirinya dalam kaca dengan senyum yang terlihat begitu menyakitkan.

Tidak butuh waktu lama untuk dirinya bersiap, sekarang Friska  melangkah keluar dari kamarnya untuk segera pergi ke sekolah barunya dengan langkah yang tidak bersemangat.

Friska celingukan mencari keberadaan kedua orang tuanya yang sama sekali tidak terlihat, yang ada malah sang Abang yang berada di dapur sedang memasak dengan heboh.

"Friska kebetulan banget, sini kita sarapan dulu," ajak Akara yang telah berhasil memasak nasi goreng dengan  tangannya sendiri, walaupun banyak sekali cobaan baginya.

"Mana mamah sama papah?" Bukannya menerima ajakan Akara, Friska malah bertanya.

Akara langsung terdiam, ia bingung harus menjawab apa, ini pasti akan menyakitkan jika Friska tau kedua orangnya pergi mementingkan hal lain di timbang hari pertamanya masuk sekolah baru.

Friska berdehem, memecahkan lamunan Akara.

"Mamah sama papah ..., Mereka lagi ..., Keluar dulu sebentar ya keluar dulu," jawab Akara menjeda-jeda.

"Mereka kerja ya?" Tanya Friska kembali, menebak. Friska menghelai napasnya, ia sudah menduganya akan terjadi seperti ini.

Senyum yang sangat terlihat menyakitkan langsung terbit di wajahnya.

Karena dirinya sudah tidak bersemangat apa lagi untuk makan, Friska pun balik kanan melangkah begitu saja meninggalkan Akara.

"Heh mau ke mana?" Tanya Akara, menghentikan langkah Friska.

"Sekolah."

Akara langsung menyusul langkah Friska, "Abang anter ya, tunggu."

"Gak us–"

"Diem tunggu sebentar." Akara memotong perkataan Friska. Setelah itu ia berlari ke arah kamarnya untuk membawa kunci mobil kesayangannya juga jaket yang selalu ia pakai.

Di sana Friska mau tidak mau di anter ke sekolah oleh Akara, keputusan abangnya sudah bulat dan pasti susah untuk di bicarakan.

"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Akara di dalam mobil, mengawali pembicaraan.

Friska menatap abangnya dengan lekat, lalu menatap ke depan sambil menggelengkan kepalanya perlahan.

"Kamu yakin?" tanya Akara kembali.

Friska terdiam tidak menjawab pertanyaan itu, bagaimana dia menjawabnya? Dirinya sendiripun tidak tahu apa yang berada dalam pikirannya, semuanya terlihat rumit.

Setelah beberapa menit berada di dalam mobil yang membelah jalanan dengan keheningan, sekarang Friska sudah berada di depan sekolah barunya, ia terdiam sebentar menatap sekolah itu dengan lekat.

"Kamu kenapa? Takut?" tanya Akara saat melihat Friska tampak panik.

Friska menggeleng dengan pelan,
tidak lama dengan gugup ia keluar dari mobil sang Abang, lalu melangkah  memasuki sekolah itu perlahan.

"Semangat." Teriak Akara menunjukkan kepalanya dari jendela mobil, dengan cukup keras ia berteriak membuat orang-orang yang ada di sekitarnya langsung menatap dirinya.

Friska yang nampak malu atas teriakan abangnya langsung mempercepat langkahnya, itu benar-benar memalukan.

Lain dengan Akara yang nampak tidak peduli, bahkan ia menatap kembali orang-orang yang tadi menatapnya dengan tatapan dinginnya yang so cool.

Dan anehnya semua yang Akara tatap balik bukannya merasa aneh, tetapi malah berteriak seperti merasa kagum dengan akara, apalagi saat Akara memainkan rambutnya.

Nama sekolah baru Friska adalah trisatya harapan, sekolahnya  terlihat bagus dan bersih. Friska berharap banyak harapan yang bisa ia capai di sekolah ini, terutama dalam berdamai dengan dirinya sendiri.

Friska terus melangkah memasuki sekolah itu, tanpa menoleh kepada orang-orang yang menatapnya. Friska sebenarnya malas berada di posisi seperti ini, seolah menjadi pusat perhatian, tetapi bagaimana lagi, dia memang anak baru yang sudah menjadi kebiasaan di tatap oleh semua siswa yang banyak pertanyaan di kepalanya.

Bahkan para siswa itu ada yang sampai saling berbisik yang membuatnya merasa tidak nyaman berada di sana. Namun, ia mencoba agar tidak peduli dengan apa yang ada di sekitarnya.

Jangan pedulikan mereka Friska jangan! Ucapnya mengingatkan dalam hatinya.

Friska Menghentikan langkahnya di depan ruangan yang bertulisan ruang guru, terdiam sesaat sambil menarik napas nya panjang mencoba mengurangi kegugupannya.

Ayo Friska lu pasti bisa katanya dalam hati mencoba memberi semangat kepada dirinya sendiri.

Setelah itu Friska mulai melangkah masuk ke dalam ruangan di depannya. Awalnya ia cukup bingung tidak tahu harus kemana setelah masuk itu.

Namun, untungnya ia bertemu satu guru bernama pak Dian yang akhirnya mengurus dirinya.

Pak Dian memberikan beberapa pertanyaan, sambil sedikit-sedikit menyelipkan kelucuan. Namun, itu percuma Friska tidak terlihat sedikitpun tertawa bahkan tersenyum pun tidak.

"Baik, selamat bergabung di SMA ini, semoga kamu betah dan lebih semangat belajar di sini," ucap pak dian mengakhiri pembicaraan.

Friska cuman megangguk pelan juga tersenyum tipis.

"Ayo bapak antar ke kelas, bentar lagi masuk." Pak dian bangkit dari duduknya lalu melangkah pergi dengan Friska yang membuntutinya.

Friska merasa sangat gugup sekarang, walaupun tidak begitu terlihat.

Tidak lama ia sampai di depan kelasnya, terdiam menunggu pak Dian memanggilnya untuk masuk.

Keringat dingin membasahi tubuhnya, hatinya benar-benar berdetak dengan cepat.

Rasa takut, manik, khawatir bersatu begitu saja membuatnya sangat gelisah.

Entah apa yang terjadi, Friska yang biasanya pemberani kali ini terlihat sangat merasa takut, ia seperti benar-benar kehilangan dirinya sendiri.

Apa yang terjadi? Ini tidak terlihat seperti diri gue sendiri.

                               °°°°

Gimana ceritanya?? Next gak nih??

Penasaran gak sih apa sih kentut?? Yu ramein biar cepet update!!

Jangan lupa pencet bintangnya 🌟 dan juga komennya ya!!

Oh ya, follow juga akun wpku ya biar gak ketinggalan sama ceritanya, oke.

Oh sama satu lagi, kalau kalian suka sama ceritanya jangan lupa rekomendasiin juga ke temen kalian, biar bacanya makin seru, oke, thanks.

Luka Yang MembekasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang