Edgar dan Selena diam-diam berciuman di sudut kelas kosong yang memang baru saja selesai digunakan oleh Edgar yang mengajar mahasiswa dan mahasiswinya. Kini Edgar dan Selena berciuman dengan begitu romantis. Bahkan Edgar tidak merasa ragu untuk meletakkan kedua tangannya di pinggang ramping Selena, sementara Selena melingkarkan tangannya di leher Edgar. Keduanya benar-benar menikmati ciuman tersebut.
Perasaan menyenangkan tersebut juga terbalut dengan adrenalin mereka yang berpacu. Mengingat Selena dan Edgar saat ini tengah berciuman di waktu dan tempat yang tidak biasa. Mungkin, karena itulah sensasinya terasa lebih menyenangkan sekaligus membuat mereka candu. Bahkan kini Edgar tidak hanya menggerakkan bibirnya dan bermain dengan lidah Selena, tangannya juga tidak tinggal diam. Ia menurunkan tangannya dan meremas bokong Selena yang rasanya semakin sintal dari waktu ke waktu.
Tentu saja hal tersebut membuat Selena menggeram dan menghentikan ciuman mereka. Selena cemberut ketika bertatapan dengan Edgar yang sudah kembali mengenakan kacamatanya. "Jangan meremasnya terlalu keras," ucap Selena.
Edgar malah menarik rok sebetis yang dikenakan oleh Selena dan menyingkapnya, sebelum dirinya menggoda area sensitif Selena dengan salah satu tangannya. Sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk meremas buah dada Selena, dengan menyusup ke dalam pakaian yang dikenakan oleh kekasihnya tersebut. Jelas hal tersebut membuat Selena menjadi panik. Jika ciuman saja, Selena merasa tak apa mereka melakukan hal tersebut di sana.
Namun, jika melakukan hal yang lebih dari hal tersebut, Selena merasa jika itu bukan pilihan yang baik. Sebab jika sampai ada orang yang menangkap basah kejadian tersebut. Karena itulah Selena menggeleng panik dan berkata, "Tidak. Jangan di sini."
Edgar menatap tepat pada mata Selena sebelum bertanya, "Kau tidak senang dengan apa yang tengah kita lakukan ini?"
"Bukannya tidak senang. Tapi, kurasa ini berlebihan, tepatnya kurang tepat waktunya. Aku takut jika ada orang yang kembali masuk ke dalam ruangan ini, dan melihat apa yang kita lakukan?" tanya balik Selena.
Edgar yang mendengar hal itu pun tersenyum miring, membuat penampilannya seketika terlihat begitu menggoda di mata Selena. Lalu Edgar berkata, "Tidak akan ada yang masuk. Jika pun ada yang masuk, kita berada di titik yang tidak bisa dilihat segera ketika mereka masuk. Jadi, kita akan aman."
Setelah mengatakan hal tersebut, Edgar pun bergegas berlutut di hadapan Selena dan kepalanya pun menyusup ke dalam rok yang dikenakan oleh kekasihnya tersebut. Terlihat dengan jelas bahwa kepala Edgar kini tengah berada di antara kedua kaki Selena yang agak merenggang. Kepalanya menyembul di sana, ketika Edgar mulai mencoba untuk memberikan sentuhan demi sentuhan yang membuat Selena seketika bersandar pada dinding dengan punggungnya yang menegang. Hal tersebut terjadi karena Selena merasakan kenikmatan yang menjalar ke sekujur tubuhnya dengan pusat titik sentuhan Edgar.
"Ugh, Edgar," erang Selena sembari memejamkan matanya dan menahan tangannya untuk tidak meremas rambut Edgar sama sekali. Karena hal itu bisa membuat rambutnya berantakan.
Hingga pada akhirnya Selena menekuk kuku-kuku jari kakinya untuk menahan lonjakan gairah yang ia rasakan. Lalu tak berapa lama dari saat itu, Selena pun mendapatkan pelepasan yang membuat tubuhnya hampir meluruh begitu saja. Namun untungnya Edgar bergegas untuk berdiri dan memeluk Selena. Sebelum Edgar berbisik, "Rasanya aku ingin memasukimu saat ini juga. Menghentak dan menghujam dirimu dengan dalam sekaligus kuat. Pasti akan terasa nikmat dan menyenangkan."
Selena berusaha untuk mengatur napasnya yang terengah-engah setelah apa yang terjadi barusan. Selena merasakan gairahnya meningkat semakin tidak terkendali saat dirinya mendengar perkataan Edgar barusan. Itu benar-benar terdengan erotis, tetapi juga terasa sangat menyenangkan. Mengingat jika tidak hanya dirinya yang menginginkan Edgar, tetapi Edgar juga begitu mendambakan dirinya.
Namun, Selena bisa mengendalikan dirinya sengan cukup baik hingga dirinya tidak tergoyahkan. Ia pun mencubit pinggang Edgar dan berkata, "Cukup. Kita harus berhenti di sini. Lalu kita akan melanjutkannya nanti malam."
Selena mengerling, tanda jika mereka akan menghabiskan malam yang penuh dengan gairah nanti malam. Edgar pun setuju dan memilih untuk mengakhiri semuanya. Mereka pun sama-sama merapikan pakaian mereka dan mengumpulkan barang-barang mereka sebelum meninggalkan ruangan kelas tersebut. Keduanya ke luar bersama, dan sebenarnya hal itu tidak terlihat aneh. Mengingat Selena masih menjadi asisten Edgar.
Namun, hal itu terlihat sangat mencolok di mata Rene. Gadis satu itu tampak tengah menerima sambungan telepon dari sang kakak. Rene melangkah untuk bersandar pada salah satu pilar dan berkata, "Berhenti menggangguku dengan permintaanmu itu. Saat ini, aku dan Selena bahkan tidak berhubungan baik karenamu. Lalu kau pikir, aku masih bisa memenuhi permintaanmu? Kau sepertinya harus mencoba berpikir dengan benar."
Elton yang berada di ujung sambungan telepon pun terdengar tidak terima dan berkata, "Kau tetap harus membantuku. Ingat, aku sudah memberikan tas yang kau inginkan, dan kau jelas harus membayar harga dari apa yang sudah kuberikan."
Tentu saja Rene yang mendengar hal tersebut mendengkus. "Tapi kau sudah tidak memiliki peluang lagi. Sekarang Selena bahkan sudah memiliki kekasih. Jadi, kau lebih baik simpan atau lupakan saja perasaanmu pada Selena," ucap Rene.
"Brengsek, Bajingan mana yang berani menjadi kekasih Selena? Bukankah kau sendiri mengatakan jika Selena tidak dekat dengan pria mana pun dan tidak memiliki niat untuk menjalin hubungan semacam itu? Lalu kenapa tiba-tiba kini kau mengatakan jika kini Selena memiliki kekasih?" tanya Elton dengan kemarahan yang terasa begitu kental.
Rene yang mendengarnya pun menghela napas panjang. Ia tahu, jika percuma mengajak bicara kakaknya yang sudah bertingkah seperti ini. Sebab Elton sendiri berkata, "Apa pun caranya, aku harus memiliki Selena."
***
Selena mengeringkan rambutnya yang masih basah. Ia memang baru selesai mandi, dan membersihkan tubuhnya dari sisa-sia aroma khas percintaannya dengan Edgar. Pipi Selena kembali memerah dan memanas saat dirinya mengingat waktu penuh gairah yang sudah ia lewati dengan Edgar. Di tengah itu, Selena pun mendapatkan telepon dari sang kakek. Tentu saja Selena yang duduk di meja riasnya menerima sambungan telepon tersebut.
Namun, telepon tersebut segera berubah menjadi video call. Ternyata kakeknya ingin membuktikan bahwa Selena malam itu memang berada di rumah. Selena menerima panggilan video call dan segera berkata, "Seperti yang sudah kukatakan, aku ada di rumah, Kakek."
Wajah Johan muncul di layar ponsel dan tampak memeriksa latar di mana Selena berada. Lalu dirinya mengangguk ketika melihat bahwa Selena memang tengah berada di kamarnya. "Ini adalah pemeriksaan mendadak untuk memastikan jika cucu kesayangan Kakek memang berada di rumah dan tidak berkeliaran di luar sana."
Saat Selena akan mengatakan sesuatu, Edgar tiba-tiba ke luar dari kamar mandi dengan kondisi hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian intim dan setengah pahanya. Tentu saja Johan yang menyadari hal itu membulatkan matanya dan bertanya, "Tunggu, apa yang terjadi? Kenapa Edgar bisa ada di sana dan dengan keadaan seperti itu?"
Tentu saja pertanyaan tersebut membuat Selena dan Edgar sama-sama mematung. Tiba-tiba Nelda juga muncul di layar ponsel. Tentunya Nelda juga merasa terkejut ketika mendengar apa yang diserukan oleh suaminya. Sementara Selena sendiri menoleh pada Edgar yang menatap dirinya dengan kaku. Edgar tentu saja terkejut dan tidak tahu bahwa dirinya muncul di waktu yang tidak tepat. Terlebih dirinya muncul di kondisi yang bisa membuat Johan dan Nelda berpikiran buruk.
Selena melotot dan berusaha untuk memberikan isyarat agar Edgar pergi dari sana. Namun, semuanya berjalan dengan kacau. Hingga pada akhirnya Edgar mau tidak mau segera membungkuk dan berseru, "Maaf karena aku sudah mencuri cucu kalian! Aku dan Selena sudah menjalin hubungan!"
Selena pun memejamkan matanya. Merasa frustasi saat dirinya mendengar hal tersebut. Ia dan Edgar memang sudah berencana untuk mengakui hubungan mereka pada kakek serta neneknya. Namun, caranya sama sekali tidak sesuai dengan rencana. Ini sangat buruk, hingga Selena kesulitan untuk menelan ludahnya saat sang kakek berkata, "Selena, sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tentu saja tanpa melewatkan satu pun hal yang penting."
KAMU SEDANG MEMBACA
Playing with My Professor
RomanceSemuanya berawal dari Selena yang terus membuat kesalahan demi kesalahan dan semuanya tertangkap basah oleh Edgar. Selena yang pada dasarnya tidak berhubungan terlalu baik dengan Edgar yang tak lain adalah profesor muda di kampusnya tersebut, tentu...
