HAPPY READING♡
-----------------------
"Abang.."
Artha berdiri di samping askara yang tengah duduk bersila dengan satu kaki diangkat di kursi makan, askara sedang menikmati mie instant goreng yang tadi dibuatkan kembarannya. "Hah? Kenapa kak?"
"Ada yang nyari tuh di depan." Askara mengernyit bingung, "Siape dah?" karena seingatnya, ia tak ada janji dengan siapapun hari ini. Dan satu jawaban dari adiknya mampu membuat askara tersedak hingga mie panjang yang sedang ia makan, keluar lewat lubang hidungnya.
"Mbak senja."
Askara merasakan perih teramat sangat di tenggorokan dan hidungnya, "bangsat."
Artha hanya mengernyit seolah aneh menatap abangnya, dia melenggang pergi setelah mengatakan apa yang harus ia katakan. Tanpa berfikir dua kali, askara mencuci piringnya cepat dan berlari menuju pintu depan. Melewati tarandra dan kris yang sedang bermain ps tanpa dipandang oleh askara.
"Senja?"
Benar saja, gadis berambut hitam bergaya blunt bob didepannya menoleh. Senyum si gadis tertarik saat bersitatap dengan askara,"ngapain disini?" terdengar nada terkejut dari askara.
"Mau ngembaliin flashdisk yang tadi siang." flashdisk biru hitam terangkat di depan askara. "Masuk dulu?" tidak enak jika harus berbincang di depan pintu seraya berdiri, namun senja menolak, berkata bahwa ia ingin duduk di teras saja. Jadilah keduanya duduk di kursi teras tempat biasa kris dan putra-putranya berbincang di sore hari.
"Kenapa di balikin?"
"Lah, kan emang punya lu? Yakali nggak gue balikin."
Askara menggaruk tengkuknya, "ya juga ya. Maksud gue tuh, kenapa nggak kamu simpen aja dulu nja? Siapa tau butuh lagi kan."
Senja menggeleng, "enggak kok, udah selesai. Thanks ya, buru-buru gue balikin karena takut lupa."
"Padahal bisa ketemu besok." askara tertawa kecil, "Jangan-jangan kamu kesini gara-gara pengen ketemu aku ya? Halah, pake alesan balikin flashdisk segala, biasanya juga aku samperin nggak mau, ketemunya di kampus doang." Niatnya ingin bercanda menggoda senja, tapi tanggapan dari senja membuat askara kelimpungan.
Senja mengangguk, "iya, dikit sih."
Askara melotot, "M-maksudnya gimana nih?" tumben gitu loh, baru kali ini askara ngegas dan di gas balik oleh senja, meski dikit.
Senja tersenyum,"makasih ya, tadi siang kalau nggak ketemu sama lo, gue nggak tau mesti gimana. Maaf juga udah ngerepotin sampe segala minjem flashdisk, huh, kelas gue yang tadi siang emang paling riweh." Dibalas gelengan oleh askara, "nggak ngerepotin."
Setelahnya kedua anak adam itu hanya menciptakan hening,askara yang tumben sekali terlihat begitu diam saat bersama senja dan senja yang fokus menatap hamparan rumput luas serta tumbuhan yang tumbuh rapi di rumah ini. Ia terkagum, untuk ukuran rumah yang hanya ditinggali oleh anggota keluarga berisikan laki-laki, perawatan yang dilakukan mereka untuk rumah ini nyatanya begitu bersih.
"Udah lama ya ka."
Ucapan tiba-tiba senja membuat askara mengernyit,"hah? Apanya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐏𝐚𝐬𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐀𝐛𝐚𝐡
Novela JuvenilTentang lika liku kehidupan ayah duda dan ke-empat kurcaci laki-lakinya.
