Noh, kurang seyeng apa Mimi, langsung upload BAB kedua buat malam ini? Ayok jan lupa tinggalin jejak pokoknya, maksa pakek bgt ini mah. Soalnya kalau enggak dipancing sama komen, Mimi kadang jadi mls upload ehhh
*
*
Selena benar-benar bingung dengan apa yang tengah terjadi saat ini. Selena jelas sadar, bahwa dirinya dan Edgar sudah sama-sama melangkah melewati batas yang ada di antara mereka. Tentu saja ketika mereka memutuskan menghabiskan malam yang penuh gairah dan memanaskan ranjang yang sama, Selena sadar hubungan mereka tidak akan kembali seperti sebelumnya. Namun, Selena tidak pernah menduga jika hubungannya dengan Edgar akan berkembang sejauh sekaligus berbeda seperti ini.
Saat ini Selena dan Edgar tengah menikmati sarapan yang sebenarnya lebih cocok disebut sebagai makan siang karena waktunya yang memang sudah lewat tengah hari. Namun, Selena tidak tergerak untuk menyentuh alat makan dan menikmati makanan lezat yang saat ini disajikan di mejanya. Sebab saat ini, Selena masih terlalu bingung dengan situasi yang tengah terjadi. Tepatnya Selena bingung dengan sikap Edgar yang sangat baru ini. Di mana Edgar begitu memperhatikan dan memperlakukannya dengan sangat spesial.
Jelas, itu sama sekali tidak merugikan Selena. Hanya saja, hal itu terasa sangat aneh bagi Selena. Edgar yang Selena kenal adalah pria dingin yang kaku dan lekat dengan perkataan tajamnya. Jadi, perubahannya yang sangat berbanding terbalik seperti ini membuat Selena merinding buakn main. Sebab Selena pikir, mungkin saja Edgar berubah sedrastis ini karena akan segera mati. Pemikiran ini terjadi karena perubahan Edgar yang terlalu drastis hingga membuat Selena berpikir macam-macam.
"Kenapa kau tidak menyentuh makananmu, Selena? Apa mungkin, ini semua tidak sesuai dengan seleramu?" tanya Edgar.
Selena yang sebelumnya masih tenggelam dalam pemikirannya sendiri tentu saja terkejut bukan main. Namun, ia segera sadar dan menggeleng. "Aku makan," ucap Selena lalu memegang alat makan dan mulai menikmati makanannya.
Edgar sendiri mengamati gerak-gerik Selena tersebut sebelum bertanya, "Apa milikmu di bawah sana masih terasa sakit?"
Tentu saja Selena tersedak saat dirinya mendengar hal tersebut. Jelas Selena sama sekali tidak pernah menduga jika dirinya akan mendapatkan pertanyaan yang sangat tidak terduga itu. Edgar sendiri segera membantu Selena meredakan batuknya tersebut dengan memberikan air. Setelah Selena selesai minum dan meredakan batuknya, Selena pun menatap Edgar dan berkata, "Tolong jangan mengatakan hal seperti itu."
Edgar sendiri mengernyitkan keningnya dan balik bertanya, "Memangnya kenapa? Kenapa kau terlihat sangat terkejut seperti itu? Bukankah pertanyaanku saat ini sangat wajar?"
Selena menggeleng dengan tatapan horror yang ia lemparkan pada Edgar. "Mana mungkin ini adalah hal yang wajar? Pertanyaan itu terdengar sangat memalukan," ucap Selena hampir menangis dibuatnya.
"Kenapa kau menyebut hal itu sebagai hal yang memalukan? Aku hanya menanyakan kondisimu. Karena aku baru saja sadar, bisa saja tadi malam aku terlalu berlebihan untuk pengalaman pertamamu. Aku ingin memastikan jika memang tidak ada luka atau pun hal yang terasa sakit pada tubuhmu," ucap Edgar.
Meskipun niat Edgar baik, Selena masih saja terasa malu. Baginya, sikap Edgar masihlah terasa sangat berlebihan. Pada akhirnya Selena meletakkan alat makannya dan berkata, "Aku ingin pulang."
Lalu Edgar tiba-tiba tersenyum manis, membuat Selena merasakan firasat buruk. Ya, firasat buruk yang seharusnya tidak datang ketika melihat wajah tampan milik Edgar yang memanjakan mata siapa pun yang melihatnya. Edgar pun berkata, "Sayangnya, kau tidak bisa melakukan hal itu. Kakek dan Nenekmu masih berada di luar kota, dan para pelayan juga belum pulang. Secara khusus kakek dan nenekmu memintaku untuk menjagamu. Dengan kata lain, kau harus tetap menginap di villa ini bersama denganku."
Selena menggeleng. "Tidak, aku tidak mau. Aku ingin pulang sekarang," ucap Selena tampak tidak mau mendengarkan Edgar.
Namun, Edgar masih menghadapi situasi tersebut dengan sangat tenang. Ia mengulurkan tangannya dan meraih helaian rambut Selena yang baru saja kering. Karena Selena memang mandi keramas akibat kegiatan panas yang sudah ia lakukan dengan Edgar. Lalu Edgar pun berkata, "Senang rasanya ketika aroma sampo dan aroma sabun yang kugunakan juga tercium darimu seperti ini, Selena. Rasanya aku ingin situasi ini terus terjadi. Apa mungkin, itu artinya kita harus bercinta setiap malam? Aku sama sekati tidak keberatan dengan ide itu."
Namun, Selena yang mendengarnya pun seketika memasang ekspresi terkejut bukan main. "Aku yang keberatan. Aku sama sekali tidak ingin kembali bercinta denganmu. Apa yang terjadi tadi malam, adalah pertama dan terakhir bagi kita," ucap Selena penuh dengan penekanan.
Sayangnya, Edgar juga tidak mau mengalah. Ia malah menyeringai dan berkata, "Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, ketika aku sudah memulainya, maka tidak ada kata mundur bagiku. Begitu kita sudah bercinta, maka saat itulah kita sama-sama sepakat untuk menjadi sepasang kekasih."
Jelas saja Selena kembali dibuat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Edgar. "Sepasang kekasih? Kau gila? Tidak cukup bersandiwara sebagai pasangan kekasih, kini kau mengatakan jika kita menjadi sepasang kekasih?" tanya Selena.
Edgar menyeringai dan mengangguk. "Benar. Kita, kini sudah resmi menjadi pasangan kekasih yang sesungguhnya," jawab Edgar.
***
Myles menyesap cerutu berkualitas yang kini berada di sela-sela tangannya. Namun, Myles tidak tampak bersantai karena dirinya memang tengah sibuk membaca data yang baru saja dikirimkan oleh asistennya. Data tersebut tak lain data diri dari Selena. Myles sebelumnya memang tidak mengatakan apa pun mengenai Edgar yang memperkenalkan Selena sebagai kekasihnya. Namun, sebenarnya Myles tidak terlalu setuju dengan ide tersebut. Ia merasa jika ada wanita lain yang akan lebih cocok menjadi pendamping Edgar.
Jadi, Myles pun masih berusaha untuk menjodohkan Edgar dengan wanita yang memang sesuai dengan kriteria menantu yang ia inginkan. Sayangnya putranya satu itu benar-benar bersikukuh dengan apa yang sudah ia putuskan. Karena sudah memiliki kekasih, Edgar sama sekali tidak ingin dijodohkan dan menolak keras apa yang tengah direncanakan oleh ayahnya tersebut. Jelas, Myles sendiri tidak berniat untuk menyerah begitu saja.
"Apa dia pikir, mengencani gadis yang jauh lebih muda ditambah adalah mahasiswinya sendiri adalah hal yang mudah?" tanya Myles ketika selesai membaca profil mengenai Selena.
Setelah selesai membacanya, Myles semakin yakin saja bahwa Selena memang tidak cocok menjadi istri Edgar. Myles merasa jika Selena memang tidak cocok menjadi menantunya, dan rasanya hanya cocok menjadi wanita selingan bagi Edgar sebelum menikah. Myles sendiri saat ini tahu bahwa Edgar membawa Selena ke villa mendiang neneknya dan tengah menghabiskan waktu liburan mereka bersama di sana. Itu adalah ciri bahwa Edgar memang berniat serius dengan Selena.
"Aku jelas harus mengambil langkah sebelum semuanya terlambat," gumam Myles sebelum mematikan cerutunya dan mengambil ponselnya.
Ternyata Myles menghubungi seseorang menggunakan ponselnya. Tak membutuhkan waktu lama hingga sambungan telepon tersambung. Saat itulah raut wajah Myles pun terlihat sangat baik dan bertanya, "Ini aku, Lidia. Bagaimana kabarmu?"
"Hai, Paman. Sungguh aku tidak menyangka Paman menghubungiku seperti ini. Kabarku baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan Paman?" tanya balik seorang wanita yang bernama Lidia tersebut.
"Kabar Paman tidak terlalu baik karena ulah Edgar. Kurasa, ini adalah waktu yang tepat bagimu untuk mengambil langkah. Jika memang kau masih memiliki perasaan pada putraku yang agak bodoh itu," jawab Myles membuat Lidia meledakkan tawa yang terdengar seperti bunyi lonceng.
"Benarkah? Apa ini memang waktu yang tepat bagiku?" tanya Lidia seakan-akan ingin memastikan hal tersebut.
Myles menjawab, "Ya. Ini adalah waktu yang tepat. Mengingat kurasa sudah cukup bagi Edgar untuk melakukan hal-hal sesuka hatinya. Sudah tiba bagi dirinya untuk bertingkah layak, sebagai seorang penerus diriku. Jadi, lakukan seperti apa yang kau inginkan, Lidia. Dapatkan hati Edgar."
Lidia yang mendengar hal itu pun menjawab dengan penuh percaya diri, "Serahkan hal itu padaku, Paman. Akan kupastikan bahwa aku akan menjadi menantumu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Playing with My Professor
RomanceSemuanya berawal dari Selena yang terus membuat kesalahan demi kesalahan dan semuanya tertangkap basah oleh Edgar. Selena yang pada dasarnya tidak berhubungan terlalu baik dengan Edgar yang tak lain adalah profesor muda di kampusnya tersebut, tentu...
