latibule: 5. i like to go to school

65 13 0
                                    

Ekspektasi Ryujin dipatahkan lagi. Tidak heran, sih. Ia hanya keseringan berharap dan tidak sudi membiasakan diri pada kenyataan yang senantiasa berlainan saja, makanya sering merasa kecewa.

Well, tapi bukankah berharap pada sesuatu yang tidak pasti adalah naluriah manusia? Iya. Begitu.

Mengayunkan kakinya di ambang pintu yang menganga, gadis itu mengeratkan genggamannya di tali ransel sembari celingukan. Kediaman yang bakal ditempatinya mulai sekarang ternyata bukan lah rumah lama mereka seperti apa yang ia bayangkan, melainkan hunian masa kecil Chaeyoung yang merupakan peninggalan orang tuanya.

Dulu, Ryujin pun kerap dibawa untuk mengunjungi neneknya dan menginap barang semalam-dua malam. Karenanya, rumah itu tidak sebegitu asing bagi memorinya, walaupun ada beberapa bagian yang pasti sudah direnovasi dan jadi berbeda.

Chaeyoung menghela Ryujin ke kamarnya yang telah disiapkan sejak jauh-jauh hari.

Begitu daun pintu dibuka, matanya praktis disambut oleh ruangan bernuansa gradasi keunguan dengan setelan pelapis kasur dan gorden di sisi jendela yang berwarna kuning lembut, bebungaan beragam bentuk dan ukuran mekar rada-rada samar di setiap inci dinding, serta antariksa terlukis di plafon; persis seperti kamar masa kecil yang ia rancang dan orang tuanya wujudkan tatkala Ryujin memberanikan diri untuk tidur sendirian di usia empat tahun. Lemari pakaiannya bahkan sama; ada stiker kepala anjing yang tertempel di tepi atas cermin sebagai buktinya.

Sekonyong-konyong, Ryujin dapat melihat keluarganya versi beberapa tahun lalu di dalam ruangan tersebut.

Dirinya yang bersusah payah memasukkan bantal ke dalam sarung, Taehyung yang merangkai rak di lantai, beserta Chaeyoung melukis bulan sabit menggunakan bantuan kursi sebagai penunjang.

Papanya yang menyandarkan kepala di betis si Mama mendapat respon jenggutan di rambutnya gara-gara kursi yang oleng. Pria itu memekik, sementara istrinya balas bersungut.

Taehyung lalu menggoyangkan penopang badan Chaeyoung dengan sengaja sebagai bentuk balas dendam; gantian Chaeyoung yang menjeritkan nama suaminya supaya berhenti. Tentu saja tidak diindahkan. Si Papa justru meminta bantuan anak mereka untuk melancarkan aksi jahilnya.

Mendadak, Ryujin jadi penasaran, apakah ibunya juga merasakan hal yang sama saat ia menyusun kamar itu? Setidaknya, sedikit? Seperti deja vu, mungkin. Maniknya melirik sang ibu dari sudut mata.

"Beristirahatlah, dulu. Kita susun barangmu setelah makan malam, nanti. Oke?"

Entah lah. Wanita itu tidak terbaca. Ryujin mengikuti kepergian Chaeyoung melalui pandangannya, sebelum melorotkan tas sekolah di punggung, menanggalkan jaket, dan melempar badannya yang masih berbalut seragam ke atas kasur.

Netranya nyalang ke arah langit-langit, sementara benaknya bekerja keras untuk memprediksi kehidupan macam apa yang bakal ia hadapi mulai besok pagi; lantaran jujur saja, ia tidak pernah menyukai lingkungan baru. Tempat asing dan orang tidak dikenal bukan perpaduan yang mengasyikan baginya.

Tuh, belum-belum, perutnya sudah melilit, berikut dengan kerongkongan sekering padang pasir, dan kepala berdenyut nyeri.

Ryujin melentingkan tubuhnya supaya beranjak dari kasur. Ia berencana menyatroni dapur untuk berkenalan dengan kulkas dan rak kabinet di sana. Siapa tahu mereka bisa dekat dan saling jatuh cinta.

Namun, baru melewati ruangan sebelah yang mungkin adalah tempat kerja ibunya; menilik berdasarkan setumpuk kain yang teronggok di sisi maneken, Chaeyoung yang mengobrak-abrik isi tas jinjing di meja dengan tekun, keburu mengalihkan atensinya.

Ia bertanya, "Mama sedang apa?"

Chaeyoung sempat mendongak. "Sedang mencari selembar bloknot yang diisi desain bikinan Mama, kemarin. Niatannya, mau dipindahkan ke buku. Tapi tidak ketemu," jawabnya, seraya mengeluarkan apa-apa saja yang tersimpan di dalam tas.

keranjang sampah: dibuang s-ayankTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang