21. Perselingkuhan

1.8K 89 4
                                        

Selena membuka matanya lebar-lebar dan mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk dalam sekali percobaan. Namun, hal itu membuat Selena seketika mendapatkan serangan rasa pening yang membuatnya mengerang frustasi. "Astaga, kepalaku," ucap Selena di tengah erangannya.

Selena menjambak rambutnya sendiri, berharap jika hal tersebut bisa mengurangi sedikit pening yang ia rasakan. Di tengah usahanya meredakan rasa peningnya tersebut, Selena pun mengingat kejadian tadi malam. Selena benar-benar mengingat dengan baik, bahkan detail berapa kali dirinya dan Edgar mendapatkan klimaks saat bercinta. Itu jelas adalah percintaan terpanas selama malam-malam yang mereka habiskan sebelumnya.

"Aku sepertinya sudah gila. Bagaimana aku bisa melakukan hal itu?" tanya Selena pada dirinya sendiri.

Jelas, Selena merasa jika apa yang terjadi tadi malam sangatlah memalukan. Dirinya sendiri yang bertindak agresif dengan menggoda Edgar dan pada akhirnya bercinta habis-habisan dengan keinginannya sendiri. Sudah jelas, bahwa tubuhnya tadi malam begitu mendambakan sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh Edgar. Sentuhan dan cumbuan yang ternyata tanpa sadar sudah membuat tubuhnya kecanduan.

Selena menjerit tanpa suara karena rasa malu yang semakin menjadi. Saat ini Selena jelas kebingungan. Ia tidak tahu harus bereaksi atau melakukan hal apa. Jelas akan terasa sangat memalukan bagi dirinya untuk bertemu langsung dengan Edgar dalam situasi ini. Namun, di sisi lain Selena juga tidak bisa pergi begitu saja dari tempat yang tidak ia ketahui tersebut. Selain karena kondisi tubuhnya yang jelas belum baik-baik saja, saat ini juga Selena tidak memiliki pakaian yang itu artinya ia tidak bisa pergi.

Selena pun kembali berbaring di ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang kini telanjang sepenuhnya. Selain itu, kulit leher, bahu, hingga dadanya dipenuhi oleh tanda-tanda yang ditinggalkan oleh Edgar. Sungguh, Selena harus bersyukur karena dirinya tinggal terpisah dengan kakek dan neneknya. Jika sampai masih tinggal bersama, semua jejak ini bisa dengan mudah terlihat oleh mereka. Itu jelas akan menambah masalah baru yang membuat Selena pening.

Saat mendengar suara gemericik air yang berhenti, Selena segera memejamkan mata. Seakan-akan dirinya tengah tidur. Namun, Edgar yang melihatnya bisa dengan mudah menebak jika Selena sudah bangun. Lalu kini tengah berpura-pura tidur demi menghindari dirinya. Karena itulah, Edgar pun melangkah mendekat sembari mengeringkan rambunya dengan handuk di tangannya. Edgar duduk di tepi ranjang sembari menatap Selena.

Edgar melemparkan handuk ke sandaran kursi sebelum mengulurkan tanganya untuk mengurut pelipis Selena dan bertanya, "Kau ingin mandi atau sarapan dulu, Selena? Kurasa, sekarang kau harus minum obat. Kau merasa pening, bukan?"

Selena jelas cemberut. Masih dengan memejamkan matanya ia pun bertanya, "Kenapa kau sangat tidak peka? Apa kau tidak mengerti jika aku tengah merasa malu?"

Edgar tersenyum, merasa jika tingkah Selena saat ini benar-benar manis. Ia tengah merajuk karena merasa bahwa Edgar tidak memahami dirinya. Namun, Edgar sendiri tidak memiliki pilihan lain. Mengingat Edgar harus membuat Selena minum obat untuk mengobati pengar atau rasa sakit kepala karena mabuknya tadi malam.

"Kenapa harus malu? Tadi malam sangat menyenangkan. Selain itu, aku juga harus memastikan kau meminum obat untuk mengobati rasa sakit kepalamu," ucap Edgar.

Selena pun membuka matanya secara perlahan, dan seketika pandangannya dipenuhi oleh pemandangan indah. Di mana Edgar tanpa kacamatanya tampak sangat seksi ketika rambutnya masih berada dalam keadaan setengah basah. Edgar tampak memberikan tatapan lembut padanya sebelum kembali bertanya, "Jadi, apa sekarang kau ingin mandi lebih dahulu sebelum sarapan?"

Selena menarik selimut untuk menutuio setengah wajahnya dan mengangguk malu-malu. "Iya, aku mau mandi," jawab Selena.

Edgar yang melihat hal itu kembali merasa jika Selena benar-benar bertingkah sangat manis. Lalu Edgar pun segera memeluk dan menggendong Selena yang masih dibalut selimut hotel yang lembut. "Baiklah, kalau begitu mari kita mandi. Biar aku membantumu mandi dan setelah itu sarapan sebelum meminum obat untuk meredakan peningmu," ucap Edgar.

Namun, Selena yang mendengar hal itu seketika membulatkan matanya. Panik bukan main, karena dirinya sama sekali tidak berpikir jika dirinya dibantu oleh Edgar dalam urusan membersihkan diri. Walaupun berada dalam keadaan lemas, saat ini Selena bisa memastikan bahwa dirinya bisa mandi sendiri. "Ti, Tidak! Aku bisa mandi sendiri," ucap Selena sembari berusaha untuk turun dari gendongan Selena.

Hanya saja, Edgar sama sekali tidak mau menanggapi hal itu. Ia tetap membawa Selena menuju kamar mandi sembari bersenandung, "Aku akan senang jika kau menggunakan sabun dengan aroma yang sama denganku."

***

"Ini benar-benar aneh," gumam Selena pada dirinya sendiri.

Hari sudah berganti, dan kini Selena sudah kembali masuk kuliah. Namun, ada hal yang aneh. Di mana Edgar sama sekali tidak memarahinya arau memberikan hukuman padanya mengenai kejadian di pesta ulang tahun Rene. Selena memang tanpa sengaja mabuk dan membuat masalah. Ia tidak ingat jelas apa yang terjadi di resort, tetapi ia ingat dengan jelas apa yang terjadi saat dirinya menghabiskan malam yang bergairan dengan Edgar di hotel.

Selain itu, Edgar juga sudah menyelesaikan urusan dirinya dengan Rene. Di mana Edgar menggunakan ponselnya untuk mengirim pesan pada Rene. Ia mengirim pesan pada Rene mengatasnamakan Selena dengan berkata, bahwa Selena harus pulang lebih dulu dijemput oleh kenalannya karena merasa pening. Tentu saja hal itu membuat Rene mengerti dan tidak terlalu mempertanyakan mengapa Selena pulang tiba-tiba tanpa menemuinya terlebih dahulu.

Jelas mengingat apa yang sudah dilakukan Edgar sebelumnya, sikap Edgar yang tenang saat ini benar-benar membuat Selena cemas. Mengingat Selena tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Edgar selanjutnya. Selena menghela napas panjang dan menghentikan langkahnya saat sadar bahwa hari ini jadwal kelas memang diundur selama dua jam. Mengingat saat ini ada seminar besar yang diselenggarakan di kampus.

Seminar yang memang mengundang seorang pemateri dari kalangan pebisnis muda yang berpengaruh. Kampus melakukan hal itu dengan harapan bahwa para mahasiswa dan mahasiswi bisa mendapatkan pengaruh positif dari dirinya. Lalu secara khusus, Selena sendiri mendapatkan tugas dari salah satu dosennya. Di mana jika dirinya membuat makalah dan essai dari materi seminar tersebut, ia bisa memenuhi tugas semester.

Karena itulah, Selena bergegas untuk menghubungi Rene dan bertanya dengan cepat, "Hei, kau sudah ada di kampus?"

"Ya, aku sudah berada di kampus. Malahan sudah ada di aula seminar. Cepatlah datang. Aku sudah mengamankan kursi untukmu," jawab Rene yang membuat Selena tidak bisa menahan diri untuk tersebut.

Selena pun bergegas pergi menuju aula di mana seminar akan dilangsungkan. Karena ada banyak orang yang juga ingin menghadiri seminar tersebut, mereka jelas harus berebut tempat. Jadi, Selena bergegas untuk tiba sebelum tempatnya direbut oleh orang lain. Untungnya, Selena tiba tepat waktu sebelum seminar dimulai. Selena berbisik pada Rene, "Terima kasih."

Rene yang mendengar hal itu pun mengangguk. Sebelum dirinya mengatakan apa pun, ia sudah lebih dulu melihat area leher Selena yang terlihat dihiasi jejak merah keunguan yang bisa Rene pastikan sebagai jejak dari percintaan sepasang kekasih. Namun, Rene tidak mengatakan apa pun mengenai hal tersebut. Sebab dirinya segera fokus dengan seminar yang tengah dimulai. Seminar tersebut terasa cukup menyenangkan, mengingat ternyata ada sekitar tiga pebisnis muda berpengaruh yang menyampaikan beberapa materi yang menasik.

Namun, bagi Selena, salah satu dari mereka yang paling menarik adalah Lidia. Mengingat Lidia sangat menarik dengan pemikirannya yang baru menurut Selena. Setelah Lidia selesai memberikan materi, Lidia tampak tidak menunggu lebih lama di panggung dan isin ke luar. Lalu tiba-tiba Selena juga merasa ingin buang air kecil dan tidak bisa menahan diri. Jadi, ia pun permisi terlebih dahulu dan meminta Rene untuk menjaga tempatnya terlebih dahulu.

Selena tentu saja segera ke luar dari aula karena tidak bisa menahan diri untuk buang air kecil. Namun, dorongan untuk buang air kecil tersebut tiba-tiba menghilang begitu saja. Saat Selena meihat pemandangan yang membuat dirinya mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Hal tersebut tak lain adalah Lidia, pebisnis muda sukses yang sebelumnya menarik perhatiannya, kini tengah mencium mesra seorang pria di lorong kampus.

Hal yang membuat Selena merasa gelisah tak lain adalah pria yang dicium oleh Lidia. Sebab pria itu tak lain adalah Edgar, pria yang berstatus sebagai kekasihnya. Selena pun mendengkus tidak percaya dengan apa yang ia lihat sebelum bertanya pada dirinya sendiri, "Apa yang tengah terjadi sekarang? Apa aku tengah menyaksikan perselingkuhan pria yang mengaku sebagai kekasihku sendiri?"

Playing with My ProfessorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang