Ga boleh cupu, ayo kembali menjadi suhu dan hadapi masalah dengan jentel!
Zea Anantasya Alexander
°°°
Saat ini Zea sedang berada di bandara, setiap Zea melangkah degup jantung dan rasa takut datang menghantui. Zea berjalan sambil melamun, memikirkan apa yang terjadi saat ia sampai di Indonesia, apa Bara serius dengan ucapannya? Bagai mana jika ia bertemu dengan keluarganya. Zea terus berjalan tangan kanannya di genggam erat oleh Bara.
“Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat takut?” Tanya Bara yang sedari tadi memperhatikan keadaan Zea.
“_____” tak ada sahutan.
“Zea ... sayang?” Ucap Bara lagi kali ini ia memberhentikan langkahnya, dan itu membuat Zea ikutan berhenti.
“kenapa berhenti?”tanya Zea.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” bukannya menjawab malah Bara balik bertanya.
“Maksudnya?” Zea menyeritkan alis.
“Kau terlihat tidak baik-baik saja Zee, bisakah kau cerita sedikit tentang keadaanmu? Atau, kau phobiya dengan ketinggian?” Tebak Bara
“Tidak..., tidak apa apa”, jeda tiga detik,“dan aku sama sekali tidak phobiya ketinggian, aku malah ga sabar ingin jalan-jalan ke berbagai tempat di Indonesia!” hibur Zea berusaha tenang dengan keadaan hatinya saat ini.
Bara tau kalau Zea sedang berbohong padanya,Bara mengangguk faham, mungkin Zea butuh waktu untuk terbuka padanya. “oh yah?” ucap Bara dengan intimidasi.
“Kenapa kau terlihat tidak percaya?”
Bara mengangguk kepala dengan wajah meledek, “Aku bisa membuatmu keliling dunia jika kau mau”
“Sebelumnya terimakasih, tapi menurutku itu tidak perlu!”
“Aku akan membawamu keliling dunia, jika kau menjadi istriku” Bisik Bara tepat di telinga Zea. Oh lihatlah pipi Zea sudah seperti kepiting rebus.
“Kata-katamu barusan ga bagus untuk kesehatan jantung ku” Ujar Zea sembari membuang pandangan kemana saja asalkan tidak melihat Bara.
“Lihat pipimu merah, apa kau alergi sesuatu?” Tanya Bara, akh padahal ia tau kalau Zea sedang blush.
“Hah? Tidak!” Sahut Zea dengan menundukkan kepalanya.
“Apa itu sakit” goda Bara lagi sambil mengelus lembut pipi Zea.
“Hey, kenapa semakin merah?!” Jahil Bara lagi.
“Aakh! sudahlah berhenti menggodaku!!” Amuk Zea langsung beranjak pergi meninggalkan Bara.
“HEY! TUNGGU” Teriak Bara mengejar Zea.
Hap!'
“kena kau” Ujar Bara yang berhasil menjangkau tangan Zea.
“Iiii lepaas! aku malu di lihat orang,” Berontak Zea sambil melepas tautan tangan mereka. Bara melihat sekelilingnya ternyata benar, banyak orang yang melihat mereka dengan berbagai macam ekspresi.
“Aku ga peduli .... ”, jeda tiga detik, Bara merangkul pundak Zea menatapnya dengan serius, “jangan anggap aku orang lain di hidupmu, karna kau milikku, dan masalahmu juga masalahku,” Tutur Bara.
Zea menatap Bara dengan teduh, “Jika aku cerita dan kau tau siapa aku ... apa kau akan seperti mereka yang selalu membuang-ku lalu meninggalkanku dan aku akan sendiri lagi” Cecar Zea merasa tak nyaman dengan pembahasan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZeBara
Literatura Feminina"vin ... Maafkan aku, oke aku janji bakal berhenti kerja disitu, asal lo bertahan, kita cuma memiliki satu sama lain, kalo Lo pergi ... gua sama siapa?" lirih Zea menangis tersedu-sedu. "lo pasti bakal dapat cowok yang lebih baik dari pada gua" ucap...
