Zea meremas ujung bajunya, badannya bergetar menahan tangis. Kejadian malam itu, kejadian yang ingin sekali Zea lupakan, ingin sekali Zea menghapus memori tentang kejadian malam itu. Zea mencoba melupakannya tapi kejadian itu terus berputar di otak, layaknya trailer di sebuah filim,Membuatnya takut dan trauma.
°°°
Flashback on...
Bandung, 2020
Cklek'
Suara pintu terbuka dari kamar Zea, jam sudah pukul 00.32 WIB. Zea yang sudah tertidur menjadi terusik, perlahan Zea bangun dari tidurnya, melihat siapa yang masuk ke kamarnya. "Kak? Kau sudah pulang?"tutur Zea sembari mengumpulkan nyawanya.
Dia Agler Alexander, kakak sulung Zea. "Kenapa kau bangun?"sahut Agler dengan nada seperti mendengkur.
"Kau mabuk kak?" Zea yang sadar pun terkejut, melihat Agler mendekatinya, Zea menjadi takut dan was-was.
"Hay, kesayangan Agler?" Bisik Agler tepat di telinga Zea. Agler memandang bibir ranum Zea, Zea yang di tatap seperti itu menjadi takut dan menunduk.
"Ke ... kenapa kak?" Gugup Zea was-was.
Agler tidak menjawab pertanyaan Zea, ia langsung mendongakkan dagu Zea Pela, lalu mencium bibir Zea.
Deg!
Zea tertegun, jantungnya seakan-akan berhenti berdetak. Entah kenapa suasana pun seperti berhenti berjalan. sekujur tubuh Zea terasa kaku tak bertenaga.
Zea mencoba memundurkan kepalanya berusaha melepas tautan bibir sang kakak, tapi dengan sigap Agler menahan kepala Zea.
10 detik..
15 detik...
20 detik....
Tak ada perubahan gerak dari keduanya, Zea yang Bingung harus bersikap seperti apa dan Agler yang sibuk membuat Zea membuka mulutnya. Tak kehabisan akal Agler mengigit kuat bibir bawah Zea hingga berdarah, namun Zea tetep kekeh membungkam bibirnya.
Agler melepas tautan bibirnya dengan Zea, dengan kedua tangan yang masih memeluk erat tubuh mungil itu. "Kuat banget kesayangan Agler, Hmm?" Ucapnya dengan ibu jari yang mengusap kasar bibir Zea yang berdarah.
Sungguh ... Zea bingung dengan tingkah sang kakak yang jauh berbeda dari kemarin, kenapa kakaknya seperti berbeda? Zea bingung sungguh, dan ia juga takut saat tangan sang kakak mulai meraba perut ratanya.
"Ka..kak lepas, Zea ga nyaman"ucap Zea dengan Nanda gemetar.
Agler menghentikan aktivitasnya, lalu mencengkram rahang Zea dengan kuat."ga nyaman, Hmm?" Ucap Agler dengan geram, "Selama ini kakak sayang sama lo, kakak perhatian sama lo, LO BILANG GA NYAMAN?" Bentak Agler tepat di wajah Zea.
Tangan kanan Agler menggenggam kuat tangan kiri Zea, sangat kuat. Rasanya tulang jari-jarinya akan patah, namun yang bisa Zea lakukan hanya meringis sambil menangis, "Untuk apa Lo cari pacar, HAH! Apa sayang kakak ga cukup buatmu? KAMU PUNYA KAKAK, KAMU MILIK KAKAK. FAHAM!" Tutur Xavi dengan emosi yang beledak.
Sekujur tubuh Zea begetar hebat, ini pertama kalinya Zea di bentak oleh sosok yang paling ia sayang, sosok yang dulu mau mendekatinya ketika seluruh keluarga menjauh, sosok yang dulu mau mengajaknya berbicara, ketika keluarganya mengabaikannya, sosok yang dulu membuat hidupnya sedikit berwarna, ketika keluarganya hanya memberi warna abu-abu gelap.
"Kak, hiks... Ma.af" lirih Zea menahan rasa sakit di kedua pipinya, karena di cengkram erat oleh Agler.
"Akhh ... Kak, sak.it" Agler menjambak kuat rambut panjang Zea, karena belum puas ia menambah tamparan di kedua pipi Zea. Melihat Zea yang merintih kesakitan membuat Agler merasa senang.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZeBara
Chick-Lit"vin ... Maafkan aku, oke aku janji bakal berhenti kerja disitu, asal lo bertahan, kita cuma memiliki satu sama lain, kalo Lo pergi ... gua sama siapa?" lirih Zea menangis tersedu-sedu. "lo pasti bakal dapat cowok yang lebih baik dari pada gua" ucap...
