Pada awalnya Kazuha merupakan seorang anak yang ceria dan hangat pada siapapun namun itu dulu. Sejak sang mama sudah tiada tiga tahun lalu Kazuha tidak pernah lagi menunjukkan wajah ceria dan sikap hangatnya pada siapapun.Sekarang hanya ada Kazuha yang sibuk dengan dirinya sendiri tidak memperdulikan siapapun bahkan pada papanya sendiri.
"Zuha, Boleh papa masuk??" Tanya papa dari balik pintu kamar namun sang anak yang berada di dalam kamar tidak menjawab perkataan tersebut.
"Nak, papa ingin bicara sama kamu. Boleh papa masu–" pintu itu sudah terbuka dan menampilkan seorang gadis cantik dengan wajah datarnya.
"Papa ingin bicara sama kamu." Helaan nafas keluar dari mulut Papa.
"Hm.. " Hanya deheman yang keluar dari gadis itu.
"Ayo turun kita bicara empat mata di bawah."
"Disini aja." ucap Kazuha tanpa ekpresi.
"Papa kangen ngobrol berdua sama kamu, Ayo kita ngobrol-ngobrol di bawah sekalian papa ingin beritahu kamu sesuatu." Bujuk papa
Memang sudah lama sekali keduanya tidak mengobrol berdua dengan intens. Ini semua karena sang papa yang jarang dirumah dan Kazuha yang selalu menolak untuk berbicara serius dengan sang Papa.
"Aku ga punya banyak waktu ada tugas yang harus aku selesain." Alasan yang sering sekali diucapkan Kazuha jika di ajak bicara.
Papa hanya bisa menghela nafasnya berkali-kali, begitulah Kazuha anaknya itu benar-benar sangat berubah sejak tiga tahun lalu.
Segala cara telah dilakukan papa untuk membuat anak satu-satunya itu kembali ceria pada sediakala hingga ke psikolog dan lain-lain tapi tetap saja Kazuha tidak berubah.
Kehilangan seorang ibu benar-benar bisa merubah kehidupan seseorang.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini, Nak?? Hidup ini terus berjalan, perjalanan hidup kamu masih panjang. Masa lalu biarlah berlalu, semua itu musibah kamu harus terima takdir kamu."
"Udah ngomongnya??" Sahut Kazuha menatap datar papa
Lagi dan lagi sang papa hanya bisa menghela nafasnya.
"Sebenarnya papa ingin memberitahu kamu soal rencana papa ingin menikah lagi."
Bruk
Pintu kamar tertutup begitu saja dengan kencang.
"Kenapa kamu jadi seperti ini, Zuha. Papa benar-benar tidak tahu lagi harus ngadepin kamu kaya gimana." Lirih sang papa
Sang papa tau pasti Kazuha saat ini sangat marah pada perkataannya barusan. Sedangkan Kazuha didalam kamar hanya menatap tajam pada figura foto di atas mejanya dan mengambil figura foto tersebut dan membuangnya ke tong sampah yang berada di dalam kamarnya.
*
Dilain sisi,
"Mama ga lagi bercanda kan??"
"Enggak, Nak. Mama harap kamu bisa menerima kabar ini dengan baik. Tapi Mama ga maksa kamu buat setuju dengan pernikahan ini, kalo kamu nolak dengan adanya pernikahan ini mama akan menuruti kemauan kamu."
"Mama gamau kamu terbebani karna ada nya pernikahan ini, kebahagiaan kamu tujuan utama mama"
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut sang mama membuat gadis dengan potongan rambut pendek hanya terkekeh pelan.
"Chaewon setuju kok, Ma. Bahagia Mama bahagia Chaewon juga, itu hak mama mutusin buat nikah lagi." Chaewon tersenyum manis pada sang mama yang sangat ia sayangi.
"Makasih ya kamu udah setuju. Mama tuh udah overthinking banget kamu ga setuju."
"Kaya anak jaman sekarang aja deh mama pake segala overthinking hahaha"
"Emangnya cuma anak jaman sekarang doang yang bisa overthinking orang tua kaya mama juga bisa overthinking tapi bedanya ada ibadah dan usaha."
"Kalo anak jaman sekarang kan cuma bisa overthinking tapi usaha dan ibadah nothing." Ucapan mamanya itu sukses bikin Chaewon tertawa.
"Bisaa aja si mama." Chaewon tertawa lalu memeluk mama.
Anak dan ibu itu memang terlihat sangat dekat, Bagi Chaewon mamanya itu adalah hidupnya begitu sebaliknya. Chaewon ga akan tau gimana kalo hidupnya tanpa ada sang mama, sejak sang papa memilih pergi bersama selingkuhannya membuat Chaewon semakin ingin melindungi sang mama.
Sebenarnya Chaewon ragu untuk menyetujui pernikahan sang mama tapi karna chaewon gamau kecewain mama jadinya dengan sedikit berat hati chaewon menyetujuinya.
Chaewon masih agak trauma dengan kejadian dulu sang papa selingkuh.
"Besok kita ketemu sama calon papa kamu ya." Ucap mama
"Iya, Ma."
Tbc
