LYM- dua belas

218 90 161
                                        

                               °°°

Hai semua!!! Jangan lupa pencet bintangnya 🌟 ya!!!

Udah follow belum?!

                                °°°

              ••• HAPPY READING ••••

Kayanya rencana gue berhasil, Daffa aja kaya kebingungan liat sikap Friska sekarang, di tambah udah lama friska gak masuk sekolah, haha dasar cupu, makannya jangan macem-macem Sama gue Friska ucap Kirana dalam hatinya dengan wajah yang terlihat sangat senang setelah mendengar perbincangan Antara Alika, Diana dan Daffa.

"Hey, lu ngapain di sini?" Tanya Gina, menepuk bahu Kirana yang terdiam di depan cafe sambil tersenyum kesenangan.

Kirana langsung tersadar dari lamunannya. "Gak, yu balik." Ia  meninggalkan Gina begitu saja tanpa menjelaskan apa yang ia lakukan sebelumnya, padahal Gina sangat penasaran dengan apa yang membuat Kirana bersikap seperti tadi.

Gina pun terdiam tepat di mana Kirana tadi berdiri dengan celingukan, dan wajah yang kebingungan.

"Daffa, Alika, Diana?" tanyanya kebingungan saat melihat di dalam cafe itu ada mereka yang ia sebut.

"Ada hubungan apa antara Kirana dengan mereka? Argh gue gak paham, bodo amat deh."  Setelah itu ia melangkah dan pergi menyusul Kirana, "Kirana tunggu gue."

Gina walaupun dia sahabat Kirana, ia memang tidak tahu tentang kejadian waktu itu.

...

Setelah bertemu Daffa, Alika dan Diana sekarang berada di depan rumah Friska, mereka benar-benar ingin memasuki rumah itu. Namun, mereka sepertinya belum siap untuk melewati apa yang nantinya akan terjadi, lebih tepatnya mereka tidak berani.

Tidak ada yang mereka lakukan di sana, hanya terdiam di dalam mobil, dengan jendela yang mereka buka agar bisa menatap jelas rumah Friska.

Rasanya mereka sangat khawatir dengan keadaan Friska setelah kejadian waktu itu, tapi mereka juga sangat takut.

"Kita beneran gak akan masuk, Lika?" Tanya Diana mengawali pembicaraan, dengan pandangan yang tetap mengarah ke rumah di depannya.

"Percuma kita masuk, yang ada nanti nambah masalah, Diana," balas Alika terlihat sangat sedih.

Diana menghelai napasnya panjang, terdiam memikirkan apa yang harus ia lakukan, tetapi yang di katakan Alika memang benar, situasi ini membuat semuanya semakin rumit.

Tidak lama, Diana dan Alika melihat Friska yang berada di kamarnya itu dari balik jendela, tidak begitu jelas, tetapi bisa membuat rasa khawatir mereka sedikit mereda.

"Itu Friska." Diana menunjuk ke arah jendela.

Alika dan Diana pun menatap ke sana dengan lekat sampai tidak terasa jika air mata mereka sudah mengalir membasahi pipi mereka.

Rasa bersalah dan rindu yang Alika dan Diana rasakan sekarang bercampur membuat dada mereka sangat terasa sesak.

"Gue pingin meluk Friska hiks," ucap Alika tidak begitu jelas karena Isakan tangisnya.

"Gue juga pingin hiks."

mereka saling tatap terdiam sebentar, tak lama langsung berpelukan begitu erat. Hingga mereka terlihat larut dalam pelukan hangat itu.

Namun, "Alika," panggil Diana masih berada di dalam pelukannya.

Alika berdehem, masih menikmati pelukannya yang nyaman.

Luka Yang MembekasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang