26. Memutuskan Hubungan

817 48 7
                                        

"Apa ini tidak terlalu terburu-buru? Sepertinya aku harus kembali saja," ucap Selena tampak gelisah ketika mobil yang tengah dikemudikan oleh Edgar memasuki sebuah kediaman besar yang begitu mewah.

Karena keduanya sama-sama sudah memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius, maka Edgar merasa tidak ada salahnya membawa Selena ke kediaman utama keluarga Barton. Kebetulan ayahnya hari ini meminta Edgar untuk datang dan makan malam bersama dengannya, jadi ia pun membawa Selena bersama dengannya. Toh, Myles juga sebelumnya sudah setuju. Namun, saat ini Selena malah merasa gelisah.

Edgar yang sudah memarkirkan mobilnya pun mencium bibir Selena sebelum berkata, "Tidak perlu gugup. Ini hanya makan malam biasa. Dan sebelumnya, kau juga sudah bertemu dengan ayahku, jadi kurasa tidak ada lagi yang perlu kau cemaskan."

Selena yang mendengarnya pun menggeleng. "Justru aku lebih gugup karena ini adalah kali pertama aku bertemu dengannya setelah kita benar-benar menjadi pasangan kekasih," ucap Selena mengungkit bahwa pertemuan sebelumnya memang saat Selena berupra-pura sebagai kekasih Edgar.

Edgar pun beralih menggenggam tangan Selena dan mengecupnya dengan penuh kasih. "Tidak perlu mencemaskan apa pun. Ini hanyalah formalitas, jika memang kau tidak nyaman, kita bisa pulang secepat mungkin. Setelah itu, kita bisa memikirkan cara untuk memberitahu kakek dan nenekmu mengenai hubungan kita," ucap Edgar.

Selena yang mendengarnya mau tidak mau mengangguk. Sekarang hal yang bisa dilakukan oleh Selena adalah percaya pada Edgar. Karena itulah, pada akhirnya Selena pun turun dari mobil dan masuk ke dalam kediaman mewah tersebut bersama dengan Edgar. Selena pun sadar dengan skala kediaman utama yang jelas lebih luar biasa daripada villa liburan milik keluarga Edgar di area yang sama dengan rumah keluarga Selena. Hal itu membuat Selena sadar bahwa Edgar memanglah pria yang berasal dari keluarga yang tidak main-main kekayaannya.

Selena yang gelisah, semakin berada dalam kondisi hati yang buruk, ketika sadar bahwa acara makan malam itu juga mengundang tamu lain selain dirinya. Orang tersebut tak lain adalah Lidia yang tampak tersenyum dengan anggunnya ketika melihat dirinya. Edgar yang melihat kehadiran Lidia di sana, jelas merasa sangat kesal. Namun, Myles sudah lebih dulu berkata, "Duduklah, kita hanya akan makan malam santai bersama."

Pada akhirnya, Edgar dan Selena pun duduk di tempat yang memang sudah disediakan lalu makan malam pun dimulai. Edgar sama sekali tidak melirik pada Lidia dan hanya terfokus pada Selena. Keduanya tampak berinteraksi dengan sangat manis. Hal yang paling mengejutkan bagi Myles dan Lidia adalah, mereka bisa melihat Edgar yang tampak begitu lembut dan perhatian. Padahal, selama ini Edgar adalah pria dingin yang bahkan tidak peduli jika pun ada bom yang meledak di sampingnya.

Selena sendiri kini sudah merasa lebih santai. Tepatnya, kegugupannya menghilang. Tergantikan dengan degupan menyenangkan ketika dirinya diperhatikan oleh Edgar. Terlebih, kini Edgar tampil dengan sangat menawan dengan pakaian kasualnya, dan menanggalkan kacamatanya. Selena tidak tahu, jika kacamata bisa membuat seseorang terlihat sangat berbeda. Ketika menggunakan kacamata, Edgar terlihat seperti profesor muda cerdas yang tegas.

Namun, ketika melepaskannya, Edgar tampak seperti pria muda yang nakal. Pria yang penuh gairah di atas ranjang. Pemikiran tersebut membuat Selena kembali mengingat malam-malam yang sudah ia habiskan dengan Edgar sebelumnya. Membuat pipinya mau tidak mau memerah dan Edgar yang melihatnya pun mengusapnya lembut sembari bertanya, "Apa makanannya terlalu pedas?"

Selena yang mendengar hal itu pun menggeleng. "Tidak. Ini sangat pas," jawab Selena dengan malu-malu.

Saat itulah, Myles tidak tahan lagi dan pada akhirnya berkata pada Selena, "Selena, aku tidak ingin kau menjadi menantuku."

Jelas saja apa yang dikatakan oleh Myles membuat Edgar dan Selena menghentikan apa yang tengah mereka lakukan. Sementara Lidia tampak tersenyum sebelum menyesap minumannya dengan tenang. Edgar menatap ayahnya dan bertanya, "Omong kosong apa yang tengah Ayah katakan?"

Myles mengabaikan hal tersebut dan menatap Selena yang tengah menatapnya dengan penuh tanda tanya. Dengan serius, Myles berkata, "Alih-alih dirimu, aku lebih mengharapkan Lidia menjadi menantuku. Sebab ia berada satu level dengan Edgar. Ia bisa menjadi istri bagi Edgar dan bisa menjadi menantu bagi keluarga ini. Bagi orang-orang seperti kami, pernikahan bukan hanya untuk menyatukan hati atau karena sebuah hal yang disebut cinta. Pernikahan juga menyatukan dua buah keluarga."

Selena yang mendengar hal itu tentu saja mengerti. Ia sendiri sudah memperkirakan hal tersebut. Mengingat jika dirinya memang tidak memiliki kekayaan yang sebanding dengan Edgar. Kakek dan neneknya hanya memiliki beberapa perkebunan, dan jelas itu tidak bisa dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh Edgar tersebut. Namun, Selena tidak membayangkan jika mendengar hal yang sudah ia perkirakan akan terasa sangat menyakitkan seperti ini.

Tanpa kata, Edgar pun bergegas mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Edgar masih menatap ayahnya saat sambungan telepon tersebut terhubung. Edgar ternyata menghubungi direktur utama yang memang menggantikan dirinya untuk memimpin perusahaan. Edgar pun berkata, "Saat ini juga, aku akan menarik semua investasiku di perusahaan. Aku juga akan menjual semua sahamku."

Tentu saja sang direktur segera bertanya, "Tu, tunggu, Tuan. Sebenarnya apa yang terjadi?"

Myles sendiri tampak menegang saat mendengar apa yang dikatakan oleh Edgar tersebut. Myles menggeleng dan berkata dengan penuh peringatan, "Jangan main-main, Edgar."

Namun, Edgar sama sekali tidak merasa ragu saat dirinya menjawab pertanyaan sang direktur di ujung sambungan telepon dengan perkataan, "Apa lagi? Tentu saja aku akan angkat kaki dan memutuskan semua hubunganku dengan perusahaan-perusahaan milik keluargaku. Aku tidak membutuhkan semua itu."

Tentu saja hal tersebut tidak hanya mengejutkan Myles dan Lidia, Selena juga dibuat terkejut. Bagaimana bisa Edgar memutuskan hubungan tersebut dengan mudahnya. Myles sendiri segera memukul meja makan dan berteriak, "Beraninya?! Apa yang tengah kau lakukan saat ini, Edgardo Fritz Barton?"

Edgar tahu jika saat ini ayahnya benar-benar marah. Bahkan saking marahnya ia memanggil nama lengkap Edgar seperti itu. Hanya saja, Edgar sama sekali tidak merasa terintimidasi. Ia malah dengan santai berkata, "Aku tengah memutuskan hubunganku denganmu, Ayah. Inilah yang terjadi ketika kau masih berusaha ikut campur dan mengganggu kehidupanku. Kalau begitu, terima kasih atas makan malamnya."




***




"Kenapa akhir-akhir ini kau sering sekali menangis, Selena?" tanya Edgar pada Selena yang benar-benar menangis.

Mereka sebenarnya tengah berada di mobil yang melaju menuju apartemen mereka. Hanya saja, karena Selena yang menangis seperti itu, membuat Edgar pada akhirnya menepikan mobil di bahu jalan yang memang disediakan untuk menepikan mobil ketika berada dalam situasi yang darurat. Lalu Edgar pun beranjak untuk mengangkat dan memindahkan Selena untuk duduk di atas pangkuannya. Edgar mengusap punggung Selena sebelum mencium kening kekasihnya dengan lembut.

"Kenapa menangis seperti ini, Selena?" tanya Edgar.

Di tengah tangisannya, Selena pun dengan susah payah menjawab, "Maafkan aku. Karena aku kau bertengkar dengan ayahmu."

Mendengar hal itu Edgar terdiam untuk sesaat sebelum menangkup wajah Selena sebelum menciumi wajah kekasihnya itu dengan gemas. Jelas apa yang dilakukan oleh Edgar tersebut membuat Selena merasa terganggu. Hingga pada akhirnya Selena menghentikan tangisnya dan merengek, "Hentikan."

Edgar pun mengakhiri apa yang ia lakukan dengan mengecup ujung hidung Selena dengan manis sebelum berkata, "Kau tidak perlu merasa menyalahkan dirinya sendiri, Selena. Sebab semuanya masih baik-baik saja."

Namun, Selena yang masih bertatapan dengan Edgar masih tampak tidak percaya. Lalu saat itulah Edgar menjelaskan, "Meskipun aku memutuskan hubungan dengan ayah dan keluargaku, aku sama sekali tidak akan berada dalam masalah. Mengingat aku tidak bergantung pada ayahku. Aku bisa hidup mandiri tanpa kesulitan apa pun walau harus memutuskan hubungan dengan ayahku itu."

Mendengar hal tersebut, Selena pun merasakan sedikit banyak mendapatkan keyakinan dari apa yang dikatakan oleh Edgar tersebut. Lalu Edgar memeluk dan menarik Selena untuk semakin dekat dengan dirinya. "Karena itulah, kau tidak perlu mencemaskan apa pun. Mengingat saat ini, aku bisa sepenuhnya hidup sesuai dengan apa yang aku inginkan. Sebab kini aku bisa memutuskan bagaimana diriku akan hidup dan dengan siapa aku akan menghabiskan sisa hidupku," ucap Edgar sembari mengecup kening Selena yang kini tampak memejamkan matanya.

Playing with My ProfessorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang