•37•

25.4K 2.4K 177
                                        

Naren bangkit dari tidurnya dengan tangannya memegang kepalanya yang kerasa pusing banget, gimana nggak pusing dia tadi malam ngehabisin banyak banget alkohol. Di kepalanya Naren tuh udah pengen banget nyusul Aurora dengan cara yang sama, namun rasa bersalahnya kepada Jauzan buat dia mengurungkan niat. Gak mungkin dia pergi gitu aja ninggalin Jauzan yangyanv terpuruk karena dirinya.

Ngomong-ngomong udah satu bulan aja Aurora pergi dan dari kejadian itu Naren menepati janjinya untuk gak ke makam Aurora atau bahkan pergi menampakkan diri ke Jauzan. Takut. Itu yang ia rasakan. Bahkan dia menjadi lebih penyendiri, terbukti dengan rumah yang berantakan tanpa seorang pembantu yang emang sengaja dia keluarkan. Ntah kenapa Naren makin sulit berinteraksi dengan orang-orang karena takut melukai orang itu.

Orang tuanya Naren juga udah berusaha biar anaknya gak seperti ini karena takut mengulang yang pernah terjadi namun Naren selalu bilang dirinya tidak apa-apa. Ini mungkin fase di mana Naren ngerasa kalau dia lelah banget, tapi dia yakin dia akan berubah seiringnya waktu. Walau gitu orang tua Naren tetap aja khawatir.

Bel rumah berbunyi buat cowok itu dengan sempoyongan membereskan yang berantakan di kamarnya lalu beralih ke bawa untuk membuka pintu. Matanya melebar saat tau bundanya Jauzan ada di depan dia sekarang ini. Aneh aja dia udah sebulan ini gak ada interaksi sama keluarga Jauzan tapi tiba-tiba bunda Jauzan ada di depan dia.

Cowok itu dengan cepat langsung menutup pintunya lagi, tangan bergetar. Perasaan yang kadang membaik kembali muncul ke permukaan buat tangan Naren megang dadanya yang kerasa sakit. Suara gedoran pintu tepat di belakangnya terus-terusan bersuara tapi hanya dengungan yang Naren dengar dari telinganya.

Selama beberapa menit akhirnya cowok itu kembali merasakan nafasnya yang normal dan gak sesesak tadi dan ketukan di pintu pun berhenti. Iya begini keadaan Naren selama kepergian Aurora, dia bakalan panik kalau ketemu keluarga Jauzan karena masih mengganjal rasa bersalah dalam hatinya telah buat Aurora pergi, bahkan sama orang baru pun Naren suka merasakn hal ini tanpa sebab.

Capek. Naren capek banget, pengen ngeakhiri hidupnya tapi merasa gak adil dengan Jauzan yang lebih capek dari dia selama ini. Tapi kalau dia bertahan terus ya dia kaya orang hilang akal kaya gini.

"Ren, tante mau bicara sama kamu."

Jantung Naren kembali macu cepat tapi gak separah tadi. "Tante pulang aja. Aku lagi banyak kerjaan," usir dia tanpa mau ngebuka pintu rumahnya itu.

"Tante gak marah sama kamu Naren, tante cuman mau ngobrol sama kamu," kata bunda Jauzan yang masih setia di depan pintu Naren.

Naren mengelap keringatnya di kening, dia berusaha menetralkan detang jantungnya lalu perlahan cowok itu membuka pintu untuk bundanya Jauzan. Dia takut kalau menolak malah semakin merasa bersalah nantinya jadi lebih baik dia buka aja.

"Kamu apa kabar?"

Naren dan bunda Jauzan udah duduk di sofa rumah Naren dengan dua cangkir teh yang baru aja Naren buat tadi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Naren dan bunda Jauzan udah duduk di sofa rumah Naren dengan dua cangkir teh yang baru aja Naren buat tadi. Keadaan hening setelah Naren meletakkan secangkir teh di depan bundanya Jauzan, hal itu membuat Naren semakin menunduk dan enggan menatap wanita di depannya.

OUR STORY [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang