•35•

26K 2.6K 754
                                        

"Jan lo tau kenapa bunda sama ayah lebih pilih lo daripada gue untuk dijodohin Naren yang straight?" Aurora yang tiba-tiba ngeluarin kalimat buat yang di meja makan memusatkan tatapannya ke gadis itu. Aurora gigit bibir untuk nahan tangis yang siap keluar karena saking sakitnya hatinya selalu Jauzan yang diprotect padahal notabenya Jauzan anak cowok di sini. "Karena mereka takut lo jatuh ke tangan cowok yang salah, karena penyakit lo itu. Bunda takut penyakit yang ada di kepala gak sembuh-sembuh, dan trauma lo makin kambuh!"

"Aurora.." tegur bunda dengan suara pelan.

"Bun, ayolah jangan sembunyi terus. Ceritain yang sebenarnya biar anak ini paham maksud baik bunda biar dia juga gak semena-mena sama bunda!" bentak Aurora tak tahan dengan mata memerah. "Sedangkan gue? Gue bebas Jan mau sama siapapun, mau mereka jahat atau gak sama gue ayah dan bunda gak peduli. Karena di sini yang dilindungi itu lo, not me!"

Sedari Aurora mengeluarkan unek-uneknya, orang tua Naren memilih diam sambil menatap gadis itu prihatin gitu juga dengan Naren yang tak berani menyela omongan Aurora yang meledak-ledak. Dia juga gak tau harus apa di sini, karena dia juga masih belum nemu jawaban yang masuk akal kenapa orang tuanya lebih milih jodohin dia sama cowok daripada cewek.

Bukan, bukan Naren nyesal dijodohin sama Jauzan ya emang sempat cuman itu hanya waktu di awal gak untuk hari ini. Naren beneran udah jatuh cinta sama Jauzan namun ntah kenapa Naren kaya belum bisa nerima alasan maminya kenapa dia dijodohin sama Jauzan.

"Bun, gak bener kan? Jangan jadiin Jauzan orang jahat bun. Jauzan bahkan merasa udah banyak ngalah tapi nyatanya Jauzan yang egois di sini?" Jauzan kembali dengan sifat merendah dia. Cowok itu kembali merasakan rasa bersalah besar dengan tetehnya, dia merasa marah sama dirinya kenapa gak peka dengan hal ini.

Bunda menggeleng terus natap ke maminya Naren yang dibalas maminya Naren dengan anggukan. "Nggak Jan, kamu gak egois. Ada kesalahpahaman di sini," kata bunda yang tubuhnya sedikit bergetar.

Helaan nafas mami Naren terdengar buat semua orang mengalihkan fokus ke wanita itu yang buat mami Naren mengambil minum di sampingnya untuk menetralkan tenggorokannya yang kering. "Bukan kalian yang salah." Mami diam sebentar. "Yang salah kita, sebagai orang tua kita gak tau kalau dengan pilihan kita yang gini itu ternyata buat kalian tertekan."

"Maksud mami?"

"Waktu itu bunda dengar obrolan kamu dengan Aurora Ren," kata maminya Naren natap Naren dan Aurora bergantian yang hal itu juga diangguki bundanya Jauzan. "Ternyata kalian menjalin suatu hubungan lebih dari teman."

"Emang. Terus, itu jadi masalah? Emang aneh kalau kita jalin suatu hubungan lebih dari temen tante?" tanya Aurora yang ntah kenapa emosi dengar ucapan mami Naren.

"That is not the point Aurora."

"Terus apa tante?" Aurora natap penuh amarah ke maminya Naren.

Mami menarik nafasnya siap mengeluarkan sesuatu yang telah lama dia simpan bersama suaminya dan kedua orang tua Jauzan. "Kamu dan Naren, saudara kandung yang terpaut satu tahun."

Seketika Aurora berdiri dari kursinya, Naren yang di samping mami ikutan berdiri dengan wajah kaget banget dan dengan Jauzan yang langsung mematung mencerna ucapan mami Naren barusan. Berbeda dengan orang tua di situ, yang memilih menundukkan wajah karena merasa gagal menjadi orang tua.

"MAKSUDNYA APA TANTE? KALAU NGOMONG YANG SERIUS! INI GAK LAGI BECANDA!"

"Aurora tenang," tegur sang ayah ke putri angkatnya itu.

"YAH! AYO DONG JUJUR, APA MAKSUDNYA INI?!"

"Aurora, mami minta maaf.." kata mami pelan. "Setelah mami melahirkan kamu, kamu langsung mami kasih ke ayah dan bunda yang emang sudah lama menanti seorang anak lagipula itu memang sudah perjanjian kami kalau anak mami dan papi perempuan itu akan diserahkan ke ayah bundamu yang sekarang."

OUR STORY [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang