•40•

25.7K 2.3K 111
                                        

"Jangan temuin gue lagi Jan," kata Naren dengan mata yang sama sekali gak mau natap Jauzan yang berdiri di depan dia.

"Gue minta maaf sama kata-kata gue yang terakhir kali kita ketemu, padahal kita sama-sama menderita karena Aurora pergi. Sorry gue gak sadar lo juga terpuruk soal itu bahkan lo lebih terpuruk dari gue," kata Jauzan merasa bersalah banget.

"Gak papa. Udah kan? Sekarang pulang ya Jan?" Naren balik badan ingin masuk karena gak tahan dengan denyut nadinya yang berdetak pedih sekaligus senang karena berhasil ngobrol dengan Jauzan.

"Ren," panggil Jauzan rendah. "Gue salah besar banget ya sampai lo gak mau natap gue?" tanya cowok itu. Jauzan bingung sedari tadi mata Naren gak mau bertatapan dengan dia, mungkin benar kata bundanya kalau mental Naren beneran terganggu setelah kejadian itu.

Jauzan ingin ditatap dengan Naren biar dia puas ngelihatin wajah cowok ini yang sudah beberapa tahun gak ketemu. Bohong banget Jauzan gak kangen sama Naren, dia kangen, kangen banget malah dan Jauzan bahkan udah gak peduli kalau dia nyakitin hati Sean. Di pikiran Jauzan tuh apa salahnya dia kangen sama cowok yang pernah hadir di hidupnya? Apalagi Jauzan sedang di posisi diragukan perasaannya oleh Sean.

Naren membuang nafasnya pelan, dia kembali berbalik menghadap Jauzan lalu cowok itu menunduk natap Jauzan yang tubuhnya lebih rendah dari tubuh tegap Naren. Perlahan Naren menunduk, natap dengan jelas mata Jauzan yang berair natap ke arah dia. Dua cowok itu saling tatap tanpa suara buat suara jantung keduanya sedikit terdengar.

Gak tau apa yang dipikiran Naren, tangan Naren udah narik tengkuk Jauzan dan menempelkan bibirnya ke bibir Jauzan yang terbuka. Jauzan yang kaget dengan tindakan Naren membeku berbeda dengan Naren yang mulai menikmati bibir Jauzan walau tidak ada balasan sama sekali. Setelah beberap saat Naren ngecup singkat bibir Jauzan sebagai penutup, jari cowok itu ngusap lembut bibir Jauzan yang si empunya masih bengong.

"Udah jelaskan kenapa gue suruh lo pulang?"

Jauzan yang lagi sibuk megangi bibirnya dengan pikiran yang terus melayang ke kejadian di rumah Naren dikagetkan dengan suara pintu apartemen

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jauzan yang lagi sibuk megangi bibirnya dengan pikiran yang terus melayang ke kejadian di rumah Naren dikagetkan dengan suara pintu apartemen. Cowok itu buru-buru bangkit dan mendekat ke arah Sean yang berjalan sempoyongan yang tiba-tiba jatuh ke tubuhnya, buat Jauzan dengan sigap menangkap tubuh cowok itu.

"Kamu mabuk lagi. Padahal kamu sendiri yang bilang harus saling terbuka tapi waktu ada masalah aja kamu mabuk-mabukan," kata Jauzan pelan sambil ngebawa tubuh Sean ke sofa.

"Lo bisa diam gak sih?" bentak Sean waktu Jauzan ngomel sambil bersihin badannya Sean.

"Jangan marah-marah dah lo, kan gue ngomel begini demi kebaikan lo," marah Jauzan walau gitu dia tetap telaten bersihin badannya Sean.

Sean bangkit dan nepis tangan Jauzan buat Jauzan menghela nafas gak heran karena ya dia udah hapal banget kebiasaan Sean kalau mabuk. "Kita pisah aja lah Jan, gue ngerasa udah gak cocok sama lo."

OUR STORY [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang