Jauzan tersentak waktu sedang natap dirinya yang udah kebalut kemeja hitam dan turtleneck putih sebagai dalamnnya berbalik waktu bunda tiba-tiba aja masuk ke dalam ruangan tempat dia berdiri sedari tadi. Jauzan jalan ke arah bunda terus meluk bunda erat banget buat bunda ngelus pelan tubuh tegap Jauzan.
"Nda, apa kali ini Ujan bakalan berhasil?" tanyanya pelan.
Bunda terdiam beberapa saat terus melepaskan pelukan erat Jauzan. Wanita itu mendongak dan natap Jauzan dengan mata yang udah basah. "Berhasil. Bunda yakin, yang kali ini memang takdirnya Ujan selamanya."
"Ujan takut nda.."
"I know sayang, dulu emang kamu belum nemuin orang yang benar-benar tempat sama kamu makanya gak berhasil. Tapi trust me kalau yang ini bakalan berhasil."
Jauzan membuang nafasnya pelan, cowok ini berusaha menghapus pikiran-pikiran buruk yang dari kemarin tiba-tiba terus menghantui Jauzan. "Tapi ini orang yang sama bunda, yang pernah gagal sama Jauzan."
"Apa yang salah sama itu? Justru karena kegagalan itu kalian bisa-bisa sama memperbaiki kesalah masing-masing," kata bunda berusaha menenangkan anak laki-lakinya itu. "Jangan biarin pikiran kamu berantakin semuanya yang udah kalian perbaiki Jauzan. Bunda juga gak mau kamu gagal lagi, udah cukup ya rasa sakitnya?"
Kembali Jauzan meluk sang bunda dengan perasaan sedikit lega karena kata-kata bunda barusan, perlahan cowok itu ngeluarin air matanya yang dari kemarin susah banget untuk keluar padahal dia udah sesak banget dadanya. Bunda ada benarnya, kalau pikiran kotor dia berhasil menguasai dirinya pasti acara hari ini akan kacau balau Jauzan gak mau ngelukain Naren lagi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"KALI INI KITA BAKALAN NEXT KE ACARA PASANG CINCIN!!!" teriak sang mc berisik buat para tamu undangan tepuk tangan meriah.
Kedua peran utama yang sedang menjadi pusat tiba-tiba merasakan jantung mereka macu sedikit cepat, mungkin dulu moment kaya gini moment paling mereka benci makanya rasanya beda banget untuk kali ini. Jadi ya wajar aja nih mereka deg-degan parah apalagi para tamu undangan natap mereka exctied plus gemes gitu.
Naren menghadap ke arah Jauzan begitu juga dengan Jauzan yang menghadap Naren, keduanya saling tatap buat wajah keduanya sedikit memerah. Rasanya baru pertama kali mereka melakukan hal ini padahal ini udah kedua kalinya untuk mereka tapi gak usah heran mereka kali ini benar-benar udah pakai perasaan, gak seperti dulu lagi yang dengan rasa paksaan.
"Ayo Naren ambil cincinnya pasang ke jemari Jauzan."
Naren mengambil cincin yang berada di samping tubuh Naren yang terletak di atas meja kecil, setelah itu cowok itu mengambil dengan lembut tangan Jauzan dengan tangan yang sedikit gemetar. Ketakutan Naren waktu itu tiba-tiba kembali hadir buat dirinya keringat dingin dengan nafas terburu-buru, Naren takut lagi-lagi buat Jauzan terluka.
Jauzan sadar ada yang gak beres dengan Naren buat dirinya perlahan maju. "Kali ini kita bakalan berhasil, trust me," ucap Jauzan pelan buat Naren natap Jauzan yang natap dia dengan senyum lebar.