Selena pun menunduk dalam saat duduk berhadapan dengan Edgar yang saat ini terlihat lelah. Ada yang berbeda di penampilan Edgar. Saat ini, tangan kanan Edgar mengenakan sebuah gips. Ternyata insiden sebelumnya membuat Edgar mengalami keretakan pada tulang tangannya, dan berakhir harus mendapatkan penanganan sekaligus sebuah gips yang jelas membatasi pergerakannya.
Tentu saja dengan keadaan tersebut, Edgar kesulitan untuk beraktifitas. Bahkan untuk mengajar, sepertinya Edgar akan sulit untuk menulis di papan tulis sebagai metode penjelasan atau mengetik beberapa pekerjaannya. Memikirkannya saja sudah membuat Edgar pening, karena pekerjaannya sudah jelas akan terhambat nantinya. Tentunya Selena yang menyadari hal tersebut merasa sangat bersalah.
Jika saja dirinya sejak awal berhati-hati, ia tidak mungkin melakukan kesalahan yang berakhir membuat Edgar terluka seperti ini. Selena memutar otaknya dengan sekeras mungkin. Mencoba untuk memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan permasalahan ini. Selena pun berkata, "A, Aku minta maaf! Aku akan menebus semua kesalahanku."
Edgar yang mendengar perkataan tersebut pun membuka matanya dan menatap Selena yang terlihat begitu gugup. Sebenarnya ia ingin meminta Selena pulang saja, mengingat dirinya ingin beristirahat. Namun, saat ini Edgar tiba-tiba mendapatkan ide yang menarik. Yaitu memanfaatkan situasi untuk menggoda Selena yang memang perubahan ekspresinya yang beragam sungguh menghibur bagi dirinya.
"Menebus kesalahan? Dengan cara apa?" tanya Edgar tampak menantang Selena untuk menjelaskan cara bertanggung jawab seperti apa yang tengah ia maksud saat ini.
Selena pun dengan gugup berkata, "Dengan membayar semua biaya medis dan perawatan hingga Kakak sembuh nantinya."
Edgar yang mendengar jawaban tersebut pun mendengkus. "Aku sama sekali tidak membutuhkan hal tersebut. Uangku lebih dari cukup untuk membiayainya. Aku tidak membutuhkan uang yang bahkan kau dapatkan dari kakek dan nenekmu itu," ucap Edgar.
Selena tentu saja sadar apa yang dimaksud oleh Edgar saat ini. Di mana Edgar mempertanyakan hal apa lagi yang bisa dilakukan oleh dirinya sebagai pertanggungjawaban dari hal yang sudah ia lakukan. Selena jelas merasa cemas dan terdesak. Ia harus memberikan jawaban yang tepat.
"Ka, Kalau begitu bagaimana jika aku membantu Kakak untuk beraktifitas? Kurasa itu lebih berguna. Mengingat jika saat ini Kakak pasti tengah merasa kesulitan untuk menjalani aktifitasmu karena kondisi tangan Kakak, bukan?" tanya Selena pada akhirnya mendapatkan ide yang sepertinya paling masuk akal dan bisa membuat Edgar tidak lagi marah padanya.
Mendengar hal itu, Edgar tampak memasang ekspresi yang tertarik. Jelas Selena yang melihatnya merasa sangat berharap. Jika Edgar setuju dengan apa yang ia usulkan tersebut, setidaknya Selena tidak akan merasa gelisah lagi dengan kemungkinan bahwa Edgar akan secara tiba-tiba mengatakan rahasia yang ia ketahui. Edgar sendiri pada akhirnya berkata, "Itu terdengar menarik. Aku memang membutuhkan bantuan. Terlebih dalam pekerjaanku."
Selena yang mendengar hal itu pun mendapatkan sebuah harapan yang besar. Ia mengangguk dan berkata, "Kalau begitu, kita sepakat bukan? Aku akan membantu Kakak sebagai cara untuk menebus kesalahanku. Tapi, aku juga berharap bahwa Kakak tidak mengungkapkan beberapa insiden yang Kakak ketahui baik pada Kakek maupun Nenek."
Edgar memicingkan matanya. Tampak tidak senang dengan apa yang sudah dikatakan oleh Selena. "Kau yang sudah melakukan kesalahan, tetapi kau merepotkan diriku dengan begitu banyak permohonanmu," ucap Edgar.
Selena memang merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Namun, Selena juga tidak bisa bertindak naif. Setidaknya ia harus mendapatkan apa yang ia inginkan. Salah satu hal yang ia inginkan adalah hal tersebut. Selena yang sangat terdesak pun menyatukan tangannya.
Lalu berkata, "Aku akan memastikan jika tidak akan ada lagi kesalahan yang kuperbuat yang akan merugikan Kakak, dan aku juga akan memastikan jika aku memberikan bantuan untuk semua aktifitas Kakak. Jadi, tolong pastikan jika Kakak tidak akan mengatakan apa pun pada Kakek atau Nenek."
"Sepertinya, hanya mengatakannya saja tidak akan membuatmu yakin," ucap Edgar sembari memicingkan matanya.
Selena tersenyum malu, karena apa yang dikatakan oleh Edgar memang benar adanya. "Karena itulah lebih baik kita buat perjanjian tertulis. Itu jelas akan lebih aman dan nyaman bagi kita," ucap Selena membuat Edgar yang mendengarnya mendengkus tidak percaya.
***
Edgar meminum kopi yang memang sudah dipersiapkan oleh Selena yang tentu saja masih berada di apartemen Edgar. Mengingat ada banyak hal yang harus dilakukan oleh Selena. Dimulai dari menyiapkan makanan, hingga membersihkan rumah Edgar. Tentu saja Selena jengkel karena saat ini dirinya malah melakukan tugas pelayan atau asisten rumah tangga.
Selena pikir, membersihkan rumah bisa dilakukan oleh staf kebersihan panggilan, dan makanan bisa mereka pesan melalui aplikasi pesan antar. Namun, Edgar ingin semuanya dilakukan oleh Selena. Hingga, mau tidak mau Selena lebih banyak menghabiskan waktu di apartemen Edgar dibandingkan apartemennya sendiri.
Selena juga tidak bisa menghabiskan waktunya bersama dengan teman-temannya, karena setelah perkuliahannya ia benar-benar harus pulang untuk mengerjakan tugas rumah. Dalam perjanjian tertulis yang dibuat mereka, Selena memang tidak bisa menolak apa yang sudah ditetapkan oleh Edgar. Termasuk peraturan di mana Selena harus pulang begitu perkuliahannya selesai.
"Aish," keluh Selena ketika dirinya kesulitan untuk membersihkan ikan segar yang memang akan menjadi menu dari makan malamnya dengan Edgar hari ini.
Namun, di tengah acara memasak tersebut, Selena mendengar suara Edgar yang melangkah mendekat padanya. Lalu Selena mendengar suara Edgar yang berkata, "Tidak perlu melanjutkan acara memasakmu. Sekarang pulang, dan bersiaplah. Pakai pakaian seperti gaun semi formal. Aku akan menjemputmu setengah jam dari sekarang."
Selena yang mendengar hal tersebut tentu saja mengernyitkan keningnya. "Memangnya kita akan pergi?" tanya Selena ingin mengetahui ke mana Edgar akan membawanya pergi.
Namun, Edgar tidak mau menjawab pertanyaan itu. Ia malah berkata, "Pergilah. Kau hanya memiliki waktu kurang dari tiga puluh menit untuk bersiap. Siap atau tidak, saat aku datang kau harus ikut denganku."
Selena jelas merasa sangat kesal. Ia pun segera berlari tunggang langgang masih dengan menggunakan celemek. Selena terlalu terburu-buru untuk kembali ke unit apartemennya dan bersiap-siap. Entah ke mana Edgar akan membawanya, tetapi hal yang paling penting saat ini adalah bersiap sebaik mungkin. Karena ke mana pun Edgar membawanya pergi, rasanya lebih baik untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin. Agar tidak berpenampilan terlalu memalukan.
Edgar sendiri masuk ke kamar utama dan memilih untuk masuk ke ruang pakaian sembari mengangkat telepon dari ayahnya. "Ayah tidak perlu membicarakan masalah perjodohan lagi denganku. Sebab untuk makan malam kali ini, aku akan datang untuk memperkenalkan kekasihku," ucap Edgar lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.
"Kurasa, tidak ada salahnya bagiku untuk memanfaatkannya dengan cara seperti ini," gumam Edgar lalu memilih kemeja hitam sembari menghubungi Selena yang sudah jelas tengah sibuk bersiap di unit apartemennya.
Saat melihat jika Edgar menghubunginya, Selena jelas menerima sambungan telepon tersebut dengan susah payah. Mengingat, saat ini Selena tengah sibuk untuk mencuci wajahnya dan bersiap untuk merias wajahnya agar sedikit terlihat manusiawi. Lalu bertanya, "Ada apa lagi?"
Edgar yang berada di ujung sambungan telepon tanpa basa-basi berkata, "Aku akan mengenakan kemeja hitam. Serasikan gaunmu dengan pakaianku."
Lalu Edgar tidak memberikan kesempatan bagi Selena untuk mengatakan apa pun karena Edgar mematikan sambungan telepon begitu saja. Selena tentu saja terkejut dengan apa yang ia dengar. Ia memasang ekspresi tidak percaya dan berkata, "Sepertinya aku lebih baik menyerah dan pulang kampung saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Playing with My Professor
RomanceSemuanya berawal dari Selena yang terus membuat kesalahan demi kesalahan dan semuanya tertangkap basah oleh Edgar. Selena yang pada dasarnya tidak berhubungan terlalu baik dengan Edgar yang tak lain adalah profesor muda di kampusnya tersebut, tentu...
