Jauzan yang baru aja mau melambai kecil jadi menurunkan tangannya waktu tiba-tiba mobil Naren melintas cepat melewati dirinya. Pikir Jauzan Naren akan berhenti tepat di depannya eh tau-taunya malah gas mobilnya terus bahkan tanpa pamit ke Jauzan. Ya mungkin aja Naren ada masalah mendadak di kantor atau sama seseorang, tapi biasanya Naren tuh selalu chat Jauzan dulu.
Kalau begini Jauzan kan jadi khawatir.
Jauzan : lo gak bisa jemput ya? Jauzan : kalo kaga gua nebeng temen aja dah
Jauzan menunggu balasan dari Naren sekitar sepuluh menitan tapi sama sekali nggak ada balasan dari cowok itu buat Jauzan menghela nafas. Otaknya berusaha berpikir positif kalau Naren pasti baik-baik aja tapi tetap gak bisa karena dari kejadian minggu lalu sampai sekarang wajah Naren sering kelihatan frustasi akan sesuatu.
"Woi Jan. Main ayo di rumah si Kafa."
Jauzan segera nepis hal negatif itu terus ngangguk pas temannya nyamperin dia. "Ayo dah."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ra!"
Naren berhasil mencegah Aurora yang mau masukin beberapa butir pil putih yang menjadi obat cewek itu sebagai penenang jika kambuh, namun Aurora sering meminumnya melebihi dosis makanya buat Naren khawatir bangeg.
"Ck, ngapain sih kamu datang?!" ketus Aurora sambil nepis tangan Naren yang megang tangannya yang melemas.
"Kenapa sih? Gue adalah salah sama lo?" tanya Naren dengan tangan gapai tangan Aurora lalu dia dekap erat banget. "Ra please, jangan kaya gini ya?" Aurora menunduk, sakit hatinya masih belum bisa pulih ditambah orang yang buat dia sakit hati hadir.
"Ren, gue capek," lirih cewek itu.
Rambut Aurora yang sudah basah dan berantakan dirapihkan dengan lembut sama Naren, cowok itu ngecup kening Aurora penuh sayang dan membawa gadis itu ke tempat tidur apartemen Aurora. Naren menidurkan Aurora yang tubuhnya tidak lagi gemetar kaya tadi, dan cewek itu juga gak berontak kaya tadi.
"Capek ya Ra jadi kamu?" Aurora mengangguk dengan tangan megang tangan Naren erat seakan cowok itu ingin direbut oleh seseorang. "Maaf ya aku udah buat capek kamu? Maaf juga kalau aku buat salah lagi kali ini," kata Naren.
Naren bukan yang merasa bersalah karena menjadikan gadis ini yang kedua, tapi dia hanya merasakan kasihan kepada Aurora yang keadaannya semakin hari semakin miris. Jelas Naren tau penyebab Aurora semakin kaya gini, siapalagi kalau bukan Naren? Ternyata menjadikan Aurora pacar dan menuruti kemauan gadis ini tanpa ragu bukan jalan keluarnya.
Naren baru sadar dan menyesal kalau ucapannya yang bilang iya tanpa ragu ke Aurora membuat Aurora semakin terobsesi kepadanya. Contohnya aja kalau Aurora minta sesuatu hal yang Naren tolak Aurora akan menggila, menggila dalam artian akan menyakiti tubuhnya sendiri. Maka dari itu Naren menyewa pembantu untuk menjaga Aurora dan melihati keadaan Aurora, ditambah dia juga minta ke psikiater sebuah obat penenang.