Selena tiba-tiba segera bersembunyi di balik pot bunga besar yang memang berada di taman. Berusaha untuk menghindar dari Edgar yang memang tengah berjalan-jalan bersama dengan Nelda di taman kediamannya. Selena menghela napas dan menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya yang tertekuk. Sungguh, Selena merasa sangat frustasi dengan situasi yang tengah terjadi ini. Selena pun dengan susah payah melangkah untuk masuk kembali ke rumahnya dan bergegas untuk menuju ke kamarnya.
Selena pikir, jika dirinya memang paling aman tetap tinggal di kamarnya. Sebab jika dirinya masih berkeliaran di luar, ada kemungkinan besar bagi dirinya untuk berpapasan dengan Edgar. Benar, setelah kejadian memalukan sebelumnya, Selena memang berusaha untuk menghindari Edgar. Sayangnya, Edgar yang memang tinggal untuk sementara waktu di sana, membuat Selena kesulitan untuk melakukan hal apa yang ia pikirkan.
"Aish, kenapa aku harus melakukan kesalahan seperti itu?" tanya Selena sembari berbaring di ranjangnya yang terasa sangat nyaman.
Pipi Selena memerah karena dirinya teringat kejadian itu lagi. Di mana Selena melihat Edgar yang tengah telanjang sehabis dirinya mandi. Sungguh, Selena merasa sangat malu karena ia terus saja terbangan dengan hal tersebut. "Sial, kenapa aku terus teringat dengan benda itu?" tanya Selena sembari berusaha untuk mengipasi wajahnya yang terasa panas.
Benar, Selena terus saja mengingat milik Edgar yang menggantung dengan bebas di antara kedua kaki Edgar yang berotot. Benda itu rasanya terus membayang-bayangi Selena, dan terus saja muncul dalam benak Selena. Karena itulah, Selena semakin tidak ingin berpapasan dengan Edgar. Mengingat hal tersebut benar-benar sangat memalukan, karena Selena terus saja terbayang dengan benda besar tersebut.
Benar, Selena menyebutnya besar. Selena memang belum pernah melihat benda itu secara langsung. Kejadian di mana dirinya melihat milik Edgar adalah hal pengalaman yang pertama baginya untuk melihat benda itu secara langsung. Namun, sebelumnya Selena juga sudah beberapa kali melihat bentuk benda tersebut. Baik saat dalam keadaan normal, atau bahkan tengah menegang.
Selena merinding ketika memikirkan sesuatu. "Benda itu bahkan belum menegang, tetapi ukurannya sudah membuatku ngeri. Ba, bagaimana jika benda itu sudah menegang, akan seberapa besar ukurannya?" gumam Selena terlihat begidik dibuatnya.
Lalu sesaat kemudian Selena menampar bibirnya sendiri karena sudah mengatakan hal yang terlalu memalukan. "Bisa-bisanya aku memikirkan hal yang sangat memalukan seperti itu?" tanya Selena tidak percaya dengan apa yang ia pikirkan barusan.
Selena menggelengkan kepalanya lalu beranjak menuju balkon kamarnya. Berpikir jika dirinya menghirup udara yang segar, rasanya itu bisa membantu dirinya untuk berpikir dengan lebih jernih. Hanya saja, begitu dirinya sudah berada di balkon, ia malah bertemu tatap dengan Edgar yang ternyata kebetulan tengah melihat ke arah balkon. Gilanya, bayangan Edgar yang tidak mengenakan pakaian satu helai pun dengan miliknya yang terlihat dengan jelas, seakan-akan semakin jelas di dalam benak Selena.
Hal tersebut membuat Selena berbalik tanpa kata dan kembali masuk ke kamarnya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya berulang kali. "Sadar, Selena! Sadar! Jangan berpikiran gila!" seru Selena frustasi dengan bayangan yang terus datang ke dalam benaknya.
Selena menatap pantulan dirinya dengan wajah yang masih terlihat basah. Selena cemberut dan hampir menangis, karena tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri. "Sial, kenapa aku terus memikirkan hal seperti itu?" tanya Selena tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
***
Edgar meniti tangga untuk kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua. Ini sudah tengah malam, tetapi Edgar baru mau kembali ke kamarnya setelah berbincang dengan Johan dan menikmati suasana malam yang cukup dingin. Sebab mala mini hujan turun dengan deras. Bahkan saking derasnya, suaranya terdengar seperti gemuruh yang membuat suara lainnya teredam dengan sempurna.
Saat sudah berada di ujung anak tangga tertinggi, langkah kaki Edgar terhenti ketika dirinya melihat pintu kamar Selena yang masih tertutup rapat. Edgar bukanlah orang yang kurang peka atau pun orang yang bodoh. Tentu saja Edgar dengan mudah menyadari jika Selena seharian ini memang berusaha untuk menghindarinya. Sepertinya Selena berusaha untuk menghindarinya setelah apa yang terjadi tempo hari. Insiden di mana Selena melihat dirinya yang telanjang, dan sepertinya itu membuat Selena terlalu malu.
Edgar menghela napas panjang. "Padahal aku pikir, aku bisa menggodanya dan melihat beberapa ekspresi yang menghibur. Tapi, ia benar-benar bersembunyi dan menghindariku," gumam Edgar sembari melangkah menuju kamarnya yang memang tidak berada jauh dari kamar Selena.
Edgar masuk ke dalam kamarnya sendiri, dan berniat untuk beristirahat. Namun, tiba-tiba dirinya ingin merokok, dan kebetulan hujan pun berhenti secara mendadak. Membuat Edgar mengernyitkan keningnya. Namun, situasi tersebut menguntungkan bagi Edgar. Sebab dirinya bisa merokok di balkon dengan leluasa. Hanya saja, saat baru saja Edgar baru akan mulai merokok, ia sudah lebih dulu mendengar suara yang sangat samar dari kamar Selena.
Tentu saja Edgar menoleh ke area balkon kamar Selena, dan melihat jika ada cahaya remang dari kamar tersebut. "Apa yang terjadi? Apa dia belum tidur?" tanya Edgar.
Tanpa pikir panjang, Edgar merasa jika dirinya memang harus memeriksa keadaan Selena terlebih dahulu. Jadi, dengan mudah dirinya melompat ke area balkon kamar Selena yang memang menempel dengan balkon kamarnya. Lalu ia pun membuka pintu balkon kamar Selena dengan hati-hati dan membukanya tanpa terlalu berusaha. Mengingat ternyata pintu tersebut tidak terkunci. Namun, Edgar terkejut saat melihat Selena yang ternyata tengah menonton sesuatu yang sangat mengejutkan.
Selena tengah menonton adegan pasangan yang tengah bercumbu dengan panasnya. Terlebih, dengan Selena yang ternyata tengah menyentuh dirinya sendiri untuk memuaskan dirinya sendiri. Karena Selena menggunakan earphone, ia pun terlambat menyadari kehadiran Edgar di dalam kamarnya. Begitu menyadarinya, Selena terkejut bukan main dan hampir menjerit saking terkejutnya.
Namun, Edgar bergegas untuk mendekat dan membekap mulut Selena lebih dulu. Lalu Edgar berbisik, "Jangan berteriak, Selena. Apa mungkin kau ingin membuat orang rumah mengetahui apa yang kau lakukan ini?"
Selena tentu saja berusaha untuk menahan jeritannya. Karena ia tidak mau sampai orang-orang tahu apa yang tengah ia lakukan ini. Namun, di sisi lain dirinya masih belum bisa mengenyahkan rasa terkejutnya karena Edgar kini sudah berada di kamarnya. Terlebih Edgar juga melihat apa yang tengah ia lakukan. Sungguh, ini adalah hal yang sangat memalukan hingga Selena tidak sanggup untuk menatap balik Edgar yang menatapnya dengan begitu lekat.
Belum juga Selena bisa sadar dari keterkejutan dan rasa malu yang ia rasakan. Tiba-tiba ia sudah lebih dulu mendengar suara Edgar yang berkata, "Sepertinya kau kesulitan untuk menyentuh tubuhmu sendiri dan mendapatkan kepuasan."
Edgar pun melepaskan tangannya yang membekap Selena. Hingga Selena yang mendengarnya pun menggeleng dan berkata, "Ti, Tidak. Ini hanya sebuah kesalahan. Ja, jangan berpikir macam-macam!"
Edgar pun melepaskan gips pada tangan kanannya dan berkata, "Tidak perlu malu, Selena. Hal yang wajar diusiamu ini untuk mencoba hal baru terkait gairah dan kepuasan. Kalau begitu, aku sekarang akan membantumu untuk mempelajarinya."
Edgar sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Selena untuk memproses apa yang sudah ia dengar. Sebab sedetik kemudian, Edgar dengan leluasa memberikan sentuhan pada bagian intim Selena. Edgar juga mengecupi leher Selena yang terlihat mulus. Tentu saja semua itu membuat Selena kembali mendapatkan serangan perasaan terkejut yang membuat dirinya pening bukan main. Benar, saat ini Edgar tengah melakukan foreplay pada Selena.
Sentuhan yang diberikan oleh Edgar sebenarnya kurang lebih sama dengan sentuhan yang Selena lakukan sendiri. Namun, entah mengapa rasanya sungguh berbeda. Sentuhan yang diberikan oleh Edgar terasa sungguh luar biasa. Bahkan membuat tubuh Selena mau tidak mau bergetar hebat dan mulai terasa begitu panas. Edgar yang menyadari hal tersebut pun merasa puas dengan hal tersebut.
Edgar pun menyeringai dan berkata, "Sekarang serahkan semuanya padaku, Selena. Aku akan memberikan sebuah pengalaman luar biasa yang belum pernah kau rasakan sebelumnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Playing with My Professor
RomantikSemuanya berawal dari Selena yang terus membuat kesalahan demi kesalahan dan semuanya tertangkap basah oleh Edgar. Selena yang pada dasarnya tidak berhubungan terlalu baik dengan Edgar yang tak lain adalah profesor muda di kampusnya tersebut, tentu...
