Warning 🔞
Dedek-dedek Emeshh silakan menjauh. Lapak ini mengandung adegan 1821 yang berbahaya bagi kesehatan otakmu.
Diselingkuhi pacar, dipecat dari pekerjaan, pembayaran uang semester jatuh tempo, dan diusir dari kosan karna sudah lama menunggak...
Selain menjadi jalang pemuas nafsu, Vio tau tak ada ikatan apapun yang bisa membuatnya berhak mengklaim Dias sebagai miliknya. Pria itu bisa kapan saja berhenti jika sudah bosan, lalu menemukan wanita lain yang sepadan dengannya.
Sebelum itu semua terjadi, sebisa mungkin Vio harus berusaha mengontrol perasaannya. Ia tidak boleh jatuh dalam pesona Dias, apalagi sampai mencintai pria itu. Ia juga tidak boleh terlena, termasuk pada kemewahan yang selalu pria itu berikan padanya.
Seperti saat ini, ia tengah berdiri di sebuah unit apartemen mewah yang dihadiahkan Dias padanya. Karena kemarin ia meminta pindah dan ingin kembali kos, pria itu tidak setuju dan berkata akan mengijinkan Vio keluar dari rumahnya dengan sebuah syarat, ia harus tinggal di apartemen yang Dias berikan.
Tentu awalnya Vio tidak setuju. Ini terlalu berlebihan dan diluar ekspektasinya, dia tidak ingin terlalu banyak menerima. Meskipun sebenarnya ia memang menikmatinya. Tapi itulah yang ia takutkan. Karna segala kenikmatan yang ia rasakan sekarang, semua ada batas waktunya.
Namun tampaknya Dias tidak setuju. Pria itu tetap kekeh dengan keputusannya untuk membiarkan Vio tinggal di unit yang ia beli ini. Akhirnya Vio pun tak punya pilihan lain, ia terpaksa menerima karna tak ingin mengambil resiko kembali tinggal di rumah Dias dan merasakan perasaan tidak enak setiap kali melihat wajah Cleo.
"Om, apa ini nggak terlalu berlebihan?" tanya Vio pada Dias saat mereka sedang berkeliling mengobservasi ruangan apartemen itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Vio sudah sangat meminta agar Dias tidak terlalu berlebihan. Ia hanya ingin tempat tinggal kecil yang sederhana, dan mungkin menurut Dias inilah yang paling sederhana. Tapi tidak bagi Vio, tetap saja apartemen itu terlalu berlebihan jika dibandingkan dengan kamar kosannya yang lama.
"Aku merasa nggak pantas tinggal di sini. Ini sangat-"
"Saya akan sering datang kemari."
Ucapan Vio terpotong karna mendengar pernyataan Dias. Ia terdiam, lalu menatap pria itu sambil menggigit bibir bawahnya.
"It-itu artinya...."
Yah, tentu saja tanpa pria itu menjawab, hanya dengan tatapannya, Vio mengerti maksud Dias.
Selalu ada bayaran atas semua yang diterimanya bukan?
"Saya pikir memang ada baiknya kamu tinggal di apartemen. Jadi kita nggak harus selalu ke hotel dan membuat Cleo curiga. Di sini lebih aman," ucap Dias sambil menatap Vio tenang, membuat Vio mau tak mau berusaha menampilkan senyum, meski sesuatu di hatinya terasa tak nyaman.
"Iya, Om," pasrahnya pada akhirnya. Lalu ia mengangkat kaki, berjalan menuju sebuah pintu yang ia yakini sebagai pintu kamarnya.
Ia masuk ke dalam, menatap ruangan yang di dominasi warna putih dan abu-abu itu dengan tatapan takjub. Sebuah ranjang terletak di tengah ruangan, tepat di hadapannya terdapat tv besar dan juga meja nakas. Tampak simpel, tapi saat ia membuka pintu walk in closet, ia terperangah melihat bagaimana ruangan itu kini sudah dipenuhi oleh banyak barang. Pakaian, tas, sepatu, semuanya serba bermerek. Bahkan ada kosmetik dan juga skincare.