•38•

24.5K 2.3K 384
                                        

six years later

Naren turun dari mobilnya, membuka kaca mata hitamnya terus ia gantung di kancing kemeja dia tepat di dada. Nafasnya berhembus perlahan dengan langkah kaki pelan-pelan memasuki daerah rerumputan yang dipenuhi makam-makam orang.

Setelah kejadian enam tahun berlalu akhirnya Naren untuk kedua kalinya memberanikan diri untuk berkunjung ke tempat ini. Dengan perjuangan untuk sembuh yang berhasil dia lewatin dalam dua tahun itu juga mendorong cowok ini untuk menginjakkan kaki di tempat yang sekarang dia datangi.

Matanya langsung menangkap batu nisan yang dia tetap ingat walau hanya sekali dia lihat waktu itu, cowok itu jalan ke arah batu nisan itu. Naren jongkok perlahan di samping batu nisan dengan bertuliskan nama adik perempuan dia yang paling dia sayangi dan yang paling berharga dalam hidupnya. Aurora.

"Halo, princess," sapanya pelan dengan mata sedikit berair dan tangan meletakkan beberapa tangan bunga atas tanah yang menutupi tubuh Aurora. Naren membuang nafasnya pelan dengan tangan mengelus batu nisan berwarna kecoklatan itu dengan lembut.

"Apa kabar Ra?" Naren diam, kata-kata yang sudah berterbangan di kepalanya sebelum dia ke sini hilang gitu aja. Kaya ada benda yang nyangkut di tenggorokan dia sampe-sampe Naren susah untuk bicara. Maklum, ini kedua kalinya Naren menyapa Aurora setelah enam tahun lamanya. Rasa bersalah itu jelas kembali hadir namun Naren berusaha kontrol dirinya.

"Gue berhasil Ra, berhasil keluar dari lubang hitam yang gue masukin. Gue berhasil," katanya mengadu ke gundukan tanah di depannya. "Tapi, gue masih belom berhasil untuk ngelupain seseorang. Tepatnya gue masih jatuh cinta ke dia yang jelas-jelas udah terikat sama orang lain. Gue jahat ya Ra?"

Naren kembali diam, menatap kosong ke arah tanah di depan dia. Pikirannya bercabang ke mana-mana gak tau harus mengeluarkan kalimat apalagi saking banyaknya kalimat yang dia simpan selama 6 tahun belakangan ini, tibanya ada kesempatan untuk bertemu Aurora Naren malah blank begini.

Naren memang nepatin janjinya sama cowoo itu untuk gak berinteraksi sama cowok itu maupun Aurora yang notabenya adiknya sendiri tapi untuk kali ini Naren ingkarin janji itu. Dia kangen banget sama Aurora dan ingin pamer juga ke Aurora kalau dirinya sudah sehat sepenuhnya makanya dia beraniin diri datang ke rumah Aurora selama enam tahun ini.

"Ra, gue kangen.." lirihnya dengan air mata mengalir perlahan. Tangan cowok itu mengepal di atas makam Aurora dengan urat-urat bermunculan, hatinya kerasa banget denyut sakitnya. "Gue kangen lo sama Ujan Ra, gue kangen.." Naren terisak saat berhasil nyebutin nama cowok itu setelah sekian lama.

"Gua mau egois soal perasaan gua tapi gua gak bisa Ra, gua gak mau nentang takdir, gua gak mau nyakitin Ujan lagi tapi gua gak pernah siap lihat Ujan sama orang lain." cowok itu terus terisak dan menunduk. "Ujan just only me but i know it's impossible."

Setelah beberapa menit diam dan nikmatin nangisnya Naren perlahan bangkit tapi sebelum itu dia ngecup lembut makam Aurora. "Gue pamit ya? Kapan-kapan gue ke sini lagi. Maaf datang-datang malah nangis, gue sayang lo." Cowok itu balik badan terus jalan menjauhi makan Aurora.

Waktu Naren udah sampe di dekat mobilnya mata dia gak sengaja tuh nangkap dua cowok orang yang baru aja turun dari mobil, mata Naren jelas membulat karena dia jelas banget tau siapa dua cowok itu. Jauzan dan tunangannya. Naren buru-buru masuk ke mobil waktu Jauzan nolehin kepalanya natap ke arah dirinya, Naren dengan cepat langsung gas mobilnya pergi.

Naren berhentiin mobilnya saat dia merasa udah jauh dari jangkauan Jauzan tadi, nafas cowok itu memburu tanpa sebab. Gak, Naren gak kambuh lagi karena dia memang udah benar-benar sembuh mungkin ini efek karena bertemu Jauzan setelah sekian lama. Terakhir tuh dia dengar kabar Jauzan dari bundanya yang mendatangi Naren memberikan undangan tunangan Jauzan 5 tahun lalu.

OUR STORY [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang