LYM- sembilan

298 111 178
                                        

                                 °°°

Hai semua!!! Jangan lupa pencet bintangnya 🌟 ya!!!

Udah follow belum?!

                                 °°°

               ••• HAPPY READING ••••

Malam ini, malam ke dua Friska menginap di rumah sakit.

Tidak ada yang ia lakukan selain melamun, entahlah sepertinya hatinya masih merasa sakit, kejadian waktu itu terus berputar dalam pikirannya, dan melukai hatinya.

"Hey, kamu gak tidur sayang?" ucap Anila yang baru datang ke dalam ruangan.

Friska hanya menggeleng dengan raut wajah yang sangat terlihat sedih.

"Kamu kenapa? Akhir-akhir ini ... kamu aneh, cerita dong sama mamah." Anila mendekat, mengelus rambut Friska pelan.

"Kapan kita pulang?" tanya Friska menatap mata Anila begitu lekat, mengalihkan pembicaraan.

"Nanti sayang, kata dokter keadaan kamu belum stabil, jadi kamu masih harus nginep di sini."

"Tapi aku mau pulang, Mah." Friska menatap mamahnya –Anila– seperti memohon, ia terlihat benar-benar tidak nyaman berada di rumah sakit.

Anila terdiam beberapa menit, "Ya sekarang kamu tidur dulu, besok mamah coba ngomong sama dokter buat izinin kita pulang, ya." Anila membenarkan selimut yang Friska pakai, setelah itu ia mencium kening Friska dengan lembut.

Friska menghelai napasnya panjang, lalu mencoba memejamkan matanya, tertidur seperti yang di katakan mamahnya. Anila pun ikut tertidur di dekat Friska dengan keadaan terduduk.

Beberapa menit kemudian, Friska berhasil tertidur dengan pulas.

Namun, tidak lama...

"argh... JANGAN!" teriak Friska dengan napas yang tidak beraturan.

Kejadian waktu itu tidak henti-henti menganggu hidup Friska. Bahkan sampai ia tertidur pun kejadian itu tetap mengganggu nya.

"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Anila  yang ikut terbangun karena teriakan Friska.

Friska menggeleng, "cuman mimpi buruk."

"Yaudah, kamu tenang aja, itu cuman mimpi, sekarang kamu tarik napas yang panjang terus buang pelan-pelan," kata Anila yang di ikuti oleh Friska.

Cukup lama menenangkan dirinya, akhirnya Friska berhasil. Dan sekarang ia mencoba untuk tertidur kembali.

...

Tidak terasa malam telah usai, dan pagi telah datang. Friska terbangun dari tidurnya, dan merasa cukup tenang pagi ini.

"Pagi sayang!" ucap Anila begitu bersemangat pagi ini.

Friska tidak membalas, ia hanya tersenyum tipis yang bahkan hampir tak terlihat.

"Kamu tau gak, sayang...." Anila mendekat.

"Apa?" Friska mengerutkan keningnya.

"Mamah berhasil bujuk dokter buat izinin kita pulang hari ini." kata Anila terlihat sangat senang.

Lain dengan Friska yang hanya tersenyum lebar, tetapi tidak terlihat berasal dari hatinya, melainkan terlihat senyum yang di buat-buat.

"Tapi kamu harus rajin minum obat, biar bener-bener sembuh." Anila mencolek  hidung Friska sambil tersenyum terlihat menggemaskan

Siang ini Friska yang di izinkan pulang berada di depan rumah sakit menunggu sang papah menjemputnya.

Setelah menunggu cukup lama, sang papah  akhirnya datang juga. Friska langsung memasuki mobil dengan perlahan.

Luka Yang MembekasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang