•32•

23.1K 2.5K 347
                                        

Jauzan duduk tenang di hadapan Naren yang natap dia dengan tatapan sendu, sedangkan sama Jauzan dibalas tatapan datar. Marah. Perasaan yang menggambarkan perasaan Jauzan saat ini. Banyak pertanyaan dalam otaknya yang ingin dia tanyakan pada cowok di depan dia ini tapi gak, dia gak mau. Biarin otaknya menerka-nerka apa yang terjadi. Jauzan udah capeklah berpikir positif mulu kalau ternyata semuanya tuh gak ada positif-positifnya.

"Jan, gue beneran kalau buru-buru tuh kalo ya gak urusan kantor pasti urusan kampus. Percaya sama gue ya?" Naren tubuhnya sedikit bergetar, ketakutan dia sekarang ini takut akan kehilangan Jauzan. "Jan ayo dong ngomong. Lo tanya gue, gue bakalan jawab."

"Apa yang perlu gue tanya kalo lo bakalan nutupin semuanya," kata Jauzan sarkas dan natap nyalang penuh amarah ke Naren.

Bingung gak sih, Jauzan itu harusnya punya hak soal urusan Naren tapi Jauzan selalu ada perasaan kalau dia gak berhak untuk tau apa urusan Naren makanya dia selalu berpikir positif. Namun gak untuk pagi ini, Naren pulang pagi-pagi dan lagi lagi gak nepatin omongannya yang bakalan pulang malam itu setelah itu tiba-tiba mami Naren datang ketepatan Naren juga pulang dan Naren langsung dihujani pertanyaan-pertanyaan yang buat Jauzan gak bisa berpikir positif lagi.

Kantor Naren sedang baik-baik aja, terus kenapa Naren selalu punya urusan mendadak soal kantornya kata cowok itu? Naren bisa tiba-tiba panik dan beralasan ada tugas kuliah mendadak padahal kata mami Naren hampir tidak pernah kaya gitu. Lalu, mami Naren bilang ke Jauzan mau sebanyak apapun urusan Naren cowok itu pasti bisa handle saat itu juga dan gak sampai ninggalin rumahnya satu harian penuh. Kalau pun ninggalin rumahnya itu karena urusan kantor.

Jadi, pertanyaan gini, ke mana Naren beberapa hari ini yang selalu mendadak tiba-tiba ada urusan dengan wajah paniknya? Jauzan harus berpikir positif bagaimana lagi?

"Gue gak bohong Jan," bantah Naren. Naren berharap untuk Jauzan semoga percaya terus sama omongannya sampai dia siap ceritain semuanya ke cowok itu. Untunglah tadi mami ada urusan sampe-sampe Naren gak perlu pakai banyak alasan untuk jawab.

Jauzan ngeratin tangannya untuk nahan sesuatu dalam dirinya yang ingin meledak. "Gue ada hak gak sih nanya ini sama lo?" kata Jauzan dengan suara dinginnya.

"Lo mau tanya apa?"

"Dulu waktu lo sama Aurora, mau urusan mendadak sekalipun lo bakal prioritasin dia. Tapi untuk gua kenapa beda?" Jauzan narik nafasnya karena ngerasain denyutan pedih di dadanya. "Mau ada urusan mendadak pun lo bakalan langsung gas walau lo ada janji atau urusan sama gue. Kenapa anjir?"

Naren terkesiap. Cowok itu sedikit linglung karena pertanyaan Jauzan barusan, dia gak nyangka kalau Jauzan bakalan nanya hal ini ke dia. Dia pikir Jauzan gak bakalan merasa kalau Naren gak memprioritaskan cowok ini, dia lebih memprioritaskan rasa takut kehilangan Jauzan sampai-sampai dia lebih mentingin keadaan Aurora yang dia takuti kenapa-kenapa dan bisa berefek Jauzan benci dirinya. Sialan. Naren bodoh.

"J-Jan—"

"Kenapa? Lo gak bisa jawab, kan?"

Naren menggeleng, cowok itu nyamperin Jauzan dan megang pundak Jauzan. "Gue bisa, gue bisa jawabnya oke? Kasih gue waktu dulu."

Jauzan nepis tangan Naren terus dia bangkit dari sofa. Cowok itu natap Naren dingin. "Kenapa lo gak bisa jawab pertanyaan simple gue?" cowok yang lebih pendek ini diam beberapa saat. "Karena sebenarnya hati lo masih tertinggal di Aurora, bukan di gue Ren."

Jauzan pergi ninggalin Naren yang natap punggung cowok itu dengan mata memerah, sumpah demi Tuhan Naren gak ninggalin hatinya di Aurora dia benar-benar udah jatuh sama Jauzan. Tapi Naren sadar cara dia mencintai Aurora dan Jauzan sangat banyak perbedaan, ditambah rasa takut kehilangan Jauzan lebih mendominasi sampai-sampai Naren lupa kalau bukan itu yang Jauzan mau.

OUR STORY [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang