*****
Nolan tengah Duduk di kursi kebesarannya di ruang OSIS.
Sedangkan Dhafian duduk di sofa yang disediakan sembari menyilangkan tangannya di dada.
Dhafian sedang kesal, bosan sekaligus marah dengan kakaknya. Dia tengah lapar, namun sang kakak Malah asik Mengerjakan tugas-tugasnya di kertas putih yang penuh dengan coretan tinta hitam di atasnya.
Suara pintu terbuka mengalihkan atensinya. Terlihat Aiden Dengan 2 kembarannya datang sambil membawa plastik besar di kedua tangan masing-masing.
"Makanan sudah datang~~"
Mendengar ucapan Nathan membuat mata Dhafian menjadi berbinar.
Akhirnya...
"Nih.. makanan adek udah dateng. Jangan di tekuk mukanya gak imut lagi nanti" sambung Evan.
Nolan hanya tersenyum saja. Adiknya ternyata sesuka itu dengan roti isi coklat.
Dapat terlihat ketika dia menemukan banyak roti isi coklat di dalam salah satu plastik yang di bawa si kembar.
"Pelan-pelan adek makannya" tegur Aiden ketika melihat Dhafian makan dengan lahapnya.
Yang di tegur hanya Menyengir saja.
Ketiganya gemas, kemudian mengusak rambut Dhafian hingga berantakan.
"Berantakan rambut Ian!!" Kesalnya degan mulut yang masih penuh dengan roti.
Kembali mereka tersenyum gemas.
"Kak, tugas kemarin dari Pak Harto Udah selesai? Dia nanya" Tanya Aria yang masuk tiba-tiba tanpa permisi.
"Udah. Cari di laci paling bawah"
Aria mengangguk lalu mencari tugas yang dia maksud di laci bawah meja milik Nolan.
Setelah di temukan, dia kembali berdiri. Atensinya teralihkan ketika mendengar suara batuk Dhafian.
"Adek kenapa??" Aria sedikit panik.
Dia meraih botol air yang disediakan sekolah untuk OSIS di meja wakil OSIS. Masih tersegel tentunya.
Lalu memberikannya ke Dhafian yang sedikit menepuk dadanya akibat tersedak.
Dhafian segera meraih botol tersebut dan menenggaknya hingga tersisa setengah.
"Nah kan... Kakak bilang juga apa? Pelan makannya, keselek kan jadinya.." Aiden mengelus pelan punggung Dhafian.
"Gak akan ada yang ngambil makanan adek, jadi makannya pelan-pelan aja biar gak keselek lagi" sambung Evan.
"Iya... Iya... Maaf... Abisnya, Ian laper banget.."
"Makannya juga harus tetep pelan-pelan kalo laper banget adek.." Nathan Ikut-ikutan.
Sekarang Dhafian merasa sedikit kesal. Dia terus di omeli, padahal sudah minta maaf. Dia sedikit menekuk wajahnya kesal sekarang.
Aira dan Nolan yang sedari tadi hanya menyimak, akhirnya angkat bicara.
"Udah.. udah.. jangan di omelin lagi. Kasian. Ian juga.. pasti makannya buru-buru karena bentar lagi bel masuk kelas"
"Kalian juga, di suruh beli makanan bukannya cepet malah ngaret setengah jam"
Keadaan berputar, kini Aira dan Nolan yang Mengomeli si kembar setelah ketiganya mengomeli Dhafian.
Dhafian yang melihat itu sedikit tersenyum senang, sebab ada yang mewakili dirinya untuk berbicara.
'Sayang banyak-banyak untuk kak Nolan & kak Aira' - Dhafian
KAMU SEDANG MEMBACA
DHAFIAN
Teen FictionOrang tuanya yang telah meninggal ternyata menyimpan rahasia besar tentang dirinya. Dhafian Adiasta Seorang pemuda pendek yang tampan berwajah manis nan menggemaskan Berumur 16 tahun yang harus merasakan pahit dan keras nya dunia di umurnya yang mas...
