Jauzan gerakin badannya yang kerasa pegal. Dia buka matanya pelan-pelan untuk menyesuaikan terangnya lampu dalam tenda yang dia tiduri. Kepalanya gerak ke sana ke mari untuk cari Naren yang statusnya suami dia.
Suara berisik dari luar buat Jauzan bernafas lega, apalagi itu suara Naren dengan dua anak lainnya. Ujan buru-buru benerin rambutnya yang berantakn terus ngebuka tenda yang dirinya langsung jadi pusat perhatian tiga manusia yang asik ngobrol di depan tenda.
"Ajan udah bangun," ucap Renja anak yang duduk di bangku kelas satu itu sambil lari habis itu meluk Jauzan erat.
Jauzan langsung aja nerima tubuh si kecil Renja dan mengecupi puncak kepalanya sayang. "Morning Renja," ucap Jauzan senyum kecil terus nolehin kepalanya lagi ke Renjani yang lagi duduk di pangkuan Naren.
Jauzan gendong Renja untuk ikut duduk bareng si gadis kecil berusia 10 tahun itu bersama Naren. Pas Jauzan di samping Naren, Naren senyum lembut terus ngecup bibir Jauzan dan ia halangin dengan telapak tangan biar kedua anak mereka gak lihat.
"Narendra," ucap Jauzan masih malu kalau berbuat kaya gini depan dua malaikat kecilnya walau ya Naren nutupin hal itu.
"Morning Ajan," ucap Renjani buat Jauzan nepuk rambutnya karena Renjani gak suka dicium.
"Morning Renjani."
Renjani kembali sibuk sama gelang yang dia rakit di tangannya sambil duduk nyaman di pangkuan Naren, sedangkan Renjan meluk Jauzan erat dan kembali tidur karena masih ngerasa ngantuk.
Mari kita ceritakan gimana bisa keduanya udah punya anak dengan gender sama yang mustahil menghasilkan anak. Jadi, setelah menikah bisa dibilang dua tahun setelah menikah Naren bersikeras untuk adopsi anak sedangkan Jauzan masih enggan karena dia gak terlalu ahli dalam ngurus anak.
Tapi kalau dipikir-pikir Naren udah banyak kasih hal berharga ke Jauzan buat Jauzan berpikir soal adopsi anak. Pertama mereka memutuskan untuk adopsi Renjani, perempuan yang mereka pungut dari bayi lalu setelah Renjani sedikit mulai dewasa mereka kembali adopsi Renjan si anak balita laki-laki.
Awalnya Jauzan sedikit kerepotan ngurus Renjani karena first time kan? Cuman dukungan positif tuh ngalir mulu buat Jauzan jalaninnya lumayan santai sambil belajar, gitu juga Naren.
Setelah udah terbiasa urus Renjani, mereka mulai ambil langkah adopsi Renjan untuk temen bagi Renjani dan syukurnya Renjani nerima itu dengan baik walau usianya masih dibilang anak-anak juga.
Tapi memang sifat Renjani termasuk pendiam dan gak terlalu ekspresif seperti Renjan, jadi kaya saling melengkapi gitu buat Naren dan Jauzan menghela nafas lega soal itu.
"Renjani sudah lapar belum?" Tanya Jauzan lembut.
Renjani geleng kepala karena dia tadi barusan makan roti buat Daren (Daddy Naren). "Tadi udah makam roti sama Daren, Ajan."
Beginilah mereka setiap hari weekend pasti ngelakuin picnic atau sekedar jalan ke mana gitu berempat. Dan ini keputusan yang Naren buat supaya keluarganya tuh tetap akrab satu sama lain di tengah kesibukan kegiatan masing-masing. Kaya Naren yang kerja, Jauzan yang juga kerja walau di rumah dan anak-anak yang sekolah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.